Sabtu, 04 Juli 2026

My Beautiful Mind - Part 2

 

           Setelah saya merasa stabil saya melamar pekerjaan sesuai dengan pengalaman saya di dunia ZISWAF dan kemanusiaan PKPU Purwokerto, yang pada saat itu dipimpin oleh kakak senior saya di kampus UNSOED mas Priyambodo. Saya membantu bekerja di bagian fundraising ZISWAF selama dua tahun. Pada saat itu terjadi pergantian pimpinan cabang. Dari mas Priyambodo ke mas Koko (Khotim). Dan mas Priyambodo mendapat tugas untuk menjadi pimpinan cabang PKPU Sumatera Barat. Saat kepemimpinan Pak Koko saya ditawari untuk melanjutkan kuliah S2 dengan syarat melanjutkan studinya di UNSOED tidak di UNDIP yang dekat dengan kantor dimana saya bekerja. Oh ya, saat bekerja di PKPU Purwokerto saya berobat sendiri dengan biaya mandiri dengan salah satu dokter yang direkomendasikan oleh salah satu teman saya. Alhamdulillah kehidupan saya saat itu baik – baik saja. Saya bisa bekerja, saya bisa hidup normal, saya bisa berobat sendiri secara mandiri. Qodarulloh Alloh memberikan saya ujian penyakit yang lain. Ada nyeri yang berkepanjangan pada tulang belakang saya sehingga saya tidak sanggup bekerja di PKPU Purwokerto. Saya mengajukan resign dan beristirahat di rumah kakak dengan dibarengi berobat dan fisiotheraphy. Saat itu dokter menvonis saya syaraf kejepit. Aktivitasku saat itu hanya bermain dengan Hafsah ponakanku dan saat sore hari mengajar TPA (Taman Pendidikan Al qur’an ) di komplek perumahan kakak dengan diantar jemput menggunakan motor karena untuk jalan saja saya kesusahan.

        Pada suatu hari, Ayah hafshah (kakak ipar) mendapatkan promosi tugas pekerjaan di Mamuju Sulawesi Barat. Kakak ipar saya berkerja di BPS (Biro Pusat Statistik) yang mengharuskan karyawanya untuk berpindah – pindah tugas. Ini adalah promosi  Ayah Hafshah yang ketiga kalinya, setelah kedua promosi sebelumnya Ayah Hafsah tolak. Dengan pertimbangan bahwa ini ketiga kalinya maka Ayah Hafshah menerima tawaran itu. Karena jika tidak maka untuk selamanya Ayah Hafshah tidak akan mendapatkan promosi lagi. Akhirnya Ayah Hafsah berangkat terlebih dahulu ke Mamuju Sulawesi Barat, dan saya, Bunda dan Hafshah masih di Purwokerto lantaran tanggung akan sekolah Hafshah yang masih Tk dan kurang setengah tahun lagi Hafshah masuk SD. Dari Mamuju Sulawesi Barat Ayah Hafshah mengabarkan bahwa hanya ada lima dokter spesialis dan tidak ada dokter spesialis syaraf.  Maka akhirnya aku tidak dibawa ke Mamuju Sulawesi Barat melainkan aku dititipkan di tempat Bu lek Tinah di Magelang untuk melanjutkan pengobatan. Akhirnya saya dan kakak berpisah. Saya berobat di Magelang dan keluarga kecil kakak ke Mamuju Sulawesi Barat. Alhamdulillah tidak butuh waktu lama pengobatan saya berhasil. Kurang lebih selama  setengah bulan saya dinyatakan sembuh oleh seorang dokter spesialis syaraf senior di daerah Muntilan dan dengan vonis bukan syaraf kejepit melainkan scoliosis vertebrate. Jadi diagnose dokter di Purwokerto selama itu ternyata salah. Dokter menyarankan untuk operasi jika saya bersedia, namun karena skoliosisnya di tulang belakang maka keluarga saya tidak menyetujuinya dikarenakan hasil operasi tersebut fifty – fifty bisa sembuh atau kalua tiudak berhasil bisa lumpuh. Dokter tidak memaksa tapi saya hanya disarankan agar tidak terlalu kecapaian saat beraktifitas sehari – hari.

          Setelah saya merasa stabil, saya melamar pekerjaan kembali yang sesuai dengan pengalaman saya. Kebetulan di PKPU Magelang sedang membutuhkan staff pengganti yang sedang cuti melahirkan selama setengah tahun karena ada dua orang yang cuti. Setelah setengah tahun saya ditawari untuk menjadi staff di PKPU Yogyakarta namun keluarga saya tidak mengijinkan dikarenakan pertimbangan jangkauan yang luas areanya di Yogyakarta. Saya kembali melamar di Laz dkd di Magelang. Selain bekarja di LAZ DKD saya juga berkhidmah untuk turut serta mengurusi anak yatim di bawah organisasi Pelangi Nusantara. Karena kesibukan pekerjaan dan aktifitas organisasi saya ternyata tidak kuat dan saya kambuh. Saya dikirim di tempat peristirahatan untuk orang – orang yang terkena ganguan kejiwaan di sekitar RSJ tapi bukan di RSJ namun yang punya tempat peristirahatan itu salah satu dokter di RSJ. Setelah rehat setengah bulan ditambah rehat setengah bulan di rumah Bu lek Tinah di Magelang, kakak memutuskan untuk mengirim saya ke pesantren. Dengan harapan jika saya di pesantren saya mempunyai aktivitas yang positif yang bermanfaat buat saya sendiri syukur juga bagi orang lain dan saya jika sudah merasa capek bise istrirahat serta saya tidak membebani bu lek dengan dititipi saya. Kakak mencari pesantren yang bisa saya singgahi. Ternyata tidak mudah untuk mencari pesantren lantaran usia saya saat itu bukanlah usia yang muda untuk masuk pesantren. Umumnya orang masuk pesantren itu lulus SD atau usia SMA. Setelah ditolak oleh lima pesantren di Magelang, akhirnya kakak mendapat informasi adanya pesantren di kulonprogo dan saya akhirnya nyantri disana. Saya nyantri disana selama empat tahun. Yaitu di pondok pesantren Nurul Haromaian.

         Saya mendaftar santri biasa yang masuknya santri khubbar. Oleh Bu nyai Siti Mardhiyah saya ditugaskan untuk berkhidmah di sekolah, karena pesantren juga memiliki sekolah umum di pagi hari. Saya mengajar Madrasah Ibtidaiyah disana. Untuk kegiatan keseharian saya mengikuti kegiatan pondok layaknya santri umum yang seusia SMP-SMA,  saya juga mengikuti kegiatan binadhor dan kegiatan di majelis. Saya tidak minum obat dan tidak berobat jalan, al hasil saya kambuh dan muncul halusinasi. Halusinasi saya yang muncul seperti sedang diuji sejauh mana rasa cinta saya kepada dua orang yang pernah mengisi hati saya. Mana yang lebih banyak, kepada si A atau kepada si B. Namun dalam keyakinan saya si B turut andil dalam hadirnya halusinasi saya pada saat itu. Sepertinya dia menyadap  Hp saya.Hal itu berdasar karena saya menjalin komunikasi kembali dengan si A semasa di pondok. Mungkin si B penasaran. Al hasil ya memang saya lebih mencintai si A ketimbang Si B ditandai dengan adanya bros bunga warna hijau yang merupakan warna favorit si A. Saat kambuh saya dibawa ke RSJ di Magelang yang merupakan rekanan pondok. Saya istirahat di sana selama dua minggu Setelah itu saya kembali ke pondok namun bukan ke pondok biasa tapi ke pondok rehab. Dan saya salah satu santri pondok rehab tersebut. Di situ ada pengurus yang merawat pasien. Bagi pasien dengan kondisi stabil seperti saya masih diperbolehkan untuk beraktifitas dan mengikuti kegiatan pondok seperti biasa namun dalam pengawasan pengurus rehab. Saya kembali berobat dan rutin minum obat sehingga saya tidak kambuh.

             Pada tahun 2024 saya menikah, tepatnya tanggal 20 April. Dalam lubuk hati saya sebenarnya saya sudah ikhlas jika saya tidak menikah seumur hidup saya. Tapi Allah maha baik, Alloh mengirimkan jodoh untukku. Suka dan duka dalam pernikahan sudah saya alami kurang lebih selama dua tahuan. Saya mencoba untuk tidak mengkonsumsi obat. Ternyata niat itu hanya bisa saya tunaikan selama setahun tiga bulan. Qodarulloh saya kambuh lagi untuk keenam kalinya. Masih sama dengan misi – misi saya setiap kambuh yaitu misi freemason dengan berbagai tugas.

               Halusinasi saat itu yang pertama adalah tentang politik di negeri ini. Saya bertugas untuk menyeleksi kandidat – kiandidat politikus yang akan bersinar di negeri ini. Adapun untuk memenangkan yang bersinar adalah melalui challange. Challenge tadi dibuktikan dengan memasak dan makanan. Saya makan gudeg wijilan untuk Pak Anis Baswedan yang asli Jogja. Saya memasak udang galah asam manis yang didatangkan dari Jawa Timur kebetulan wali siswa saya mengoleh – olehi saya sewaktu beliau pulang kampung. Udang asam manis tadi untuk AHY. Saya rasa karena jumlah politikus yang berkompetisi tidak banyak maka saya merasa tidak banyak saingan.  Mau memasukkan si B nah si B tidak pernah keluar di kancah politik tanah air ya pasti suaranya untuk AHY.  Selain menyeleksi politikus saya juga diberi gambaran tentang Indonesia di tahun 2045. Toto, titi, tentrem kerto raharjo dengan bendera Indonesia berkibar- nkibar di negara – negara Eropa. Selain gambaran negara saya juga bertugas mengubah freemason dari freemason hitam menjadi freemason putih. Hal itu digambarkan dengan halusinasi saya dimana saya melakukan monolog dihadapan para agen freemason di seluruh dunia, tentu saya menggunakan Bahasa Inggris dengan server melalui hati masing – masing. Saya melakukan monolog pada malam hingga dini hari di rumah Bu lek Magelang selama satu jam lima belas menit. Monolog yang saya sampaikan sempat direkam oleh sepupu saya mbak Sari. Isi monolog tentang loneliness tapi tidak merasa kesepian meskipun sendiri. Juga dipadukan dengan lagu dan gerak tari. Wah kalua kalian melihatnya tentu menjadi tontonan yang sangat menarik. Itu juga sebagai kompas penentu arah kedepannya saya mau jadi apa? Apakah saya bisa menjadi seperti Cak Nun? Sehingga monolog itu sebagai lahan ujiannya apakah saya punya jiwa seni atau tidak dan juga sebagai budayawan, apakah saya mampu atau tidak? Selain menjadi seperti Cak Nun saya juga diberi pandangan untuk bisa menjadi seperti mbak Alissa Wahid. Yang berjuang melalui NU dan juga Gusdurian. Pada saat saya halusinasi ada dua agenda yang bersamaan yang sangat ingin saya hadiri. Yang pertama milad Cak Nun dan yang kedua adalah sarasehan yang dihadiri oleh mbak Alissa wahid sebagai salah satu pembicaranya. Harusnya saya memilih, tapi saya lupa ada kendala apa sehingga saya malah tidak ahadir pada kedua acara tersebut. Kedua acara itu ada pada hari dan jam yang sama namun beda tempat. Saya jadi merenung, apa iya sebuah amanah itu diperebutkan dengan sebuah challenge seperti itu? Rasannya aku seperti berlomba dengan orang lain. Ada orangn lain diluar sana yang sedang berlomba denganku untuk meraih challenge – challenge mereka sendiri.

           Dulu saya pernah tidak ikut challenge. Saat itu saya kambuh keempat kali.  Challenge nya adalah memasak mie godok jawa dengan telur puyuh. Bayanganku adalah memasak untuk Gibran, ditandai dengan telur puyuh berarti telurtnya sangat kecil alias sangat muda. Saya ingat di rumah Bu lek saat itu tidak ada motor dan challange saat itu datang sekitar jam 11.00 siang, bahan – bahan untuk memasak itu sudah tidak ada di pasar. Mungkin harus mencari telur puyuh di Super indo di kota Mgelang dan akhirnya saya mundur tidak ikut challenge. Tergambar olehku Prof Nazarudin Umar Menteri agama menyeru ayo ikut jangan Cuma jadi penonton! Itu tergambar pada halusinasiku yang ke-enam terakhir kmarin maka sepertinya saya terlihat bersemangat mengikuti challenge dan semua challenge saya ikuti. Ada lagi yang menurutku menarik yaitu peristiwa ulang tahun naga putih pada kalender Cina. Saya benar – benar berada di depan salah satu rumah makan sea food dimalam hari sekitar pukul 23.00 malam milik saudara teman saya di Jogja. Disana saya mau menikah dengan si B versi freemason. Dalam halusinasi saya ,ayah si B adalah ngarso dalem yang menikah dengan entah isteri ke berapa yaitu Ibunya Si B. Saya duduk di kursi di halaman rumah makan sea food tersebut dan melihat di langit yang cerah gugusan awan putih yang berbentuk naga di langit yang cerah. Jadi tepat bahwa malam itu adalah ulang tahun naga putih dalam kalender cina. Tetapi ngarso Dalem tidak datang karena sedang mengadakan pertemuan dengan Nyai Roro Kidul terkait dengan pembaharuan perjanjian dengan beliau. Dalam gambaranku, aku berperan seperti Nyai roro Kidul di dunia manusia. Ada yang menggelitik saya juga, bahwa ternyata di dunia nyata ada yang tahu bahwa kami sedang berkompetisi memasak. Pada saat belanja di pasar Giwangan ada ibu – ibu yang nyeletuk bilang begini “ Wah kemayu kabeh.” Karena pada saat ke pasar itu saya menggunakan make up lengkap tapi tipis mungkin kompetitorku juga demikian. Honestly saya hanya menebak – nebak siapa rival saya, tanpa tahu pasti dia siapa yang pasti dia agen yang lain. Ada hal yang menguatkanku juga bahwa ada orang lain yang melakukan aktivitas challenge – challenge seperti aku terlepas bahwa dia seorang penyintas skezofrenia seperti akua tau bukan. Buktinya ketika aku pulang dari pondok Nurul Haroimain ada satu tas diatas motor saya yang isinya hp jadul, lipstick, handbody, cairan pembersih kaca mata yang dimasukkan dalam satu tas kecil yang bertuliskan “ Forever Young.

         Ada yang jenaka yaitu bercandanya ngarso Dalem terkait nhubungan swami isteri yang selalu membuatku tersenyum  saat mengingatnya, namun saya tidak akan share disini. Itu saja kisahku. Ada banyak persepsi orang – orang terkait dengan saya, saya sadar bahwa I’m not ok but it’s ok. Jadi saya tidak masalah dengan kondisi saya sebagai penyintas skizofrenia. Saya hanya perlu tumbuh dengan apa yang saya bisa bahkan mungkin bagi orang lain pencapaian itu biasa saja namun saya akan menyikapi setiap pencapaian dengan kaca mata saya. Ya bahwa tumbuhku adalah sebagai seorang skizofrener yang memang bukan orang seperti biasa. Menjadi ordinary person juga tidak mengapa yang penting terus tumbuh dan berkarya. Bagi teman – teman yang mau berbagi cerita yang mirip – mirip dengan saya saya persilahkan dengan harapan kita bisa sharing terlebih jika kalian punya pengalaman juga tentang challenge – challenge yang aku alami, barang kali kamu juga mengalaminya. Yuk sharing…

 

My Beautiful Mind - Part 1

 

Cerita ini berawal pada tahun 2011. Saat saya masih bekerja di Jakarta sebagai salah satu manajer di sebuah Yayasan besar di Indonesia. Saya selalu berada dalam lingkup kecil karyawan yang tumbuh seperti keluarga. Paling banyak hanya dua belas karyawan saja di kantor kami. Suasana kekeluargaan yang kami bangun sangat terasa, kami seperti keluarga dimana satu karyawan dengan karyawan yang lain sangat dekat seperti layaknya sebuah keluarga.  Hingga pada masa itu kami merekrut satu karyawan untuk bagian program. Karyawan kami yang baru mempunyai latar belakang pernah bekerja pada salah satu perusahaan BUMN besar di negeri ini. Beliau juga termasuk lulusan terbaik di salah satu Universitas negeri ternama di negeri ini. Sebenarnya niat beliau baik, ingin mengajarkan kepada saya seperti apa praktik office politik di perkantoran. Cara beliau mnengajarkan adalah melalui study kasus. Misalnya untuk mengajari praktik adu domba maka dibuatlah karyawan dikubu – kubukan atau dikelompok – kelompokkan kemudian saling menyerang. Setelah itu diberikan contoh praktik menjilat atasan atau cari muka kepada atasan, kemudian praktik mengeklaim pekerjaan teman sebagai hasil pekerjaannya dan lain sebagainya.

            Namun proses pembelajaran office politik itu sangat banyak study kasusnya dan pekerjaan saya juga saat itu terbilang banyak sehingga fokus pikiran saya terbelah. Finally saya menderita depresi. Pada saat itu kakak saya (Bunda)  dipanggil oleh salah satu direktur saya dan diberitahukan bahwa kondisi saya aneh dan direkomendasikan untuk dibawa kepada salah satu psikolog yang skaligus ustadz di Jakarta. Psikolog ini juga merupakan salah satu guru besar di Universitas Indonesia dan sangat terkenal di negeri ini. Akhirnya bunda membawa saya untuk periksa kepada psikolog ini. Sampai ruangan beliau, sebelum saya duduk, saya dipersilahkan untuk mengambil buku – buku tulisan beliau terkait penyakit – penyakit psikologis yang ada. Ada empat buku yang saya ambil. Psikolog itu menyarankan kepada saya untuk mengambil buku yang banyak dan dibagikan kepada teman – teman saya secara gratis.  Sesi wawancara atau mungkin lebih tepatnya diagnosa dimulai. Saya menceritakan apa yang saya alami. Dan pada saat awal pertama kali saya mengalami kejadian itu saya tidak bisa tidur dalam kurun waktu satu minggu. Dengan mengangguk – angguk dan tersenyum psikolog itu membuka obrolan dan dikatakan oleh beliau bahwa saya menderita skizofrenoia dan juga ada unsur dibuat / disalahi oleh orang lain. Itu alasan kenapa saya direkomendasikan untuk berobat kepada psikolog yang juga seorang ustadz karena dengan keustadzannya ini beliau mampu melihat juga gejala yang dari non medis ( dibuat oleh orang ). Pada akhirnya psikolog ini menutup dengan pernyataan yang menenangkan . Apapun yang dialami sudah seizin Alloh SWT bahwa saya sakit adalah benar dan juga bahwa saya dibuat oleh orang atau ada gangguan non medis juga benar. Caranya untuk menyembuhkan adalah dengan minum obat jiwa serta dengan mendekatkan diri kepada Alloh caranya dengan membaca doa sebelum minum obat, ada doa khusus yang diberikan oleh psikolog itu. Selain itu saya juga dianjurkan untuk tilawah QS Al Baqarah setiap hari atau ketika sedang udzhur ( berhalangan  dengan memutar murottal QS Al Baqarah.

            Kenapa saya menyebutnya dengan beautiful mind? Ya karena skizofrenia itu salah satu gejalanya adalah tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana khayalan ( halusinasi). Ada bagian yang mampu saya ingat namun ada pula bagian cerita yang luput dari ingatan saya. Tapi menurut saya halusinasinya itu menarik dan seru untuk diceritakan. Selama ini, sejak tahun 2011 saya mengalami fase kambuh atau tidak stabil selama enam kali. Dari pertama kali saya tidak stabil ( mengalami gangguan) selalu ada kaitannya dengan freemason. Dalam pemahaman saya freemason adalah gerakan kebaikan untuk menyelamatkan orang lain. Jadi freemason dalam halusinasiku adalah gerakan kebaikan. Kalau kita browsing di internet yang muncul tentang freemasonry adalah gerakan elit global dengan berbagai ritualnya dan lain sebagainya. Ini berbeda dengan freemason dalam halusinasiku yakni Gerakan menolong sesama. Pada saat pertama saya mendapatkan bisikan – bisikan dalam halusinasiku aku direkrut menjadi salah satu agen freemason. Waktu itu ada pula pekumpulan selain freemason. Saat itu, freemason terkesan lebih keras dibandingkan perkumpulan itu. Level yang lebih halus atau mediumnya adalah USAID. Jadi stop ya mengasosiasikan freemason yang ada di internet sama dengan freemason dalam halusinasiku. Entahlah karena saya juga tidak paham. Begitu juga dengan USAID, kenapa ia muncul dibawah freemason dalam hal gerakannya. Gampangnya freemason itu gerakannya kuat / massive dan USAID itu lebih kooperatif. Pada saat itu, rasanya saya sedang direkrut sebagai salah satu agen freemason. Dalam halusinasiku teman – teman di kostku saat itu sudah menjadi Agen. Tapi saya tidak tahu, teman – teman kosku itu menjadi agennya siapa karena kami seperti berlomba untuk menyelesaikan tantangan / challenge. Itu kejadian pertama kali, sehingga saya sangat kebingungan menghadapi tantangan itu.

            Pada saat itu ada salah satu teman kost yang menyodorkan satu nama kader dari salah satu partai, dia bilang si A itu baik novi. Maka saya menandai bahwa mbak yang meyodorkan nama itu adalah sebagai agen dari partai A. untuk aksi challenge pertama, saya diberi kertas yang entah itu kertas apa. Setelah mendapatkan sebuah kertas teman – teman ku bubar sepertinya mengikuti perintah apa yang ada di dalam kertas itu.

            Di Jakarta saya tidak membawa kendaraan sendiri. Untuk urusan pekerjaan saya menggunakan mobil kantor atau diganti dengan naik taxi. Maka dalam halusinasiku aku mengalami perjalanan malam dengan menggunakan taxi, transjakarta atau angkot atau metro mini. Entahlah, saat itu yang kutuju adalah pasar Kramat Jati, disana saya Cuma minum teh panas dan belanja sayuran lalu saya pulang ke kost. Alhamdulillah selama saya pergi keluar saya selalu bisa pulang kembali ke kostan. Saya selalu ingat konsep cinta dalam hati dan pikiran saya. Bahwa tingkatan pertama yang harus aku cintai adalah Alloh SWT maka saya selalu membawa al qur’an dalam tas saya ,yang kedua yang aku cintai adalah Rosululloh SAW, maka saya selalu membawa buku siroh Nabawiyah dalam tas saya, dan yang ke tiga adalah Ibu. Karena Ibuku sudah wafat, aku selalu mengganggap ibu kostku adalah ibuku. Maka selama aku di kostan Enyak di Jakarta saya menganggap Enyak adalah pengganti ibuku. Enyak adalah pemilik kostan yang ku tempati / induk semang. Maka biasanya saya mengingat Alloh, dan ketika melihat buku siroh nabawiyah saya teringat Rosululloh dan ketika saya ingat Ibu saya maka saya teringat ibu kost dimana saya harus pulang kesana.

            Saat mengalami halusinasi pertama kali hampir setiap malam saya keluar kamar dan mengalami perjalanan malam.  Ada kejadian pada suatu malam saya mendatangi komplek Bakri. Nampak terlihat beberapa lampu menyala yang menurut saya saya terlihat mencurigakan melalui CCTV memasuki komplek tersebut. Saya berjalan menuju masjid Bakri. Saya duduk dipinggir gerbang, tidak dapat memasuki masjid karena pintu masjid dikunci di pintu gerbangnya. Setelah beberapa saat duduk, saya kembali melanjutkan perjalanan malam saya dengan menggunakan Trans Jakarta . Pada saat itu adalah Trans Jakarta terkahir berarti sekitar pukul sebelas malam. Di koridor busway saat saya akan membeli tiket, saya diberhentikan oleh seorang wanita berhijab lebar dengan menggunakan cadar yang menyelempangkan tangannya di depan saya. Saya sontak berhenti dan mengadakan percakapan dengannya. Dalam percakan itu tujuan ia datang ke komplek Bakri adalah untuk melobi terkait acara keagamaan untuk anak – anak dalam stasiun televisi yang tayang. Tentu saja stasiun televisi yang dipunyai oleh group Bakri. Kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju kramat jati. Aktivitas yang saya lakukan di daerah Kramat Jati, saya melakukan survey konsumen, saya mendatangi entah Indomaret atau Alfa mart atau semacamnya dan saya membeli salah satu majalah remaja pada masa itu. Setelah membeli majalah, saya duduk dipinggir jalan. Ada seorang perempuan menghampiriku dan dia menyentuh pundakku kemudian pingganggu, kemudia ia berkata :”oh ini mah masih baik.” Entah apa yang dimaksud oleh perempuan tersebut. Ia mengenalkan dirinya kepada saya bahwa ia adalah seorang public reletaion / PR . Kemudian perempuan itu mengajakku ke salah satu warung padang disekitar situ, yang masih buka. Saya diajak untuk menikmati teh panas disana. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, saya pamit pulang dan saya mencegat angkot yang lewat depan warung. Setelah sampai perempatan, entah itu perempatan apa saya juga tidak paham saya lantas turun. Kemudian ada sebuah metro mini yang lewat jurusan lebak bulus, yang saya tahu metromini itu melewati jalan menuju kostan saya.  Alhamdulillah saya dapat kembali dengan selamat ke kostan Enyak.

            Selama beberapa hari saya absen dari kantor. Kemudian kakak saya (saya memanggilnya Bunda di panggil ke kantor oleh salah satu direktur saya di kantor. Kakak saya adalah perwakilan keluarga yang hanya satu -satunya kakak dan saudara sekandung yang saya punya. Kakak saat itu tinggal di Purwokerto dan dalam kondisi sedang hamil. Setalah sampai Jakarta, kakak menghadap salah satu direktur di kantor saya, Direktur saya bercerita, bahawa saat bertemu dengan saya, saya terlihat aneh, Saya minta untuk mbertemu direktur itu dan marah-marah di laman facebook. Selain saya ingin bertemu direktur tersebut, saya juga ingin bertemu salah satu dewan wali amanat di kantor saya. Kami bertemu sambal makan bersama di salah satu resto di Pejaten Village. Saya meyodorkan struktur pengembangan kantor terkait struktur organisasi dan penempatan personil – personilnya. Ide dalam menyusun struktur organisasi tersebut ada saat saya sedang berhalusinasi kemudian saya catat. Pada saat saya selesai menyampaikan ide saya, dewan wali amanah yang saya minta untuk hadir pada saat itu tiba – tiba marah. Kemudian beliau minum es kelapa muda yang ada di meja. Padahal setahu kami, dewan wali amanah tersebut tidak minum minum- minuman manis, beliau hanya minum air putih saja. Beliau mengancam direktur yang ikut hadir dengan kalimat yang mengancam dengan nada keras. Dan kemudian beliau meninggalkan tempat tersebut dan hanya tertinggal saya dan direktur kantor saya.

            Setelah itu saya sholat dhuhur, dan bapak direktur kembali ke rumah. Kemudian saya menyusul, kembali ke kostasn Enyak. Pak Direktur berpesan, supaya obrolan terkait dengan strategy pengembangan di kantor kami supaya dilanjutkan di ruang meeting kantor. Sementara itu, Kakak saya mengajak saya supaya pulang ke  Purwokerto  dan pengobatan dilakukan jarak jauh dengan mengirimkan obat dari Jakarta ke Purwokerto. Kejadian di Purwokerto adalah awal mula saya memasak dibawah pengaruh halusinasi. Saat itu dengan cerita oyong besar dan oyong kecil. Saya menggoreng telur dengan  oyong. Setiap kali saya mengalami halusinasi saya selalu ada sesi memasak. Pada saat itu juga, saya mengurutkan  penggunaan setiap pakaian yang saya pakai, mengurutkan penggunaan sabun, alat mandi, sikat gigi dan lain – lain dalam satu kali urutan sehingga saya membutuhkan waktu yang lama sekali saat aktivitas di kamar mandi. Hingga akhirnya biasannya kakak mengetuk pintu kamar mandi karena saya kelamaan di kamar mandi. Itu pengalaman awal – awal saya saat mengalami halusinasi. Saya bisa mengingat kejadian  saat halusinasi namun saya juga kadang ada yang lupa kejadian apa yang terjadi.

        Saat di Purwokerto, saya mengalai pergantian dokter.Kakak dan kakak ipar saya mencari dokter jiwa di Purwokerto dan sekitarnya dengan harapan dapat mengurangi biaya pengobatan saya. Alhamdulillah kakak menemukan dokter spesialis kejiwaan yang berada di Banyumas. Awal mula periksa, saya periksa di rumah beliau di Banyumas. Setelah ngobrol, ternyata dokter tersebut membuka praktek di salah satu klinik di Purwokerto, akhirnya saya pindah berobat ke dokter tersebut di tempat buka prektik klinik di Purwokerto.

        Setelah saya stabil, saya kembali mulai menata hidup saya. Saya berhenti untuk memikirkan kerja kantoran. Saat itu saya memutuskan untuk kuliah S2. Yang linear dengan ijazah kesarjanaan saya. Saya mengambil magister management di UNDIP Semarang. Berbekal pesangon dari tempat bekerja saya dulu, saya melanjutkan studi saya namun ternyata pesangon tersebut tidak cukup untuk membiayai seluruh biaya kuliah S2 saya. Hingga pada semester dua saya memutuskan untuk bekerja kembali sekaligus melanjutkan S2. Setelah mencari pekerjaan di Semarang yang ternyata gaji di Semarang pada waktu itu tidak mencukupi biaya kuliah sekaligus biaya hidup maka dengan keputusan yang sangat berat saya bekerja kembali di Jakarta. Saya bekerja pada satu Yayasan di Jakarta pada hari senin sampai Jum’at dan pada waktu Jum’at sore saya saya dengan naik kereta menuju semarang untuk kuliah mengambil kelas executive yang berkuliah tiap hari Sabtu dan Ahad. Pada Ahad malam saya kembali ke Jakarta lagi dengan kereta.

          Ternyata ritme hidup yang demikian tidak sanggup saya lakukan, sehingga menyebabkan saya kambuh untuk ketiga kalinya. Dan kembalilah saya pulang ke rumah kakak di Purwokerto. Halusinasi saat itu adalah tentang dua orang pria yang pernah mengisi hati saya. Saya seperti sedang mencari mereka berdua. Dengan bantuan taxi, dua merek taxi ternama saat itu di Jakarta yang berwarna biru dengan tarif atas dan satu taxi berwarna putih dengan tarif bawah setia mengantarkan saya pada pencarian akan dua sosok laki – laki yang pernah mengisi hati saya. Hasilnya nihil. Hingga akhirnya saya dikirim oleh keluarga saya di salah satu padepokan peristirahatan bagi penyintas gangguan jiwa dan gangguan akibat narkoba di daerah Parung Bogor. Setelah rehat selama dua minggu saya dibawa pulang ke Magelang dititipkan di tempat saudara kemudian dijemput kakak dan tinggal Bersama kakak kembali di Purwokerto.

Jumat, 03 April 2026

Na Willa.

       Siang tadi saya berkesempatan menonton film yang berjudul Na Willa. Na Willa adalah nama seorang anak Surabaya tepatnya di gang Krembangan yang mempunyai ayah yang dipanggil Pak dan seorang ibu yang dipanggil Mak. Pak adalah seorang etnis Tionghua yang bekerja pada sebuah kapal pengiriman barang, sehingga Pak biasa bekerja dalam waktu yang lama baru pulang kembali ke Surabaya. Sedangkan Mak berasal dari suku NTT dengan kulit sawo matang dan rambut ikal. Mak adalah full ibu rumah tangga yang mengurus Na Willa dengan dibantu dengan seorang pembantu yaitu Mbok Tun. 
 
      Mak digambarkan sebagai sosok ibu yang pandai mengurus anak dan rumah tangga juga seorang ibu yang bijak dalam mengasuh Na Willa. Kehadiran film Na Willa ini tentu banyak mengobati inner child para penonton yang hadir ke bioskop. Kisaran Film itu berlatar dan setting tahun 1965 dengan lagu - lagu Lilis Suryani yang merupakan lagu favorit Mak yakni yang berjudul  Hesti yang ternyata terngiang - ngiang di telingga saya karena nampak di laman Tik Tok saya dan story WA teman saya sehingga membuat saya tersenyum karena teringat akan film yang tadi siang saya tonton.  
 
      Na Willa adalah sosok anak yang menggemaskan dan pandai. Sebelum masuk TK, Na Willa sudah bisa membaca dengan diajar oleh Mak di rumah. Na Willa mempunyai sahabat kecil yaitu Farida, Dul dan Bud. Farida yang biasa dipanggil Ida adalah anak yang lucu dan menggemaskan juga ia masih cadel. Sedangkan Dul adalah sepupu Farida yang usianya lebih tua. Farida, Bud dan Na Willa sepantaran. Farida adalah seorang muslim dan Na Willa seorang katolik. Dalam film ini nampak keaneka ragaman suku, agama dan ras yang tercermin dari keluarga Na Willa sendiri dan suku jawa adalah sukunya Farida, Dul dan Bud. Selain suku dan agama yang berbeda struktur keluarga Na Willa dan Farida juga berbeda. Farida mempunyai keluarga yang besar dengan kakak - kakaknya dan keluarga Na Willa merupakan keluarga kecil dengan tiga anggota keluarga dan ditambah dengan satu pembantu. 
 
     Sebenarnya tidak ada konflik yang sangat klimaks atau plot twis dalam film ini. Hanya saja nuansa Surabaya pada tahun itu nampak nyata. Gang - gang yang terlihat, pasar yang dikunjungi, pakaian - pakaian yang dikenakan pada masa itu nampak indah terekam kamera dan hidup seperti layaknya suasana tahun 1965. 
 
    Selain menghidupkan nuansa tahun 1965, film Na Willa juga sarat pembelajaran ilmu parenting.  Bagaimana Pak meskipun LDR dengan anaknya terus berusaha membangun komunikasi dengan sering membelikan buku bagi Na Willa. Bahkan ketika Pak tidak bisa pulang sesuai denga rencana maka Pak memaketkan buku - buku untuk dibaca oleh Na Willa. Saat Pak pulang ke rumah, Pak juga hadir dalam pengasuhan yakni dengan membuatkan ayunan dimana ayunan tersebut selalu digunakan oleh Willa dan tentu saja Willa akan teringat terus akan Pak nya. 
 
    Terkait dengan pendidikan anak, juga perlu dicermati. Na Willa masuk sekolah dengan keputusan Pak dan Mak yang berdiskusi,  meskipun keputusan itu terjalin lewat surat. Kebetulan Pak mengalami masalah dengan kapalnya sehingga mendarat lama di Jakarta dan Pak belum dapat segera kembali ke Surabaya. Mak menulis surat untuk Pak yang isinya cerita keseharian Na Willa yang kebetulan sangat bikin merinding bagi Mak. Mak berbohong kepada Na Willa saat Dul mengajak Na Willa ikut dengannya untuk melihat kereta di dekat rel kereta api. Mak melarangnya karena itu berbahaya dan Mak berbohong dengan mengatakan " Pak. Sebentar lagi pulang!" Hal itu ia lakukan karena terdesak dan melarang Na Willa pergi dengan Dul di sekitar rel kereta api untuk melihat kereta. Qodarulloh Dul terserempet kereta api dan kakinya terluka hingga diamputasi, dan Dul menggunakan kaki palsu yaitu kayu. 
 
  Persahabatan di masa kecil yang indah anatara mereka. Nampak keakraban anatara Dul dan Na Willa dengan seekor anak ayam berwarna kuning milik Na Willa yang diberikan kepada Dul, sebagai oleh - oleh di rumah sakit saat Dul opname. Bagi Na Willa Dul adalah sahabat yang paling hebat dalam circle pertemanannya. Tentang anak ayam si kuning kecil sekali itu juga merupakan suatu pembelajaran pengasuhan. Yakni pemberian hadiah seekor anak ayam kuning sangat kecil itu dengan dibarengi sebuah komitmen tanggung jawab bagi sang anak untuk merawatnya. Bukan cuma untuk hadiah yang menyenangkan semata.

            Keharmonisan suami istri juga diajarkan kepada anak. Pak       dan Mak nampak berdansa di ruang tengah sambil mendengarkan       lagu dari radio yang sedang diputar. Kejadian ini tak             luput dari pandangan Na Willa... nampak di benak Na Willa         keharmonisan suami istri itu seperti apa yang dilihat Na         Willa     dan itu pembelajaran    bagi anak seusia Na Willa       dengan          melihat.   

Last but Not Least nilai 9 saya berikan untuk film Na Willa yang ternyata ditulis dan disutradarai oleh  Ryan Andrindhy  juga merupakan sutradara film fenomenal anak - anak Jumbo beberapa bulan yang lalau. 



Senin, 17 November 2025

Pangku.

 

       Pada hari kamis lalu tepatnya tanggal 6 Nopember saya sengaja meluangkan waktu untuk menonton film Pangku yang tayang di hari pertama. Film ini merupakan film pertama yang disutradarai oleh Reza Rahardian. Honestly saya sangat exited dengan film ini bahkan menunggu -nunggu kehadirannya di bioskop bukan hanya numpang lewat di FYP Tik Tok saya saja.  Sampai saat film ini tayang di bioskop tanah air, film ini sudah meraih empat penghargaan di Busan International film festival. Nampak pula berseliweran di Tik Tok saya para pemain pendukung dengan kostum mereka dan yang nampak mencuri perhatian  memang Fedi Nuril (pemeran Hadi)  yang datang pada perhelatan Busan International Film Festival  dengan make up eyeliner di seputar matanya yang sempat menjadi obrolan ringan yang seru di kalangan netizen. Kata Reza terkait hal ini… “ya karena dulunya Fedi Nuril adalah seorang anak band, mungkin dia mau mengexplore dirinya dengan eyeliner karena semangat dalam dirinya sebagai anak band dimasa lalu. “ Padahal malah ada pula di salah satu podcast disebutkan bahwa Fedi Nuril adalah sosok pemain duta poligami karna acting Fedi di beberpa film yang memerankan sosok seorang lelaki berpoligami seperti di film Ayat – Ayat Cinta dan Syurga yang Tak Dirindukan 1 dan 2.

     Film Pangku bercerita tentang sorang wanita bernama Sartika (ClarestaTaufan) yang berniat mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Latar belakang yang misterius memang tidak diceritakan, hanya diawali ketika Sartika menumpang sebuah truk bermuatan yang diturunkan oleh supir truknya di daerah Indramayu lantaran truknya macet dan ada seorang lelaki tua mengatakan bahwa  jika ada truk ditumpangi wanita, biasanya si wanita itu pembawa sial maka sebaiknya si wanita itu diturunkan saja. Eh benar, si supir truk mengikuti nasehat pak tua dan Sartika diturunkan.Kemudian Sartikamenyusurijalanan dan sampailah pada satu komplek lokalisasi dan ada disebelah komplek tersebut warung remang – remang. Di Warung itu biasanya disediakan kopi dan makanan ringan serta rokok. Adapun penyajian kopinya adalah unik dan khas. Yakni kopi diseduh oleh seorang wanita berpakaian seksi kemudian disajikan kepada pengunjung dengan cara duduk dipangkuan pengunjung sambil bergelayutan dan atau sambil mijitin penikmat warung kopi. Ada pula yang bisa langsung pesan bilik dibelakang warung untuk adegan tidak sekedar pijit memijit.

          Saat Sartika datang, dia kelelahan dan duduk dilincak kayu didepan warung kopi serta memesan teh.  Adalah simbok sebutannya si penjual kopi yang diperankan oleh Kristin Hakim yang dengan tingkat kecerdasan acting beliau yang diatas rata-rata pemain film tentu saja memerankan peran itu dengan sangat apik. Simbok menawarkan kepada Sartika untuk ikut di rumah gubuknya yang tidak jauh dari warung kopi itu, karena tidak ada pilihan lain maka Sartika ikut dengan Simbok pulang kerumah. Tawaran untuk menjadi tukang kopi di warung disampaikan simbok kepada Sartika. Namun Simbok tidak maksa, pelajaranya adalah di setiap titik dunia manapun meskipun itu hitam pasti ada tangan Alloh yang pengasih untuk hambaNya dalam kasus ini melalui tangan Simbok.  Simbok juga melihat kondisi Sartika pada saat itu sedang hamil besar sekitar delapan bulan. 

       Waktu demi waktu berlalu, Sartika sudah melahirkan seorang putra bernama Bayu (diperankan oleh Syakeel Fauzi). Simbok tidak tinggal sendirian di rumah, disitu ada Bapak, swami simbok yang juga sudah tua tapi terkena PHK dari pabrik plastik tempat beliau bekerja. Selama film berlangsung, Bapak tidak mengeluarkan suara sepertinya disengaja agar karakternya kuat dan terlihat unik. Bapak bekerja sebagai buruh tani jika ada pekerjaan namun jika tidak, Bapak menganggur. Pada suatu hari, Sartika pulang dari bekerja mengikuti Bapak menjadi buruh tani dengan membersihkanl sisa pohon padi di sawah setelah panen, membuka tempayan tempat beras ternyata sisa beras sangat sedikit dan sudah tidak punya persediaan beras lagi. Upah dari bekerja sebagai buruh tani cuma sedikit. Sartika merasa tidak enak hati kepada Simbok yang bekerja sebagai tulang punggung keluarga dengan berjualan kopi. Maka Sartika  memaksakan dirinya untuk turut serta membantu Simbok berjualan kopi sebagai penjaja kopi pangku di warung Simbok.

          Hari demi hari berlalu, tibalah seorang sopir ikan bernama Hadi (Fedi Nuril) yang dating untuk ngoi di warung kopi di tmat Bu Maya (Simbok). Hadi jatuh cinta kepada Sartika hingga mereka menikah. Bayu sbagai salah satu potret generasi fatherls (tidak punya Bapak) sangat bahagia menerimakehadiran Hadi. Mereka membeli rumah sederhana di pinggir pantai. Mereka nampak Bahagia. Hingga suatu hari datanglah seorang wanita bernama Anisa ke rumah mereka. Ternyata Anisa adalah isteri Hadi yang berkerjasebagai seorang TKW di Arab Saudi. Betapa hancur hati Sartika yang ada saat itu sedang hamil muda. Dia membawa tas besar dan mengajak Bayu pergi ke rumah Bu Maya (Simbok). Setelah bercerita tentang apa yang terjadi, maka Sartika memutuskan untuk tinggal bersama Bu Maya (Simbok).  Dan ia kembali menekuni profesi sebelum ia menikah yakti sebagai penjaja kopi di warung kopi pangku Bu Maya (Simbok). Singkat cerita Sartika hidup Bersama dua anaknya di kamung Bu Maya (Simbok) dan menempati rumah Bu Maya (Simbok) hingga film ini berakhir dengan Bayu lulus SMK kemudian berjualan mie ayam dengan gerobak yang dulu rnah dibuatkan oleh Hadi untuk Sartika. Adik Bayu sudah SMP brjnis kelamin perempuan dan simbok (Bu Maya) serta Bapak sudah tiada.

          Itulah sepenggal kisah hidup seorang wanita pinggiran yang berjuang untuk bertahan hidup dengan sgala daya dan upaya yang ia punya untuk kedua anaknya. Well…film ini bagus secara cinematografi, dan buat saya yang menyukai film jenis social seperti ini tentu sangat tersentuh. Beberapakali saya meneteskan air mata untuk Sartika. Untuk skala satu sampai Sepuluh saya beri nilai Sembilan untuk film ini. Reza Rahadian memang tidak ikut tampil, tapi si pembaca berita di televisi Simbok (Bu Maya) di warung kopi yang saat itu menyampaikan berita tentang BJ Habibi adalah suara Reza Rahardian. Tampil tipis - tipis.

Yuk tonton film karya anak bangsa, dukung film – film yang berkwalitas di negeri ini.

 

Rabu, 12 November 2025

Lir Ilir dan Kolaborasi Dakwah


        Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti acara Lir-ilir yang diadakan di Jogja Expo Center (JEC). Acara tersebut berupa festival kajian yang diselingi dengan pementasan lagu -lagu religi yang disajikan pada panggung utama. Selain festival kajian, Lir - ilir juga membuka kesempatan untuk pelaku usaha kecil dan usaha  menengah untuk membuka teenan baik berupa teenan pakaian, buku - buku maupun makanan. Acara berlangsung dua hari dan sebenarnya acara semacam ini sudah berlangsung selama empat tahun berturut - turut hanya berbeda tema saja. Seperti tahun lalu, panitia memberikan tema wang - sinawang untuk acara yang sama. 

      Saya berkesempatan hadir pada hari pertama dan hari kedua meskipun tidak dalam keadaan full. Pada hari pertama saya mengiuti talk show yang disampaikan oleh ustadz Shihabuddin Isykarima pimpinan pondok pesantren Isykarima Solo. Beliau memaparkan bahwa kemerdekaan sesungguhnya adalah ketika kita bisa berdakwah dengan membangun pesantren dengan area seluas-luasnya. Pesan beliau, jangan sampai menjual tanah bahkan paradigmanya harus dibalik yakni harus membeli tanah seluas -luasnya untuk dakwah, dalam hal ini membangun pesantren. kenapa pesantren? ya karena dengan adanya pesantren dalam suatu wilayah akan membawa pengaruh besar yanki peradaban dalam wilayah tersebut. Setelah sesi talk show dengan ustadz Shihabudin Isykarima dilanjutkan dengan pementasan lagu -lagu religi. Adapun lagu -lagu religi dibawakan oleh Ilham syahreza mantan voalis nine ball band, Iklima yang merupaan artis lagu religi pendatang baru dan ditutup oleh penampilan Opic tombo ati. Acara pada hari pertama selesai pada pukul 22.30 WIB. 

         Pada hari kedua Lir-Ilir saya berkesempatan mengikuti sesi talk show bersama Bapak Anis Baswedan dengan dimoderatori oleh komika Abdur Arsyad. Bapak Anis berbicara dengan mengusung tema ; " Jangan Lelah Mencintai Indonesia."Tema ini diangkat karena melihat keresahan penggagas acara terhadap kondisi anak -anak  muda kita yang terlihat kelelahan untuk mencintai Indonesia. Hingga nampak pada hastag salah satu medsos tanah air hastag kabur aja dulu. Pada sesi ini Pak Anis mengajak generasi muda yang hadir (yang tercatat sebesar 18.000 pengunjung) supaya jangan lelah untuk mencintai Indonesia. karena banyak hal yang baik yang dipunyai bangsa kita hanya saja pemerintahannya saja yang belum merepresentasikan dirinya sebagai pemerintahan yang baik. Sifat - sifat baik yang dimiliki bangsa kita diantaranya sifat dermawan, ramah, gotong - royong dll. Sifat baik tersebut merupaan salah satu modal untuk menjadi bangsa besar dimasa mendatang. 

        Lir-Ilir memang diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan RI, sehingga tema - tema yang dihadirkan dalam sesi -sesi kkajian atau talk shownya adalah tema- tema yang membangkitkan rasa nasionalisme serta kecintaan pada negeri kita Indonesia. 

 

     Sesi terakhir Lir Ilir adalah sesi kajian bersama empat sekawan para ustadz yang terdiri dari ustadz Salim A Fillah, Ustadz Abdul Somad, Habib Muhammad bin Anis dan ustadz Luqmanul Haqim (Ayah Man). Keempat ustadz tersebut membawakan tema masing – masing secara medley. Setiap ustadz kebagian jatah waktu selama 20 menit kecuali ustadz Abdul Somad yang mendapat waktu satu jam.  Ke empatnya berbicara tentang kemerdekaan.

 

        Diluar acara Lir ilir ini , saya ingin menyoroti gaya berdakwahnya ustadz Salim Afillah yang sangat cantik. Ustadz Salim sebagai founder kegiatan ini  berusaha menyatukan empat ustadz dari Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur dan Yogyakarta. Beliau sering menyebut dengan seruan dari empat penjuru untuk negeri. Keempat ustadz tersebut berbeda latar belakang ada yang NU ada yang Tarbiyah dan lain sebagainya. Keempatnya berkolaborasi dengan tidak meninggalkan keaslian (kegenuinan) mereka, mereka tetap jadi diri mereka sendiri. Ustadz Abdul Somad memberikan kajian dengan ditemani penampilan Jogja Hadroh clan  dimana hadroh merupakan kesenian yang biasa disajikan oleh kaum Nahdhiyin namun mereka semua dan audiens juga sangat enjoy menikmatinya termasuk saya.

 

    Tak heran, ustadz Salim A. Fillah diberikan jalan yang mudah dalam berdakwahnya….mulai dari menulis buku, berdakwah hingga manca negara, membuat event besar dalam dakwah seperti Lir ilir ini. Setelah saya amati melalui Instagram beliau (saya salah satu follower beliau), beliau memang menjalin silaturrahim dengan semua aliran dakwah. Dengan para ustadz NU beliau dekat dan takdziem. Tidak perlu berbaiat seperti yang dilakukan ustadz Hanan Attaki tapi cukup diperlihatkan dengan bersilaturrahmi dengan para ustadz dari berbagai aliran dakwah terlebih para kyai NU.Selain beberapa model dakwah diatas ustadz salim juga membangun pesantren yakni pesantren Merapi Merbabu. Last but Not Least sukses terus dakwahnya ustadz Salim dan ustazd – ustadz yang lain dan biarlah kami jamaah menikmati kebersamaan para ustadz di negeri ini dengan kerukunan dan kebersamaan.

 

Wollohualam bii showab……

 

Minggu, 18 Mei 2025

Ummi.

 

Sudah sebulan yang lalu bulan April menyapa. Pada bulan tersebut teringat saya pada salah satu sosok mulia inspirasi dalam hidupku. Siapakah beliau? Ya....beliau adalah Ummi (Ibuku). Ummi dilahirkan pada tanggal  27 April 1950. Dulunya sewaktu saya masih kecil, saya memanggil ibu saya dengan sebutan "Simbok". Wajar saja lantaran biasanya orang tua kita mencontohkan sebutan apa yang akan anak - anak mereka panggil bagi orang tua mereka. Dulunya, kami semua putri Ummi memanggil beliau dengan sebutan /panggilan Simbok karena Bapak mencontohkan itu kepada kami sejak kecil. Hal itu sama dengan halnya ketika Bapak memanggil Nenek dengan sebutan Simbok. Ketika saya memasuki usia remaja, dan kedua kakaku sudah memasuki masa kuliah, kami sepakat mengganti panggilan Simbok dengan sebutan Ummi. Pada saat itu, saya awal - awal SMA dimana saya mulai mengenal tarbiyah. Sebutan bagi orang tua bagi para jamaah tarbiyah biasanya adalah Abi dan Ummi. Sedangkan untuk alasan kenapa kedua kakak saya juga mengganti sebutan Simbok menjadi Ummi saya kurang paham.

Well.....menurut saya ada segi kepantasan bagi seseorang Ibu bisa dipanggil Ummi. Bukan cuma soal nama yang kearab - araban menurut para kritikus yang tidak suka dengan istilah yang kearab – araban. Dalam lingkaran jamaah / harokah yang berasal dari negara Timur Tengah tentu saja sangat familiar dengan sebutan Ummi untuk memanggil ibu mereka. Misalnya jamaah Tarbiyah yang saat ini terafiliasi dengan PKS yang sering disebut mirip dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, jamaah / harokah Wahabi atau Salafi yang merupakah gerakan dakwah yang berasal dari Makah / Madinah. 

Bagi saya, kita tidaklah perlu anti dengan istilah -istilah bahasa Arab dalam keseharian kita. Itu hanya masalah habbit/ kebiasaan saja. Kita juga tidak masalah mendengarkan seseorang yang biasa berbicara dengan dicampur dengan istilah /kata berbahasa Inggris. Nah itu hal yang sama. Kalau orang yang biasa menggunakan bahasa Inggris dia akan biasa menyebutkan kata well...  and dan lain sebagainya. Bagi yang familiar dengan bahasa Arab tidak cuma pada saat membaca Al qur’an saja, tapi dalam pergaulan sehari- hari mereka, bahasa pengantar mereka saat kuliah di Timur Tengah, buku - buku yang mereka baca tentu berbahasa Arab. That's way mereka familiar dengan bahasa Arab hingga terbawa dalam dialek percakapan dalam pergaulan sehari - hari. Itu hal yang sangat wajar, bukan karena mereka sok - sok jadi kearab - araban.  Itu hal yang sangat bisa kita pahami dan maklumi kenapa seseorang menjadi sering menggunakan istilah - istilah bahasa Arab yang sudah familiar seperti kata Afwan (maaf) sebutan akhi-ukhti (bagi teman sebaya) kadang para ustadz /ustadzah  juga menyebutkan begitu bagi para jamaahnya saat memberikan ceramah. 

Dalam kasus penamaan Ummi kami sebagai pribadi, tentu saja saya bukan lulusan Universitas dari daerah Timur - Tengah, saya juga tidak pandai berbahasa Arab. Kedua kakakku juga demikian. Panggilan Ummi kami berikan lantaran menurut saya, Ummi itu merupakan sebutan yang pas / tepat bagi ibuku. Ya lengkapnya Ummi Koyimah, kenapa? Setahu saya, Ummi adalah sosok perempuan kampung sederhana yang selalu meluangkan waktunya untuk berhidmah dalam hal ini berda’wah (menyeru kepada kebaikan) di lingkungan sekitar dimana Ummi tinggal. Berda’wah itu tidak harus menjadi penceramah  / ibu nyai tetapi bisa juga dengan cara menjadi aktifis dalam suatu organiasi kemasyarakatan.  

Pengalaman Ummi dalam berorganisasi dimulai saat Ummi masih muda. Saat Ummi masih muda, Ummi bergabung dengan Fatayat NU. Seragam kebaya berwarna hijau milik Ummi saat masih aktif di Fatayat NU  juga dibawa Ummi kerumah Bapak dan disimpan dilemari pakaian di kamar Ummi. Kemudian Ummi menikah dengan Bapak (Abu Sujak) pada usia 22 tahun. Pada saat itu, Ummi berprofesi sebagai guru SD di daerah Sraten Mertoyudan. Tentu saja itu bukanlah jarak yang dekat dengan rumah simbah (Martho Sofyan) di kampung kelahiran Ummi di Dusun Gamol. Ummi berijazah terakhir ST (Sekolah Teknik) di Kotamadya Magelang. Menurut cerita Ummi, dahulunya Ummi berangkat sekolah dengan berjalan kaki dari rumah sampai stasiun Blabak, perlu kita ketahui bahwa dulu ada rel kereta api jalur Jogja - Magelang. Konon kabarnya jalur ini juga akan dihidupkan kembali. Semoga saja bukan hanya sekedar issue saja ya tatapi dapat terealisasi. 

Ummi biasanya diberi bekal sebutir telur bebek sebagai ganti uang saku sekolah. Sedangkan untuk ongkos naik kereta dibayar bulanan  di stasiun Blabak. Telur bebek yang dibawa Ummi biasanya dijual di warung mbok Saib di perempatan Dusun Kalangan. Sampai saat ini Warung mbok Saib masih ada, entah dikelola oleh generasi keberapa dari mbok Saib. Warung mbok Saib masih menjual bubur sayur dan aneka gorengan seperti waktu dulu, namun beberapa waktu lalu saya berkesempatan melewati jalan di depan warung mbok Saib, nampak juga berjualan buah - buahan seperti jeruk, melon, semangka, pepaya dan lain sebagainya. 

Saat Ummi dikenalkan dengan Bapak (bertaaruf) juga merupakan salah satu momentum yang Ummi ceritakan kepadaku. Ummi dijodohkan dengan Bapak (Abu Sujak) oleh Almarhum Pakdhe Mat Sirat yang saat ini rumahnya bersebelahan dengan rumahku di kampung. Makanya hingga saat ini meskipun keluarga pak dhe Mat Sirat merupakan keluarga yang jauh tapi kami merasa dekat seperti saudara dekat. Bahkan dengan para putra putri Pak dhe Mat Sirat kami rasanya seperti dengan saudara sepupu, saking dekatnya. Ya barangkali karena ada unsur historis bahwa yang menjodohkan Bapak dan Ummi adalah Pak Dhe Mat Sirat. Jadi Bapak dan ummi merasa harus membalas budi baik Pak Dhe Mat Sirat karena sudah menjodohkan mereka berdua.

Ummi kalau menurut teori kepribadian dalam ilmu psikologi termasuk orang dengan karakter sanguinis. Suka menghibur orang lain dan juga pernah bertingkah konyol seperti badut. Pada saat itu saya masih bekerja di Jakarta, saat saya pulang kampung kebetulan ada pertemuan PKK di rumah. Beberapa ibu - ibu muda bercerita bahwa ummi melakukan aksi mengikuti lomba  fashion show yang diadakan oleh para mahasiswa yang sedang KKN di desa kami. Kata mereka, Ummi sudah menawarkan kepada para anak muda puteri yang mau mewakili kampung kami untuk mengikuti lomba fashion show di Kelurahan. Alhasil tidak ada ada yang bersedia. Eh….kok ternyata malah Ummi sendiri yang maju. Pada saat fashion show tersebut tentu saja Ummi adalah peserta paling sepuh (tertua),bahkan ada Pak Khozin beliau adalah kepala dusun dari kampung Japun,yang ikut datang ke tengah panggung dan menggandeng tangan Ummi bak puteri yang digandeng oleh sang pangeran. Tentu saja menjadi bahan lawakan dan mengundang gelak tawa para hadirin yang datang pada saat itu. Ummi memang konyol!

Selain kekoyolan Ummi yang tentu saja sangat mengesankan bagiku pribadi adalah Ummi sebagai Ibu yang juga menjadi sahabatku. Cerita apa saja selaluku dengan Ummi dan menurutku Ummi adalah sahabat yang asyik dan tidak membosankan. Kalau sama Bapak,aku dan kedua kakakku terbiasa menggunakan bahasa kromo dalam percakapan sehari – hari. Tapi kalau dengan Ummi aku ngobrol biasa saja seperti layaknya seorang sahabat. Jiwa pengabdian Ummi dalam berda’wah merupakan inspirasiku. Ummi remaja adalah aktifis dalam organisasi Fatayat NU yang berada di tingkat Desa. Bukan aktifis yang bergerak sampai tingkat Kabupaten, Propinsi, atau bahkan hingga sampai pengurus pusat Fatayat NU pusat. Oh…bukan! biasa saja….ordinary person… tapi satu hal yang pasti, Ummi tidak pernah lelah dalam berda’wah. Berda’wah itu menyeru kepada kebaikan. Menyeru kepada kebaikan dalam bentuk berjamaah  (organisasi) tentu saja akan memberikan dampak lebih luas bagi ummat daripada jika dibandingkan dengan berda’wah dengan dilakukan secara individu / sendiri saja.  

Setelah Ummi menikah dengan Bapak, Ummi pindah bertempat tinggal di kampung Bapak yakni Tirto yang mayoritas adalah warga Muhammadiyah. Ummi berazzam untuk terus bisa berkontribusi untuk ummat dengan bergabung menjadi pengurus Aisyiyah Muhammadiyah ranting Desa Paremono. Seingat saya, Ummi didapuk menjadi sekretaris. Ini bagus menurut saya. Intinya tetap berkontribusi dalam da’wah apapun kendaraan /organisasi yang ada pada lingkungan tertentu. Bisa dibayangkan jika Ummi tidak mempunyai keterbukaan dalam berpikir bukan tidak mungkin, Ummi akan menjadi sosok yang fanatik terhadap harokah (organisasi tempat beliau mengabdi dahulu yaitu Fatayat NU) tapi Ummi sangat legowo untuk  berpindah kendaraan / harokah yang ia ikuti. Miris memang kalau kita melihat saat ini ada saudara – saudara kita sesama muslim yang acap kali menjelek -jelekkan saudara- saudaranya sesama muslim hanya karena berbeda harokah (organisasi keagamaan) yang diikuti.

Tapi barangkali Ummi bisa dengan sangat enaknya berpindah harokah (organisasi) lantaran Ummi just ordinary person hanya orang biasa saja. Dalam artian Ummi bukanlah seorang putri dari sosok icon kyai besar / ketua organisasi masyarakat. Jika mau mencontoh sikap keterbukaan seorang putra icon kyai besar NU terkait dengan penyikapan terhadap perbedaan organisasi masyarakat adalah Ipang Wahid. Seperti kita ketahui, Ipang Wahid adalah putra dari kyai besar NU yaitu Kyai Sholahudin Wahid (Gus Shola) yang merupakan adik kandung Almarhum Gus Dur. Ipang Wahid pernah meminta izin kepada salah satu elit Organisasi / pimpinan organisasi Muhammadiyah untuk magang beberapa bulan di kantor Muhammadiyah. Nanti ilmu dan pengalaman saat magang di Muhammadiyah akan diterapkan sebagai bahan masukan bagi perkembangan Organisasi NU. Menurut saya itu menarik dan inspiratif, karena orang sekelas Ipang Wahid yang tentu saja semua orang tahu bahwa DNA nya adalah NU dengan semangat keterbukaan berpikir tentang harokah (organisasi) adalah sebatas itusaja. Itu saja sudah mampu membahasakan bahwa Ipang Wahid tidak asobiyah (merasa bahwa harokah / organisasinya yang paling benar dan baik). Hal semacam ini bagus sebagai bahan perenungan bagi kita bersama apalagi jika kita adalah aktifis da’wah.

Selain berkhidmah dalam organisasi da’wah, Ummi juga aktifis PKK Desa. Dalam keikut sertaannya di kegiatan – kegiatan PKK Desa,Ummi tidak pernah mamandang siapa Kepala Desa yang saat itu menjabat. Kadang ada, bahkan kebanyakan Ibu – Ibu PKK Desa itu mau aktif di kegiatan PKK Desa karena Kepala Desanya adalah jagonya dalam pemilihan kepala Desa. Tapi Ummi tidak demikian, dari jaman dulu Bapak aktif sebagai Kepala Dusun / Bayan / Prabot, Ummi langsung aktif menjadi kader PKK sampai akhir hayat beliau. Ummi berganti – ganti bagian / devisi /pokja di PKK tapi seingatku Ummi sering membidangi pokja I yang berkaitan dengan nasionalisme. Kalau saya ibaratkan organisasi organisasi disekolah SMA, maka pergerakan da’wah di NU atau Muhammadiyah itu seperti anak- anak Rohis / Rohani Islam dan menjadi kader PKK itu seperti anak- anak OSIS. Keduanya mempunyai nilai /value yang sama yakni bermanfaat untuk sesama, karena motto hidup Ummi adalah “Khoirunnaas Anfauhumlinnas…bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak manfaatnya untuk sesama /orang lain.”ungkapan tersebut seperti yang termaktub dalam sebuah hadits.

Ummi mempunyai bakat public speaking. Selain mengisi pengajian ibu – ibu di lingkungan RT, Ummi juga kerap mewakili Ibu Lurah berpidato baik dilingkungan kecamatan hingga Kabupaten. Selain mewakili berpidato, memberikan sambutan, Ummi juga kadang membuatkan naskah pidato / sambutan untuk Bu Lurah. That’s Way…mungkin saat ini saya mewarisi bakat itu dari Ummi….Terima kasih ya mii….

Obrolan terakhir dengan Ummi adalah saat saya dan kakak saya pulang kampung saat libur lebaran tahun 2007. Ummi menuturkan bahwa sebenarnya kelak kita itu bisa memilih mau dari pintu yang mana kalau kita mau masuk syurga. Pintu syurga itu ada delapan. Ada orang yang bisa masuk syurga melalui pintu sedekah, ada yang bisa masuk syurga melalui pintu sholat malamnya, ada orang yang bisa masuk syurga melalui pintu birrul walidainnya dan lain sebagainya. Nah, maka tinggal itu persiapkan saja yang mana. Kalau misalnya kita mau masuk syurga melalui pintu tahajud maka rajinlah bertahajud dan harus punya intensitas lebih daripada orang pada umumnya. Ketika saya dan kakakku pulang kembali ke rumah di hari H – dua dari lebaran haji /Iedul Adha, ternyata sudah tidak bisa lagi kami dengarkan nasehat – nasehat Ummi. Nasehat tentang pintu syurga tadi merupakan nasehat terakhir Ummi untukku dan kakakku.

Ummi wafat pada usia 57 tahun, beliau lahir pada tanggal 27 April 1950 dan wafat pada tanggal 13 Desember 2007. Ummi mempunyai hobbi membaca. Buku apa saja Ummi baca, koran bekas juga Ummi baca. Majalah – majalah yang putri -putrinya minati juga Ummi ikutan baca. Seingatku tulisan dalam bentuk apa saja baik buku, majalah, koran semua Ummi baca.  Maka pelajarannya adalah jika ingin mempunyai anak yang suka membaca maka cukuplah dengan memberi contoh saja. Karena kami putri- putri Ummi selalu melihat Ummi membaca maka semua putrinya suka membaca.

Semoga saya bisa meneladani Ummi yang selalu punya kontribusi untuk bermanfaat bagi ummat maupun sesama baik dalam lingkup yang luas seperti di negeri ini jika memungkinkan atau dalam lingkup kecil dilingkungan tempat tinggal saya Aamiin Ya robbal Alamiin. Kakakku juga sudah mengikuti jejak Ummi. Setahuku di rumahnya di Purwokerto kakakku (Bunda) ikut aktif dalam kegiatan  PKK dan dasa wisma. Itu persis sama dengan salah satu aktifitas yang dilakukan Ummi semasa hidup beliau. Sempat Bunda ( kakakku) rasan – rasan dalam bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia seperti mengenang Ummi. Kata bunda ( kakakku) “Ummi ki ra duwe kesel.” Dalam Bahasa Indonesia “Ummi itu tidak punya rasa lelah.” Ya…karena hari- hari Ummi sibuk dengan urusan ini urusan itu, kesana kemari urusan PKK, urusan masyarakat kampung, urusan di organisasi Aisyah. “Masya Alloh ya Bund….” Kataku,karena Bunda (kakaku) merasa dengan melakukan aktifitas di PKK dan dasa wisma  saja Bunda(kakaku) sudah merasa cukup sibuk, disamping Bunda (kakaku) mengemban peran utamanya sebagi istri dan Ibu rumah tangga.

Beberapa tahun lalau, saat saya nengok sawah peninggalan Bapak. Saya bertemu dengan almarhum Bapak Muhdin, yang kebetulan letak sawahnya tepat dibawah sawah Bapak. Kami mengobrol ringan, Dalam obrolan kami, Pak Muhdin bercerita tentang fenomena aktifis masyarakat pada saat itu. Kata beliau jarang ditemui orang -orang seperti ibuku yang mau bersabar dan ikhlas ngopeni ( mendidik) masyarakat. Pada saat itu, semua aktifis mayarakat larinya ke partai. Ada yang langsung masuk ke partai menjadi salah satu anggota partai ada juga yang awalnya masuk organnisasi masyarakat seperti Muhammadiyah eh ya ujung -ujungnya lebih tertarik untuk pindah ke PAN, jadi ngopeni masyaratnya ditinggalkan.

Waktu itu saya masih di Dompet Dhuafa dan saya mengungkapkan bahwa saya saat ini juga tidak mengambil jalan dakwah seperti Ummi melainkan saya memilih bekerja di Dompet Dhuafa itu sebagai jalan Dakwah saya. Pada saat itu pilihan saya adalah berkhidmah untuk kaum marginal dan kemausiaan melalui tempat saya bekerja. Dulu saya juga sempat pulang kampung setelah selesai mengikuti training saat awal – awal periode mengenal Dompet Dhuafa. Pikiran saya saat itu, saya adalah anak bungsu,dan Ummi sendirian di rumah dan saya pulang kampung untuk bertanya sama Ummi sebaiknya saya di Rumah atau bagaimana? Jika pada saat itu Ummi menginginkan saya untuk tetap di rumah  untuk menemani Ummi saya juga siap. Dalam pandangan Ummi ,berdakwah itu juga disesuaikan dengan modal pendidikan yang kita punyai. Kenapa Ummi memilih berdakwah di rumah /kampung dengan alasan modal ilmu Ummi hanya cukup untuk berdakwah di kampung tapi kamu lain begitu kata Ummi. Kamu sarjana,saat kamu kuliah juga kamu aktifis maka menurut pendapat Ummi kalau aku berda’wah di Jakarta itu sudah tepat. Dengan alasan bisa memberikan kemanfaatan yang lebih luas bagi Indonesia. Maka saat itu aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan berda’wah Wakaf di Dompet Dhuafa.

Pak Muhdin mengangguk….pertanda bahwa beliau paham akan argumentasiku bahwa ada juga sebenarnya model da’wah yang lain selain ngopeni masyarakat melalui organisasi keagamaan seperti NU atau Muhammadiyah. Seingatku, dulu Ummi menjadi sekretris Aisyiyah Ranting Paremono dimana ketuanya adalah Ibu Umi Kulsum  dimana beliau adalah istri dari Almarhum Bapak Muhdin.

Sebagai seorang Ibu,Ummi adalah sosok Ibu yang penyabar. Ummi tidak pernah membentak- bentak puri-putrinya. Kalau Ummi sedang jengkel juga yang keluar dari mulut Ummi juga kalimat yang positif. Karena Ummi sadar bahwa perkataan adalah doa. Misalnya, kami putri – putrinya sedang malas mengerjakan pekerjaan rumah tangga (menyapu,cuci piring, dll) Ummi tidak marah Cuma mengomel begini kira - kira “Tak dongakke anak- anakku dadi wong sing Mulyo sing isoh mbayar babu.” Artinya begini “Aku doakan semoga anak-manakku menjadi orang kaya berkecukupan secara materi  sehingga nanti kami mampu membayar asisten rumah tangga.” Begitulah Ummi…

Ada juga cerita dari Ummi kepadaku yang disampaikan dengan nada yang sangat berat yakni saat Almarhumah kakak pertamaku sempat protes sama Ummi lantaran kekasih hatinya tidak jadi meminangnya sebagai istri dengan alasan orang tua si laki -laki kekasih kakakku itu tidak setuju jika putranya menikah dengan kakakku karena kakakku bukan dari keluarga yang darah biru atau hanya orang biasa saja. Duh…saya menyayangkan sikap kakakku. Kok juga kakakku protes sama Ummi. Kenapa juga tidak protes saja skalian sama gusti Alloh! Lha wong Ummi juga tidak minta sama Alloh untuk dilahirkan dari keluarga Martho Sofyan yang merupakan keluarga biasa- biasa saja. Qodarulloh Ummi menikah dengan Bapak Abu Sujak yang merupakan putra mbah Martho Sentono yang juga orang biasa – biasa saja. That’s destiny sister! Bahwa takdir itu tidak bisa ditolak, yang bias kita lakukan akan takdir Alloh itu kita bersikap khusnudzon sama ketetapan Alloh karena itu kondisi terbaiknya kita. Tapi aku mencoba memahami suasana kebatinan Almarhumah kakaku. Bahwa kakakku berpacaran dengan pria itu adalah fakta, jadi mungkin sudah ada rasa cinta dan sudah berharap bahwa laki -laki tersebut adalah jodohnya. Nah, disini menurutku salah satu sisi negatif / kekurangan dari pacaran. Kalau memakai cara ta’aruf itu sangat mudah untuk menyikapi kondisi semacam itu, cukup dengan kalimat “itu berarti bukan jodohnya.” Cukup.

Namanya  jodoh itu memang sekufu / sepadan. Meskipun banyak penafsiran sekufu itu dalam hal apa? Misal saja mengartikan sekufu dalam hal nasab yaitu juga boleh, makanya lihat saja gus ini putranya kyai ini besanan dengan kyai itu dan ning itu putrinya kyai itu. Di dunia elit politik kita sebut saja SBY yang besanan dengan pak Hatta Rajasa , bahkan Billgate juga sudah mengeluarkan statement kalau tidak mau mempunyai menantu dari golongan oang miskin. Ada juga memang orang -orang yang humble tidak mempermasalahkan jurang pemisah untuk hal- hal tersebut diatas.  Misalnya nasab, kekayaan  tapi orang pada umumnya memang cari yang sekufu /sepadan dalam hal tersebut.

Aku tersenyum dan membesarkan hati Ummi.” Mi…kalau aku lain mii…kalau missal ada laki -laki yang menolakku dengan alasan nasab yang tidak sekufu aku tidak masalah mii…karena aku bisa cari yang lain yang bisa menerima aku apa adanya dalam hal ini nasabku dimana aku adalah seorang anak kampung yang biasa- biasa saja, dan aku tidak akan baper parah seperti kakakku karena aku tidak pacarana. Aku memilih jalur taaruf. Jadi taaruf itu nothing too loose ….kalo berhasil taarufnya  yaitu namanya berjodoh Alhamdulillah. Kalau taarufnya belum berhasil ya berarti itu belum jodohku.” Ummi…menghela napas lega. Lantas aku kembali bertanya sama Ummi. Saat itu Ummi bilang apa sama almarhumah kakak? Umi menjawab, “Aku doakan semoga anak-anakku kelak punya derajat  yang tinggi.”Aamiin Ya Robbal Alamiin.

Itulah kisah tentang Ummi Koyimah ibuku….ibu biasa saja orang kampung yang mampu menjadi inspirasi bagi ketiga putrinya. Semoga bermanfaat…..Wallohu’alam biishowab….

 

Rabu, 26 Maret 2025

Sekilas Tentang Pondok Salaf NU

 

 Alhamdulillah  Wa Syukurillah saya sudah menjalani masa mondok di salah satu pondok NU Salaf di Kulonprogo. Namanya pondok pesantren Nurul Haromain. Pengalaman di pondok ini tentu tidak akan terlupakan. Swasana pondok yang sederhana, dengan bangunan pondok yang tentu saja berbeda dengan bangunan - bangunan pondok - pondok modern . Sangat sederhana. Biasanya pondok salaf NU itu dibangun oleh para santri. Makanya sebisanya  santri, beruntung jika santrinya punya keahlian bangunan tapi jika tidak ya seadanya saja. Tapi bangunan - bangunan itu menurutku malah terkesan magis, karena para santri selalu membangun bangunan pondok dengan disertai dengan dzikir dan wirid. Untuk bangunan tentu kurang estetik, lantaran biasanya Abah Yai menambah bangunan jika sudah ada dana baru membangun lagi.
Dengan kondisi pondok yang sangat sederhana, yakni atap seng atau asbes atau baja ringan dan lantai mester biasa tidak pakai keramik kami tidur beramai ramai. Satu kamar berisi lima belas santri, dengan alas kasur dengan ketentuan dari pengurus pondok. Setelah banagun kasur dilipat ditumpuk di pojokan dan ruangan lapang jika bukan waktu tidur. Makanannyapun sangat sederhana misalnya sayur dengan lauk tempe goreng, tahu isi, tempe gembus, telur sesekali dan ayam atau lele kira - kira sebulan sekali. Alhamdulillah berkah, yang saya rasakan makan makanan apa saja terasa enak kalau di pondok. Really....Biasanya pondok juga disokong oleh para donatur atau para muhibbin pondok. Kalau di pondok Nurul Haromain ini ada yang support beras, sayuran, buah-buahan atau lauk. Biasanya mereka para pedagang. Saat  dagangannya masih banyak dan tidak terjual para pedagang ini mengirimkan ke pondok untuk makan santri. Di pondok ada dapur umum, ada dapur dhalem. Dapur umum biasanya dipakai untuk mamasak bagi para santri yang ikut makan dari pengurus pondok dengan membayar iuran makan. Sedangkan dapur dhalem adalah dapurnya Abah Yai untuk menyediakan masakan untuk Abah Yai sekeluarga beserta para tamu yang berkunjung ke pondok. Untuk makan santri yang mandiri mereka biasanya membeli makanan di kantin pondok, dimana kantin dikelola oleh para santri khubbar  ( mbak atau kang) yang sudah besar - besar yang sudah lama mondok disitu dan berkhidmat mengurus kantin. Jika ada kiriman bahan makanan, baik sayur, buah ataupun lauk seperti ayam atau ikan biasanya dikelola oleh dapur ndalem kemudian dibagikan kesemua santri baik yang ikut makan bersama pengurus maupun yang makan mandiri yang membeli di kantin. Santri mandiri yang membeli makan di kantin harus sudah mondok minimal setahun dan ditahun pertama mondok harus  menjadi santri yang makan dengan ikut pengurus pondok.
Kadang aku suka terheran - heran di pondok Nurul Haromain itu uang Rp.50,- perak masih laku lho. Uang tersebut masih laku untuk membayar uang ganti gas kalo kita ikut masak mie rebus satu pcs. Biasanya nyewa kompor sama mbak- mbak yang juga menjual makanan di dalam pondok. Biasanya mbak - mbak yang sudah lama tinggal di pondok untuk mengabdi, namanya mbak Hikmah istrinya kang Tajar yang ngurusi pengairan di pondok. Mereka tinggal disitu hingga punya tiga puteri. Yang paling besar dulu muridku di MI Ma'arif Nurul Haromain kelas tiga. Alumni yang berkhidmat seperti kang Tajar dan keluarga itu banyak di Nurul Haromain. Selain mengurusi sarana dan prasarana pondok, mereka para ustadz dan ustadzah mengajar kitab dan menerima setoran hafalan Al qur'an. Mereka hidup dengan sangat sederhana. Ada yang sambil menjual makanan kecil ada yang kang santrinya menjadi kuli bangunan di sekitar kampung di sekitar pondok. Tapi ada juga yang sarjana sehingga bisa mendapatkan pekerjaan kantoran di Jogja. Tapi overall ya lulusan SMK dan bekerja dengan penghasilan yang minim.  Tapi mereka kulihat tidak pernah mengeluh, mereka hanya ingin mendapatkan barokahnya mondok dengan berkhidmat hingga tahun keberapa juga mereka tidak tahu seridho Abah Yai saja. Kalau Abah Yai memerintahkan pulang ya pulang sering disebut boyong. Kalau belum ya berarti masih terus berkhidmat di pondok. Karena apa yang dikatakan Abah Yai bagi santrinya adalah titah. 
Ketika menjadi santri Nurul Haromain saya mempunyai pengalaman perdana ziarah walisongo dan Madura (kyai kholil Bisri Bangkalan). Di sunan Gunung Jati Cirebon nampak banyak mobil - mobil pribadi merk - merk mahal seperti alpard dll, ya mereka orang kayanya NU. Namun memang tidak saya temui tempat istirahat, untuk sekedar ngobrol sejenak di daerah tempat ziarah yang exclusive, semuanya serba merakyat dan sederhana. Orang - orang kayanya NU juga biasa nongkrong di tempat - tempat sederhana di sekitar tempat ziarah, begitu juga kyai-kyainya. Yang menurut saya bagus. Biasanya para kyai NU itu menitipkan anak - anaknya di pondok pesantren teman - temannya yang sesama Kyai juga, dan tetap pondok pesantren yang sejenis yaitu pondok pesantren salaf yang sederhana. Jadi mereka sangat paham kondisi akar rumput mereka. Semua punya fasilitas sama, baik santri yang anak kyai maupun santri keturunan para habib yang keturunan arab.
Mondok di Nurul Haromain, saya merasakan belajar yang sangat manusiawi. Ini berbeda dengan swasana belajar di sekolah umum. Belajar di pondok itu tidak abai dengan masyarakat. Misal ada yang wafat ya ngajinya libur dulu para santri takziah, Jika ada yang syukuran lahiran anak ya ngajinya libur dulu para santri mengadiri syukuran, kalau ada undangan keluar misal diundang untuk menghadiri pengajian atau utnuk mengisi dzikir Alkhidmah ya kita keluar pondok menghadiri undangan tersebut. Biasanya naik bus atau truk jika jaraknya dekat. Jadi mondoknya tidak bosan, tidak di dalam pondok terus, tapi ada acara keluar, dan itu sangat menyenangkan bagi para santri karena mendapatkan makanan yang berbeda dari biasanya di pondak dan tentu saja bonus jalan -jalan. 
Untuk materi ngaji kitab di madrasah diniyah Nurut Tauhid menggunakan kitab jawa pegon dari kelas Shiffir Hingga Alfiyah. Biasanya ngaji  kitab di madrasah diniyah itu malam hari ba'da isya hinggaj jam 22.00 WIB. Kalau pagi jam 09.00 - 11.00 WIB itu biasanya ngaji kitab Riyadhus Sholihin, Tafsir Jalalen, Fathul Muin, dan untuk khusus santri putri saat Ramadhan adalah kitab ahlaq Bidayatul hidayahnya Imam Ghazali, biasanya diajar langsung oleh  Bu nyai. selain ngaji kitab di pondok pesantren Nurul Haromain juga ada takhfidz Qur'an. Biasanya yang menghafal Qur'an dimulai saat usia SMK atau Madrasah Aliyah. Kalau santri putri diperbolehkan untuk mengambil kelas kitab dan takhfidz tapi bagi santri  putra diminta memilih sama Abah Yai untuk mengambil salah satu saja, misalnya kitab saja atau takhfidz saja. Pertimbangannya dari urf (kebiasaan) saja ,kalau santri putri biasanya mampu, tapi kalu santri putra biasanya tidak sanggup kalau untuk mengambil dua kelas sekaligus.
Abah Yai sangat ideal dalam visinya. Kalau pesantren ya tentu saja ingin mencetak para kyai. Jadi kalau kita mendengarkan kajian biasanya Abah Yai menyampaikan kajian ba'da maghrib dan ba'da shubuh ,dengan diselipkan motivasi yakni kalian sedang kulakan ilmu makanya dicatat nanti sewaktu - waktu kulakanmu laku kamu sudah siap. Selain ngaj, santri yang besar - besar (khubbar) biasanya yang sudah lulus SMK atau MA dibebankan khidmah ( mengabdi). Macam- macam bentuk pengabdiannya. Ada yang pandai ya mengajar jadi ustadz, ada yang pintar dan punya uang ya dirorong untuk mondok lagi diluar negeri ada yang di Turkey ( untuk Tahfidz), ada yang di Yaman, dan ada pula di Abuya Syeikh Ahmad di Makkah. Kalau tidak punya kemampuan dalam kepintaran ya mengabdi sebisanya. Misal memasak untuk keluarga kyai, memasak untuk para santri, menjaga dan merawat putra / putri dan cucu Abah Yai, jadi driver Abah Yai dan Ibuk dll. semua dikerjakan oleh para santri yang berkhidmat. Jadi kyai ya tugasnya belajar, ngajar, memimpin wirid, melayani masyarakat dan mendoakan umat. Selain berpikir perkembangan pondok sebagain tugas pokoknya.
Itu saja sekilas tentang pondok salaf NU Nurul Haromain Kulonprogo. Last but not least alhamdulillah berkesempatan mondok entah dengan alasan apapun qodarulloh itu terjadi. Lain kali aku ceritakan ya tentang pengalamanku yang lain selama empat tahun di pondok. Semoga bermanfaat... Wallohu a'lam bii showab...


My Beautiful Mind - Part 2

             Setelah saya merasa stabil saya melamar pekerjaan sesuai dengan pengalaman saya di dunia ZISWAF dan kemanusiaan PKPU Purwokerto...