Siang tadi saya berkesempatan menonton film yang berjudul Na Willa. Na Willa adalah nama seorang anak Surabaya tepatnya di gang Krembangan yang mempunyai ayah yang dipanggil Pak dan seorang ibu yang dipanggil Mak. Pak adalah seorang etnis Tionghua yang bekerja pada sebuah kapal pengiriman barang, sehingga Pak biasa bekerja dalam waktu yang lama baru pulang kembali ke Surabaya. Sedangkan Mak berasal dari suku NTT dengan kulit sawo matang dan rambut ikal. Mak adalah full ibu rumah tangga yang mengurus Na Willa dengan dibantu dengan seorang pembantu yaitu Mbok Tun.Mak digambarkan sebagai sosok ibu yang pandai mengurus anak dan rumah tangga juga seorang ibu yang bijak dalam mengasuh Na Willa. Kehadiran film Na Willa ini tentu banyak mengobati inner child para penonton yang hadir ke bioskop. Kisaran Film itu berlatar dan setting tahun 1965 dengan lagu - lagu Lilis Suryani yang merupakan lagu favorit Mak yakni yang berjudul Hesti yang ternyata terngiang - ngiang di telingga saya karena nampak di laman Tik Tok saya dan story WA teman saya sehingga membuat saya tersenyum karena teringat akan film yang tadi siang saya tonton.Na Willa adalah sosok anak yang menggemaskan dan pandai. Sebelum masuk TK, Na Willa sudah bisa membaca dengan diajar oleh Mak di rumah. Na Willa mempunyai sahabat kecil yaitu Farida, Dul dan Bud. Farida yang biasa dipanggil Ida adalah anak yang lucu dan menggemaskan juga ia masih cadel. Sedangkan Dul adalah sepupu Farida yang usianya lebih tua. Farida, Bud dan Na Willa sepantaran. Farida adalah seorang muslim dan Na Willa seorang katolik. Dalam film ini nampak keaneka ragaman suku, agama dan ras yang tercermin dari keluarga Na Willa sendiri dan suku jawa adalah sukunya Farida, Dul dan Bud. Selain suku dan agama yang berbeda struktur keluarga Na Willa dan Farida juga berbeda. Farida mempunyai keluarga yang besar dengan kakak - kakaknya dan keluarga Na Willa merupakan keluarga kecil dengan tiga anggota keluarga dan ditambah dengan satu pembantu.Sebenarnya tidak ada konflik yang sangat klimaks atau plot twis dalam film ini. Hanya saja nuansa Surabaya pada tahun itu nampak nyata. Gang - gang yang terlihat, pasar yang dikunjungi, pakaian - pakaian yang dikenakan pada masa itu nampak indah terekam kamera dan hidup seperti layaknya suasana tahun 1965.Selain menghidupkan nuansa tahun 1965, film Na Willa juga sarat pembelajaran ilmu parenting. Bagaimana Pak meskipun LDR dengan anaknya terus berusaha membangun komunikasi dengan sering membelikan buku bagi Na Willa. Bahkan ketika Pak tidak bisa pulang sesuai denga rencana maka Pak memaketkan buku - buku untuk dibaca oleh Na Willa. Saat Pak pulang ke rumah, Pak juga hadir dalam pengasuhan yakni dengan membuatkan ayunan dimana ayunan tersebut selalu digunakan oleh Willa dan tentu saja Willa akan teringat terus akan Pak nya.Terkait dengan pendidikan anak, juga perlu dicermati. Na Willa masuk sekolah dengan keputusan Pak dan Mak yang berdiskusi, meskipun keputusan itu terjalin lewat surat. Kebetulan Pak mengalami masalah dengan kapalnya sehingga mendarat lama di Jakarta dan Pak belum dapat segera kembali ke Surabaya. Mak menulis surat untuk Pak yang isinya cerita keseharian Na Willa yang kebetulan sangat bikin merinding bagi Mak. Mak berbohong kepada Na Willa saat Dul mengajak Na Willa ikut dengannya untuk melihat kereta di dekat rel kereta api. Mak melarangnya karena itu berbahaya dan Mak berbohong dengan mengatakan " Pak. Sebentar lagi pulang!" Hal itu ia lakukan karena terdesak dan melarang Na Willa pergi dengan Dul di sekitar rel kereta api untuk melihat kereta. Qodarulloh Dul terserempet kereta api dan kakinya terluka hingga diamputasi, dan Dul menggunakan kaki palsu yaitu kayu.Persahabatan di masa kecil yang indah anatara mereka. Nampak keakraban anatara Dul dan Na Willa dengan seekor anak ayam berwarna kuning milik Na Willa yang diberikan kepada Dul, sebagai oleh - oleh di rumah sakit saat Dul opname. Bagi Na Willa Dul adalah sahabat yang paling hebat dalam circle pertemanannya. Tentang anak ayam si kuning kecil sekali itu juga merupakan suatu pembelajaran pengasuhan. Yakni pemberian hadiah seekor anak ayam kuning sangat kecil itu dengan dibarengi sebuah komitmen tanggung jawab bagi sang anak untuk merawatnya. Bukan cuma untuk hadiah yang menyenangkan semata.Keharmonisan suami istri juga diajarkan kepada anak. Pak dan Mak nampak berdansa di ruang tengah sambil mendengarkan lagu dari radio yang sedang diputar. Kejadian ini tak luput dari pandangan Na Willa... nampak di benak Na Willa keharmonisan suami istri itu seperti apa yang dilihat Na Willa dan itu pembelajaran bagi anak seusia Na Willa dengan melihat.
Last but Not Least nilai 9 saya berikan untuk film Na Willa yang ternyata ditulis dan disutradarai oleh Ryan Andrindhy juga merupakan sutradara film fenomenal anak - anak Jumbo beberapa bulan yang lalau.
*** Nopik corneR***
Jumat, 03 April 2026
Na Willa.
Senin, 17 November 2025
Pangku.
Pada hari kamis lalu tepatnya tanggal 6 Nopember saya sengaja meluangkan waktu untuk menonton film Pangku yang tayang di hari pertama. Film ini merupakan film pertama yang disutradarai oleh Reza Rahardian. Honestly saya sangat exited dengan film ini bahkan menunggu -nunggu kehadirannya di bioskop bukan hanya numpang lewat di FYP Tik Tok saya saja. Sampai saat film ini tayang di bioskop tanah air, film ini sudah meraih empat penghargaan di Busan International film festival. Nampak pula berseliweran di Tik Tok saya para pemain pendukung dengan kostum mereka dan yang nampak mencuri perhatian memang Fedi Nuril (pemeran Hadi) yang datang pada perhelatan Busan International Film Festival dengan make up eyeliner di seputar matanya yang sempat menjadi obrolan ringan yang seru di kalangan netizen. Kata Reza terkait hal ini… “ya karena dulunya Fedi Nuril adalah seorang anak band, mungkin dia mau mengexplore dirinya dengan eyeliner karena semangat dalam dirinya sebagai anak band dimasa lalu. “ Padahal malah ada pula di salah satu podcast disebutkan bahwa Fedi Nuril adalah sosok pemain duta poligami karna acting Fedi di beberpa film yang memerankan sosok seorang lelaki berpoligami seperti di film Ayat – Ayat Cinta dan Syurga yang Tak Dirindukan 1 dan 2.
Film Pangku bercerita tentang sorang wanita bernama Sartika (ClarestaTaufan) yang berniat mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Latar belakang yang misterius memang tidak diceritakan, hanya diawali ketika Sartika menumpang sebuah truk bermuatan yang diturunkan oleh supir truknya di daerah Indramayu lantaran truknya macet dan ada seorang lelaki tua mengatakan bahwa jika ada truk ditumpangi wanita, biasanya si wanita itu pembawa sial maka sebaiknya si wanita itu diturunkan saja. Eh benar, si supir truk mengikuti nasehat pak tua dan Sartika diturunkan.Kemudian Sartikamenyusurijalanan dan sampailah pada satu komplek lokalisasi dan ada disebelah komplek tersebut warung remang – remang. Di Warung itu biasanya disediakan kopi dan makanan ringan serta rokok. Adapun penyajian kopinya adalah unik dan khas. Yakni kopi diseduh oleh seorang wanita berpakaian seksi kemudian disajikan kepada pengunjung dengan cara duduk dipangkuan pengunjung sambil bergelayutan dan atau sambil mijitin penikmat warung kopi. Ada pula yang bisa langsung pesan bilik dibelakang warung untuk adegan tidak sekedar pijit memijit.
Saat Sartika datang, dia kelelahan dan duduk dilincak kayu didepan warung kopi serta memesan teh. Adalah simbok sebutannya si penjual kopi yang diperankan oleh Kristin Hakim yang dengan tingkat kecerdasan acting beliau yang diatas rata-rata pemain film tentu saja memerankan peran itu dengan sangat apik. Simbok menawarkan kepada Sartika untuk ikut di rumah gubuknya yang tidak jauh dari warung kopi itu, karena tidak ada pilihan lain maka Sartika ikut dengan Simbok pulang kerumah. Tawaran untuk menjadi tukang kopi di warung disampaikan simbok kepada Sartika. Namun Simbok tidak maksa, pelajaranya adalah di setiap titik dunia manapun meskipun itu hitam pasti ada tangan Alloh yang pengasih untuk hambaNya dalam kasus ini melalui tangan Simbok. Simbok juga melihat kondisi Sartika pada saat itu sedang hamil besar sekitar delapan bulan.
Waktu demi waktu berlalu, Sartika sudah melahirkan seorang putra bernama Bayu (diperankan oleh Syakeel Fauzi). Simbok tidak tinggal sendirian di rumah, disitu ada Bapak, swami simbok yang juga sudah tua tapi terkena PHK dari pabrik plastik tempat beliau bekerja. Selama film berlangsung, Bapak tidak mengeluarkan suara sepertinya disengaja agar karakternya kuat dan terlihat unik. Bapak bekerja sebagai buruh tani jika ada pekerjaan namun jika tidak, Bapak menganggur. Pada suatu hari, Sartika pulang dari bekerja mengikuti Bapak menjadi buruh tani dengan membersihkanl sisa pohon padi di sawah setelah panen, membuka tempayan tempat beras ternyata sisa beras sangat sedikit dan sudah tidak punya persediaan beras lagi. Upah dari bekerja sebagai buruh tani cuma sedikit. Sartika merasa tidak enak hati kepada Simbok yang bekerja sebagai tulang punggung keluarga dengan berjualan kopi. Maka Sartika memaksakan dirinya untuk turut serta membantu Simbok berjualan kopi sebagai penjaja kopi pangku di warung Simbok.
Hari demi hari berlalu, tibalah seorang sopir ikan bernama Hadi (Fedi Nuril) yang dating untuk ngoi di warung kopi di tmat Bu Maya (Simbok). Hadi jatuh cinta kepada Sartika hingga mereka menikah. Bayu sbagai salah satu potret generasi fatherls (tidak punya Bapak) sangat bahagia menerimakehadiran Hadi. Mereka membeli rumah sederhana di pinggir pantai. Mereka nampak Bahagia. Hingga suatu hari datanglah seorang wanita bernama Anisa ke rumah mereka. Ternyata Anisa adalah isteri Hadi yang berkerjasebagai seorang TKW di Arab Saudi. Betapa hancur hati Sartika yang ada saat itu sedang hamil muda. Dia membawa tas besar dan mengajak Bayu pergi ke rumah Bu Maya (Simbok). Setelah bercerita tentang apa yang terjadi, maka Sartika memutuskan untuk tinggal bersama Bu Maya (Simbok). Dan ia kembali menekuni profesi sebelum ia menikah yakti sebagai penjaja kopi di warung kopi pangku Bu Maya (Simbok). Singkat cerita Sartika hidup Bersama dua anaknya di kamung Bu Maya (Simbok) dan menempati rumah Bu Maya (Simbok) hingga film ini berakhir dengan Bayu lulus SMK kemudian berjualan mie ayam dengan gerobak yang dulu rnah dibuatkan oleh Hadi untuk Sartika. Adik Bayu sudah SMP brjnis kelamin perempuan dan simbok (Bu Maya) serta Bapak sudah tiada.
Itulah
sepenggal kisah hidup seorang wanita pinggiran yang berjuang untuk bertahan
hidup dengan sgala daya dan upaya yang ia punya untuk kedua anaknya. Well…film
ini bagus secara cinematografi, dan buat saya yang menyukai film jenis social seperti
ini tentu sangat tersentuh. Beberapakali saya meneteskan air mata untuk
Sartika. Untuk skala satu sampai Sepuluh saya beri nilai Sembilan untuk film
ini. Reza Rahadian memang tidak ikut tampil, tapi si pembaca berita di televisi
Simbok (Bu Maya) di warung kopi yang saat itu menyampaikan berita tentang BJ
Habibi adalah suara Reza Rahardian. Tampil tipis - tipis.
Yuk tonton film karya anak bangsa, dukung film – film yang berkwalitas
di negeri ini.
Rabu, 12 November 2025
Lir Ilir dan Kolaborasi Dakwah
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti acara Lir-ilir yang
diadakan di Jogja Expo Center (JEC). Acara tersebut berupa festival kajian yang
diselingi dengan pementasan lagu -lagu religi yang disajikan pada panggung
utama. Selain festival kajian, Lir - ilir juga membuka kesempatan untuk pelaku usaha
kecil dan usaha menengah untuk membuka
teenan baik berupa teenan pakaian, buku - buku maupun makanan. Acara
berlangsung dua hari dan sebenarnya acara semacam ini sudah berlangsung selama
empat tahun berturut - turut hanya berbeda tema saja. Seperti tahun lalu,
panitia memberikan tema wang - sinawang untuk acara yang sama.
Saya berkesempatan hadir pada hari pertama dan hari kedua meskipun tidak
dalam keadaan full. Pada hari pertama saya mengiuti talk show yang disampaikan
oleh ustadz Shihabuddin Isykarima pimpinan pondok pesantren Isykarima Solo.
Beliau memaparkan bahwa kemerdekaan sesungguhnya adalah ketika kita bisa berdakwah
dengan membangun pesantren dengan area seluas-luasnya. Pesan beliau, jangan
sampai menjual tanah bahkan paradigmanya harus dibalik yakni harus membeli
tanah seluas -luasnya untuk dakwah, dalam hal ini membangun pesantren. kenapa
pesantren? ya karena dengan adanya pesantren dalam suatu wilayah akan membawa
pengaruh besar yanki peradaban dalam wilayah tersebut. Setelah sesi talk show
dengan ustadz Shihabudin Isykarima dilanjutkan dengan pementasan lagu -lagu
religi. Adapun lagu -lagu religi dibawakan oleh Ilham syahreza mantan voalis
nine ball band, Iklima yang merupaan artis lagu religi pendatang baru dan
ditutup oleh penampilan Opic tombo ati. Acara pada hari pertama selesai pada pukul
22.30 WIB.
Pada hari kedua Lir-Ilir saya berkesempatan
mengikuti sesi talk show bersama Bapak Anis Baswedan dengan dimoderatori oleh komika
Abdur Arsyad. Bapak Anis berbicara dengan mengusung tema ; " Jangan Lelah
Mencintai Indonesia."Tema ini diangkat karena melihat keresahan penggagas
acara terhadap kondisi anak -anak muda kita
yang terlihat kelelahan untuk mencintai Indonesia. Hingga nampak pada hastag
salah satu medsos tanah air hastag kabur aja dulu. Pada sesi ini Pak Anis
mengajak generasi muda yang hadir (yang tercatat sebesar 18.000 pengunjung)
supaya jangan lelah untuk mencintai Indonesia. karena banyak hal yang baik yang
dipunyai bangsa kita hanya saja pemerintahannya saja yang belum merepresentasikan
dirinya sebagai pemerintahan yang baik. Sifat - sifat baik yang dimiliki bangsa
kita diantaranya sifat dermawan, ramah, gotong - royong dll. Sifat baik tersebut
merupaan salah satu modal untuk menjadi bangsa besar dimasa mendatang.
Lir-Ilir memang diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan RI,
sehingga tema - tema yang dihadirkan dalam sesi -sesi kkajian atau talk shownya
adalah tema- tema yang membangkitkan rasa nasionalisme serta kecintaan pada
negeri kita Indonesia.
Sesi terakhir Lir Ilir adalah sesi kajian bersama empat sekawan para
ustadz yang terdiri dari ustadz Salim A Fillah, Ustadz Abdul Somad, Habib
Muhammad bin Anis dan ustadz Luqmanul Haqim (Ayah Man). Keempat ustadz tersebut
membawakan tema masing – masing secara medley. Setiap ustadz kebagian jatah
waktu selama 20 menit kecuali ustadz Abdul Somad yang mendapat waktu satu
jam. Ke empatnya berbicara tentang kemerdekaan.
Diluar acara Lir ilir ini , saya ingin menyoroti gaya berdakwahnya
ustadz Salim Afillah yang sangat cantik. Ustadz Salim sebagai founder kegiatan
ini berusaha menyatukan empat ustadz
dari Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur dan Yogyakarta. Beliau sering menyebut
dengan seruan dari empat penjuru untuk negeri. Keempat ustadz tersebut berbeda
latar belakang ada yang NU ada yang Tarbiyah dan lain sebagainya. Keempatnya
berkolaborasi dengan tidak meninggalkan keaslian (kegenuinan) mereka, mereka
tetap jadi diri mereka sendiri. Ustadz Abdul Somad memberikan kajian dengan
ditemani penampilan Jogja Hadroh clan
dimana hadroh merupakan kesenian yang biasa disajikan oleh kaum
Nahdhiyin namun mereka semua dan audiens juga sangat enjoy menikmatinya termasuk
saya.
Tak heran, ustadz Salim A. Fillah diberikan jalan yang mudah dalam
berdakwahnya….mulai dari menulis buku, berdakwah hingga manca negara, membuat
event besar dalam dakwah seperti Lir ilir ini. Setelah saya amati melalui
Instagram beliau (saya salah satu follower beliau), beliau memang menjalin
silaturrahim dengan semua aliran dakwah. Dengan para ustadz NU beliau dekat dan
takdziem. Tidak perlu berbaiat seperti yang dilakukan ustadz Hanan Attaki tapi
cukup diperlihatkan dengan bersilaturrahmi dengan para ustadz dari berbagai
aliran dakwah terlebih para kyai NU.Selain beberapa model dakwah diatas ustadz
salim juga membangun pesantren yakni pesantren Merapi Merbabu. Last but Not
Least sukses terus dakwahnya ustadz Salim dan ustazd – ustadz yang lain dan
biarlah kami jamaah menikmati kebersamaan para ustadz di negeri ini dengan
kerukunan dan kebersamaan.
Wollohualam bii showab……
Minggu, 18 Mei 2025
Ummi.
Sudah sebulan yang lalu bulan April menyapa. Pada
bulan tersebut teringat saya pada salah satu sosok mulia inspirasi dalam
hidupku. Siapakah beliau? Ya....beliau adalah Ummi (Ibuku). Ummi dilahirkan
pada tanggal 27 April 1950. Dulunya sewaktu saya masih kecil, saya
memanggil ibu saya dengan sebutan "Simbok". Wajar saja lantaran
biasanya orang tua kita mencontohkan sebutan apa yang akan anak - anak mereka
panggil bagi orang tua mereka. Dulunya, kami semua putri Ummi memanggil beliau
dengan sebutan /panggilan Simbok karena Bapak mencontohkan itu kepada kami
sejak kecil. Hal itu sama dengan halnya ketika Bapak memanggil Nenek dengan
sebutan Simbok. Ketika saya memasuki usia remaja, dan kedua kakaku sudah
memasuki masa kuliah, kami sepakat mengganti panggilan Simbok dengan sebutan
Ummi. Pada saat itu, saya awal - awal SMA dimana saya mulai mengenal tarbiyah.
Sebutan bagi orang tua bagi para jamaah tarbiyah biasanya adalah Abi dan Ummi.
Sedangkan untuk alasan kenapa kedua kakak saya juga mengganti sebutan Simbok menjadi
Ummi saya kurang paham.
Well.....menurut saya ada segi kepantasan bagi seseorang Ibu bisa
dipanggil Ummi. Bukan cuma soal nama yang kearab - araban menurut para kritikus
yang tidak suka dengan istilah yang kearab – araban. Dalam lingkaran jamaah /
harokah yang berasal dari negara Timur Tengah tentu saja sangat familiar dengan
sebutan Ummi untuk memanggil ibu mereka. Misalnya jamaah Tarbiyah yang saat ini
terafiliasi dengan PKS yang sering disebut mirip dengan Ikhwanul Muslimin di
Mesir, jamaah / harokah Wahabi atau Salafi yang merupakah gerakan dakwah yang
berasal dari Makah / Madinah.
Bagi saya, kita tidaklah perlu anti dengan istilah -istilah bahasa Arab
dalam keseharian kita. Itu hanya masalah habbit/ kebiasaan saja. Kita
juga tidak masalah mendengarkan seseorang yang biasa berbicara dengan dicampur
dengan istilah /kata berbahasa Inggris. Nah itu hal yang sama. Kalau orang yang
biasa menggunakan bahasa Inggris dia akan biasa menyebutkan kata well...
and dan lain sebagainya. Bagi yang familiar dengan bahasa Arab
tidak cuma pada saat membaca Al qur’an saja, tapi dalam pergaulan sehari- hari
mereka, bahasa pengantar mereka saat kuliah di Timur Tengah, buku - buku yang
mereka baca tentu berbahasa Arab. That's way mereka familiar
dengan bahasa Arab hingga terbawa dalam dialek percakapan dalam pergaulan
sehari - hari. Itu hal yang sangat wajar, bukan karena mereka sok - sok jadi
kearab - araban. Itu hal yang sangat bisa kita pahami dan maklumi kenapa
seseorang menjadi sering menggunakan istilah - istilah bahasa Arab yang sudah familiar
seperti kata Afwan (maaf) sebutan akhi-ukhti (bagi teman sebaya)
kadang para ustadz /ustadzah juga menyebutkan begitu bagi para jamaahnya
saat memberikan ceramah.
Dalam kasus penamaan Ummi kami sebagai pribadi, tentu saja saya bukan
lulusan Universitas dari daerah Timur - Tengah, saya juga tidak pandai
berbahasa Arab. Kedua kakakku juga demikian. Panggilan Ummi kami berikan
lantaran menurut saya, Ummi itu merupakan sebutan yang pas / tepat bagi ibuku.
Ya lengkapnya Ummi Koyimah, kenapa? Setahu saya, Ummi adalah sosok
perempuan kampung sederhana yang selalu meluangkan waktunya untuk berhidmah
dalam hal ini berda’wah (menyeru kepada kebaikan) di lingkungan sekitar dimana
Ummi tinggal. Berda’wah itu tidak harus menjadi penceramah / ibu nyai
tetapi bisa juga dengan cara menjadi aktifis dalam suatu organiasi
kemasyarakatan.
Pengalaman Ummi dalam berorganisasi dimulai saat Ummi masih muda. Saat Ummi
masih muda, Ummi bergabung dengan Fatayat NU. Seragam kebaya berwarna hijau
milik Ummi saat masih aktif di Fatayat NU juga dibawa Ummi kerumah Bapak
dan disimpan dilemari pakaian di kamar Ummi. Kemudian Ummi menikah dengan Bapak
(Abu Sujak) pada usia 22 tahun. Pada saat itu, Ummi berprofesi sebagai guru SD
di daerah Sraten Mertoyudan. Tentu saja itu bukanlah jarak yang dekat dengan
rumah simbah (Martho Sofyan) di kampung kelahiran Ummi di Dusun Gamol. Ummi
berijazah terakhir ST (Sekolah Teknik) di Kotamadya Magelang. Menurut cerita
Ummi, dahulunya Ummi berangkat sekolah dengan berjalan kaki dari rumah sampai
stasiun Blabak, perlu kita ketahui bahwa dulu ada rel kereta api jalur Jogja -
Magelang. Konon kabarnya jalur ini juga akan dihidupkan kembali. Semoga saja
bukan hanya sekedar issue saja ya tatapi dapat terealisasi.
Ummi biasanya diberi bekal sebutir telur bebek sebagai ganti uang saku
sekolah. Sedangkan untuk ongkos naik kereta dibayar bulanan di stasiun
Blabak. Telur bebek yang dibawa Ummi biasanya dijual di warung mbok Saib di
perempatan Dusun Kalangan. Sampai saat ini Warung mbok Saib masih ada, entah
dikelola oleh generasi keberapa dari mbok Saib. Warung mbok Saib masih menjual bubur
sayur dan aneka gorengan seperti waktu dulu, namun beberapa waktu lalu saya
berkesempatan melewati jalan di depan warung mbok Saib, nampak juga berjualan
buah - buahan seperti jeruk, melon, semangka, pepaya dan lain sebagainya.
Saat Ummi dikenalkan dengan Bapak (bertaaruf) juga merupakan salah satu
momentum yang Ummi ceritakan kepadaku. Ummi dijodohkan dengan Bapak (Abu Sujak)
oleh Almarhum Pakdhe Mat Sirat yang saat ini rumahnya bersebelahan dengan
rumahku di kampung. Makanya hingga saat ini meskipun keluarga pak dhe Mat
Sirat merupakan keluarga yang jauh tapi kami merasa dekat seperti saudara
dekat. Bahkan dengan para putra putri Pak dhe Mat Sirat kami rasanya seperti
dengan saudara sepupu, saking dekatnya. Ya barangkali karena ada unsur historis
bahwa yang menjodohkan Bapak dan Ummi adalah Pak Dhe Mat Sirat. Jadi Bapak dan
ummi merasa harus membalas budi baik Pak Dhe Mat Sirat karena sudah menjodohkan
mereka berdua.
Ummi kalau menurut teori kepribadian dalam ilmu psikologi termasuk orang
dengan karakter sanguinis. Suka menghibur orang lain dan juga pernah bertingkah
konyol seperti badut. Pada saat itu saya masih bekerja di Jakarta, saat saya
pulang kampung kebetulan ada pertemuan PKK di rumah. Beberapa ibu - ibu muda
bercerita bahwa ummi melakukan aksi mengikuti lomba fashion show yang diadakan oleh para
mahasiswa yang sedang KKN di desa kami. Kata mereka, Ummi sudah menawarkan kepada
para anak muda puteri yang mau mewakili kampung kami untuk mengikuti lomba fashion
show di Kelurahan. Alhasil tidak ada ada yang bersedia. Eh….kok ternyata malah
Ummi sendiri yang maju. Pada saat fashion show tersebut tentu saja Ummi
adalah peserta paling sepuh (tertua),bahkan ada Pak Khozin beliau adalah kepala
dusun dari kampung Japun,yang ikut datang ke tengah panggung dan menggandeng tangan
Ummi bak puteri yang digandeng oleh sang pangeran. Tentu saja menjadi bahan
lawakan dan mengundang gelak tawa para hadirin yang datang pada saat itu. Ummi
memang konyol!
Selain kekoyolan Ummi yang tentu saja sangat mengesankan bagiku pribadi
adalah Ummi sebagai Ibu yang juga menjadi sahabatku. Cerita apa saja selaluku
dengan Ummi dan menurutku Ummi adalah sahabat yang asyik dan tidak membosankan.
Kalau sama Bapak,aku dan kedua kakakku terbiasa menggunakan bahasa kromo dalam
percakapan sehari – hari. Tapi kalau dengan Ummi aku ngobrol biasa saja seperti
layaknya seorang sahabat. Jiwa pengabdian Ummi dalam berda’wah merupakan
inspirasiku. Ummi remaja adalah aktifis dalam organisasi Fatayat NU yang berada
di tingkat Desa. Bukan aktifis yang bergerak sampai tingkat Kabupaten,
Propinsi, atau bahkan hingga sampai pengurus pusat Fatayat NU pusat. Oh…bukan!
biasa saja….ordinary person… tapi satu hal yang pasti, Ummi tidak pernah
lelah dalam berda’wah. Berda’wah itu menyeru kepada kebaikan. Menyeru kepada
kebaikan dalam bentuk berjamaah
(organisasi) tentu saja akan memberikan dampak lebih luas bagi ummat
daripada jika dibandingkan dengan berda’wah dengan dilakukan secara individu /
sendiri saja.
Setelah Ummi menikah dengan Bapak, Ummi pindah bertempat tinggal di kampung
Bapak yakni Tirto yang mayoritas adalah warga Muhammadiyah. Ummi berazzam untuk
terus bisa berkontribusi untuk ummat dengan bergabung menjadi pengurus Aisyiyah
Muhammadiyah ranting Desa Paremono. Seingat saya, Ummi didapuk menjadi
sekretaris. Ini bagus menurut saya. Intinya tetap berkontribusi dalam da’wah
apapun kendaraan /organisasi yang ada pada lingkungan tertentu. Bisa
dibayangkan jika Ummi tidak mempunyai keterbukaan dalam berpikir bukan tidak
mungkin, Ummi akan menjadi sosok yang fanatik terhadap harokah (organisasi
tempat beliau mengabdi dahulu yaitu Fatayat NU) tapi Ummi sangat legowo untuk berpindah kendaraan / harokah yang ia ikuti.
Miris memang kalau kita melihat saat ini ada saudara – saudara kita sesama
muslim yang acap kali menjelek -jelekkan saudara- saudaranya sesama muslim
hanya karena berbeda harokah (organisasi keagamaan) yang diikuti.
Tapi barangkali Ummi bisa dengan sangat enaknya berpindah harokah
(organisasi) lantaran Ummi just ordinary person hanya orang biasa saja. Dalam
artian Ummi bukanlah seorang putri dari sosok icon kyai besar / ketua
organisasi masyarakat. Jika mau mencontoh sikap keterbukaan seorang putra icon
kyai besar NU terkait dengan penyikapan terhadap perbedaan organisasi
masyarakat adalah Ipang Wahid. Seperti kita ketahui, Ipang Wahid adalah putra
dari kyai besar NU yaitu Kyai Sholahudin Wahid (Gus Shola) yang merupakan adik
kandung Almarhum Gus Dur. Ipang Wahid pernah meminta izin kepada salah satu
elit Organisasi / pimpinan organisasi Muhammadiyah untuk magang beberapa bulan
di kantor Muhammadiyah. Nanti ilmu dan pengalaman saat magang di Muhammadiyah
akan diterapkan sebagai bahan masukan bagi perkembangan Organisasi NU. Menurut
saya itu menarik dan inspiratif, karena orang sekelas Ipang Wahid yang tentu
saja semua orang tahu bahwa DNA nya adalah NU dengan semangat
keterbukaan berpikir tentang harokah (organisasi) adalah sebatas itusaja. Itu
saja sudah mampu membahasakan bahwa Ipang Wahid tidak asobiyah (merasa
bahwa harokah / organisasinya yang paling benar dan baik). Hal semacam ini
bagus sebagai bahan perenungan bagi kita bersama apalagi jika kita adalah
aktifis da’wah.
Selain berkhidmah dalam organisasi da’wah, Ummi juga aktifis PKK Desa. Dalam
keikut sertaannya di kegiatan – kegiatan PKK Desa,Ummi tidak pernah mamandang
siapa Kepala Desa yang saat itu menjabat. Kadang ada, bahkan kebanyakan Ibu –
Ibu PKK Desa itu mau aktif di kegiatan PKK Desa karena Kepala Desanya adalah
jagonya dalam pemilihan kepala Desa. Tapi Ummi tidak demikian, dari jaman dulu
Bapak aktif sebagai Kepala Dusun / Bayan / Prabot, Ummi langsung aktif menjadi
kader PKK sampai akhir hayat beliau. Ummi berganti – ganti bagian / devisi
/pokja di PKK tapi seingatku Ummi sering membidangi pokja I yang berkaitan
dengan nasionalisme. Kalau saya ibaratkan organisasi organisasi disekolah SMA,
maka pergerakan da’wah di NU atau Muhammadiyah itu seperti anak- anak Rohis /
Rohani Islam dan menjadi kader PKK itu seperti anak- anak OSIS. Keduanya
mempunyai nilai /value yang sama yakni bermanfaat untuk sesama, karena
motto hidup Ummi adalah “Khoirunnaas Anfauhumlinnas…bahwa orang yang
paling mulia adalah orang yang paling banyak manfaatnya untuk sesama /orang
lain.”ungkapan tersebut seperti yang termaktub dalam sebuah hadits.
Ummi mempunyai bakat public speaking. Selain mengisi pengajian ibu –
ibu di lingkungan RT, Ummi juga kerap mewakili Ibu Lurah berpidato baik
dilingkungan kecamatan hingga Kabupaten. Selain mewakili berpidato, memberikan
sambutan, Ummi juga kadang membuatkan naskah pidato / sambutan untuk Bu Lurah. That’s
Way…mungkin saat ini saya mewarisi bakat itu dari Ummi….Terima kasih ya
mii….
Obrolan terakhir dengan Ummi adalah saat saya dan kakak saya pulang kampung
saat libur lebaran tahun 2007. Ummi menuturkan bahwa sebenarnya kelak kita itu
bisa memilih mau dari pintu yang mana kalau kita mau masuk syurga. Pintu syurga
itu ada delapan. Ada orang yang bisa masuk syurga melalui pintu sedekah, ada
yang bisa masuk syurga melalui pintu sholat malamnya, ada orang yang bisa masuk
syurga melalui pintu birrul walidainnya dan lain sebagainya. Nah, maka
tinggal itu persiapkan saja yang mana. Kalau misalnya kita mau masuk syurga
melalui pintu tahajud maka rajinlah bertahajud dan harus punya intensitas lebih
daripada orang pada umumnya. Ketika saya dan kakakku pulang kembali ke rumah di
hari H – dua dari lebaran haji /Iedul Adha, ternyata sudah tidak bisa lagi kami
dengarkan nasehat – nasehat Ummi. Nasehat tentang pintu syurga tadi merupakan
nasehat terakhir Ummi untukku dan kakakku.
Ummi wafat pada usia 57 tahun, beliau lahir pada tanggal 27 April 1950 dan
wafat pada tanggal 13 Desember 2007. Ummi mempunyai hobbi membaca. Buku apa
saja Ummi baca, koran bekas juga Ummi baca. Majalah – majalah yang putri
-putrinya minati juga Ummi ikutan baca. Seingatku tulisan dalam bentuk apa saja
baik buku, majalah, koran semua Ummi baca.
Maka pelajarannya adalah jika ingin mempunyai anak yang suka membaca
maka cukuplah dengan memberi contoh saja. Karena kami putri- putri Ummi selalu
melihat Ummi membaca maka semua putrinya suka membaca.
Semoga saya bisa meneladani Ummi yang selalu punya kontribusi untuk
bermanfaat bagi ummat maupun sesama baik dalam lingkup yang luas seperti di
negeri ini jika memungkinkan atau dalam lingkup kecil dilingkungan tempat
tinggal saya Aamiin Ya robbal Alamiin. Kakakku juga sudah mengikuti
jejak Ummi. Setahuku di rumahnya di Purwokerto kakakku (Bunda) ikut aktif dalam
kegiatan PKK dan dasa wisma. Itu persis
sama dengan salah satu aktifitas yang dilakukan Ummi semasa hidup beliau.
Sempat Bunda ( kakakku) rasan – rasan dalam bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia
seperti mengenang Ummi. Kata bunda ( kakakku) “Ummi ki ra duwe kesel.”
Dalam Bahasa Indonesia “Ummi itu tidak punya rasa lelah.” Ya…karena hari- hari
Ummi sibuk dengan urusan ini urusan itu, kesana kemari urusan PKK, urusan
masyarakat kampung, urusan di organisasi Aisyah. “Masya Alloh ya Bund….” Kataku,karena
Bunda (kakaku) merasa dengan melakukan aktifitas di PKK dan dasa wisma saja Bunda(kakaku) sudah merasa cukup sibuk,
disamping Bunda (kakaku) mengemban peran utamanya sebagi istri dan Ibu rumah
tangga.
Beberapa tahun lalau, saat saya nengok sawah peninggalan Bapak. Saya bertemu
dengan almarhum Bapak Muhdin, yang kebetulan letak sawahnya tepat dibawah sawah
Bapak. Kami mengobrol ringan, Dalam obrolan kami, Pak Muhdin bercerita tentang
fenomena aktifis masyarakat pada saat itu. Kata beliau jarang ditemui orang
-orang seperti ibuku yang mau bersabar dan ikhlas ngopeni ( mendidik)
masyarakat. Pada saat itu, semua aktifis mayarakat larinya ke partai. Ada yang
langsung masuk ke partai menjadi salah satu anggota partai ada juga yang
awalnya masuk organnisasi masyarakat seperti Muhammadiyah eh ya ujung -ujungnya
lebih tertarik untuk pindah ke PAN, jadi ngopeni masyaratnya ditinggalkan.
Waktu itu saya masih di Dompet Dhuafa dan saya mengungkapkan bahwa saya saat
ini juga tidak mengambil jalan dakwah seperti Ummi melainkan saya memilih
bekerja di Dompet Dhuafa itu sebagai jalan Dakwah saya. Pada saat itu pilihan
saya adalah berkhidmah untuk kaum marginal dan kemausiaan melalui tempat saya
bekerja. Dulu saya juga sempat pulang kampung setelah selesai mengikuti
training saat awal – awal periode mengenal Dompet Dhuafa. Pikiran saya saat
itu, saya adalah anak bungsu,dan Ummi sendirian di rumah dan saya pulang
kampung untuk bertanya sama Ummi sebaiknya saya di Rumah atau bagaimana? Jika pada
saat itu Ummi menginginkan saya untuk tetap di rumah untuk menemani Ummi saya juga siap. Dalam
pandangan Ummi ,berdakwah itu juga disesuaikan dengan modal pendidikan yang
kita punyai. Kenapa Ummi memilih berdakwah di rumah /kampung dengan alasan modal
ilmu Ummi hanya cukup untuk berdakwah di kampung tapi kamu lain begitu kata
Ummi. Kamu sarjana,saat kamu kuliah juga kamu aktifis maka menurut pendapat
Ummi kalau aku berda’wah di Jakarta itu sudah tepat. Dengan alasan bisa
memberikan kemanfaatan yang lebih luas bagi Indonesia. Maka saat itu aku
memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan berda’wah Wakaf di Dompet Dhuafa.
Pak Muhdin mengangguk….pertanda bahwa beliau paham akan argumentasiku bahwa
ada juga sebenarnya model da’wah yang lain selain ngopeni masyarakat melalui
organisasi keagamaan seperti NU atau Muhammadiyah. Seingatku, dulu Ummi menjadi
sekretris Aisyiyah Ranting Paremono dimana ketuanya adalah Ibu Umi Kulsum dimana beliau adalah istri dari Almarhum
Bapak Muhdin.
Sebagai seorang Ibu,Ummi adalah sosok Ibu yang penyabar. Ummi tidak pernah
membentak- bentak puri-putrinya. Kalau Ummi sedang jengkel juga yang keluar
dari mulut Ummi juga kalimat yang positif. Karena Ummi sadar bahwa perkataan
adalah doa. Misalnya, kami putri – putrinya sedang malas mengerjakan pekerjaan
rumah tangga (menyapu,cuci piring, dll) Ummi tidak marah Cuma mengomel begini
kira - kira “Tak dongakke anak- anakku dadi wong sing Mulyo sing isoh mbayar
babu.” Artinya begini “Aku doakan semoga anak-manakku menjadi orang kaya
berkecukupan secara materi sehingga
nanti kami mampu membayar asisten rumah tangga.” Begitulah Ummi…
Ada juga cerita dari Ummi kepadaku yang disampaikan dengan nada yang sangat
berat yakni saat Almarhumah kakak pertamaku sempat protes sama Ummi lantaran
kekasih hatinya tidak jadi meminangnya sebagai istri dengan alasan orang tua si
laki -laki kekasih kakakku itu tidak setuju jika putranya menikah dengan
kakakku karena kakakku bukan dari keluarga yang darah biru atau hanya orang
biasa saja. Duh…saya menyayangkan sikap kakakku. Kok juga kakakku protes sama
Ummi. Kenapa juga tidak protes saja skalian sama gusti Alloh! Lha wong Ummi
juga tidak minta sama Alloh untuk dilahirkan dari keluarga Martho Sofyan yang
merupakan keluarga biasa- biasa saja. Qodarulloh Ummi menikah dengan Bapak Abu
Sujak yang merupakan putra mbah Martho Sentono yang juga orang biasa – biasa
saja. That’s destiny sister! Bahwa takdir itu tidak bisa ditolak, yang bias
kita lakukan akan takdir Alloh itu kita bersikap khusnudzon sama ketetapan
Alloh karena itu kondisi terbaiknya kita. Tapi aku mencoba memahami suasana
kebatinan Almarhumah kakaku. Bahwa kakakku berpacaran dengan pria itu adalah
fakta, jadi mungkin sudah ada rasa cinta dan sudah berharap bahwa laki -laki
tersebut adalah jodohnya. Nah, disini menurutku salah satu sisi negatif /
kekurangan dari pacaran. Kalau memakai cara ta’aruf itu sangat mudah untuk
menyikapi kondisi semacam itu, cukup dengan kalimat “itu berarti bukan
jodohnya.” Cukup.
Namanya jodoh itu memang sekufu /
sepadan. Meskipun banyak penafsiran sekufu itu dalam hal apa? Misal saja
mengartikan sekufu dalam hal nasab yaitu juga boleh, makanya lihat saja gus ini
putranya kyai ini besanan dengan kyai itu dan ning itu putrinya kyai itu. Di
dunia elit politik kita sebut saja SBY yang besanan dengan pak Hatta Rajasa ,
bahkan Billgate juga sudah mengeluarkan statement kalau tidak mau
mempunyai menantu dari golongan oang miskin. Ada juga memang orang -orang yang humble
tidak mempermasalahkan jurang pemisah untuk hal- hal tersebut diatas. Misalnya nasab, kekayaan tapi orang pada umumnya memang cari yang
sekufu /sepadan dalam hal tersebut.
Aku tersenyum dan membesarkan hati Ummi.” Mi…kalau aku lain mii…kalau missal
ada laki -laki yang menolakku dengan alasan nasab yang tidak sekufu aku tidak
masalah mii…karena aku bisa cari yang lain yang bisa menerima aku apa adanya
dalam hal ini nasabku dimana aku adalah seorang anak kampung yang biasa- biasa
saja, dan aku tidak akan baper parah seperti kakakku karena aku tidak pacarana.
Aku memilih jalur taaruf. Jadi taaruf itu nothing too loose ….kalo
berhasil taarufnya yaitu namanya
berjodoh Alhamdulillah. Kalau taarufnya belum berhasil ya berarti itu belum
jodohku.” Ummi…menghela napas lega. Lantas aku kembali bertanya sama Ummi. Saat
itu Ummi bilang apa sama almarhumah kakak? Umi menjawab, “Aku doakan semoga
anak-anakku kelak punya derajat yang
tinggi.”Aamiin Ya Robbal Alamiin.
Itulah kisah tentang Ummi Koyimah ibuku….ibu biasa saja orang kampung yang
mampu menjadi inspirasi bagi ketiga putrinya. Semoga bermanfaat…..Wallohu’alam
biishowab….
Rabu, 26 Maret 2025
Sekilas Tentang Pondok Salaf NU
Dengan kondisi pondok yang sangat sederhana, yakni atap seng atau asbes atau baja ringan dan lantai mester biasa tidak pakai keramik kami tidur beramai ramai. Satu kamar berisi lima belas santri, dengan alas kasur dengan ketentuan dari pengurus pondok. Setelah banagun kasur dilipat ditumpuk di pojokan dan ruangan lapang jika bukan waktu tidur. Makanannyapun sangat sederhana misalnya sayur dengan lauk tempe goreng, tahu isi, tempe gembus, telur sesekali dan ayam atau lele kira - kira sebulan sekali. Alhamdulillah berkah, yang saya rasakan makan makanan apa saja terasa enak kalau di pondok. Really....Biasanya pondok juga disokong oleh para donatur atau para muhibbin pondok. Kalau di pondok Nurul Haromain ini ada yang support beras, sayuran, buah-buahan atau lauk. Biasanya mereka para pedagang. Saat dagangannya masih banyak dan tidak terjual para pedagang ini mengirimkan ke pondok untuk makan santri. Di pondok ada dapur umum, ada dapur dhalem. Dapur umum biasanya dipakai untuk mamasak bagi para santri yang ikut makan dari pengurus pondok dengan membayar iuran makan. Sedangkan dapur dhalem adalah dapurnya Abah Yai untuk menyediakan masakan untuk Abah Yai sekeluarga beserta para tamu yang berkunjung ke pondok. Untuk makan santri yang mandiri mereka biasanya membeli makanan di kantin pondok, dimana kantin dikelola oleh para santri khubbar ( mbak atau kang) yang sudah besar - besar yang sudah lama mondok disitu dan berkhidmat mengurus kantin. Jika ada kiriman bahan makanan, baik sayur, buah ataupun lauk seperti ayam atau ikan biasanya dikelola oleh dapur ndalem kemudian dibagikan kesemua santri baik yang ikut makan bersama pengurus maupun yang makan mandiri yang membeli di kantin. Santri mandiri yang membeli makan di kantin harus sudah mondok minimal setahun dan ditahun pertama mondok harus menjadi santri yang makan dengan ikut pengurus pondok.
Kadang aku suka terheran - heran di pondok Nurul Haromain itu uang Rp.50,- perak masih laku lho. Uang tersebut masih laku untuk membayar uang ganti gas kalo kita ikut masak mie rebus satu pcs. Biasanya nyewa kompor sama mbak- mbak yang juga menjual makanan di dalam pondok. Biasanya mbak - mbak yang sudah lama tinggal di pondok untuk mengabdi, namanya mbak Hikmah istrinya kang Tajar yang ngurusi pengairan di pondok. Mereka tinggal disitu hingga punya tiga puteri. Yang paling besar dulu muridku di MI Ma'arif Nurul Haromain kelas tiga. Alumni yang berkhidmat seperti kang Tajar dan keluarga itu banyak di Nurul Haromain. Selain mengurusi sarana dan prasarana pondok, mereka para ustadz dan ustadzah mengajar kitab dan menerima setoran hafalan Al qur'an. Mereka hidup dengan sangat sederhana. Ada yang sambil menjual makanan kecil ada yang kang santrinya menjadi kuli bangunan di sekitar kampung di sekitar pondok. Tapi ada juga yang sarjana sehingga bisa mendapatkan pekerjaan kantoran di Jogja. Tapi overall ya lulusan SMK dan bekerja dengan penghasilan yang minim. Tapi mereka kulihat tidak pernah mengeluh, mereka hanya ingin mendapatkan barokahnya mondok dengan berkhidmat hingga tahun keberapa juga mereka tidak tahu seridho Abah Yai saja. Kalau Abah Yai memerintahkan pulang ya pulang sering disebut boyong. Kalau belum ya berarti masih terus berkhidmat di pondok. Karena apa yang dikatakan Abah Yai bagi santrinya adalah titah.
Ketika menjadi santri Nurul Haromain saya mempunyai pengalaman perdana ziarah walisongo dan Madura (kyai kholil Bisri Bangkalan). Di sunan Gunung Jati Cirebon nampak banyak mobil - mobil pribadi merk - merk mahal seperti alpard dll, ya mereka orang kayanya NU. Namun memang tidak saya temui tempat istirahat, untuk sekedar ngobrol sejenak di daerah tempat ziarah yang exclusive, semuanya serba merakyat dan sederhana. Orang - orang kayanya NU juga biasa nongkrong di tempat - tempat sederhana di sekitar tempat ziarah, begitu juga kyai-kyainya. Yang menurut saya bagus. Biasanya para kyai NU itu menitipkan anak - anaknya di pondok pesantren teman - temannya yang sesama Kyai juga, dan tetap pondok pesantren yang sejenis yaitu pondok pesantren salaf yang sederhana. Jadi mereka sangat paham kondisi akar rumput mereka. Semua punya fasilitas sama, baik santri yang anak kyai maupun santri keturunan para habib yang keturunan arab.
Mondok di Nurul Haromain, saya merasakan belajar yang sangat manusiawi. Ini berbeda dengan swasana belajar di sekolah umum. Belajar di pondok itu tidak abai dengan masyarakat. Misal ada yang wafat ya ngajinya libur dulu para santri takziah, Jika ada yang syukuran lahiran anak ya ngajinya libur dulu para santri mengadiri syukuran, kalau ada undangan keluar misal diundang untuk menghadiri pengajian atau utnuk mengisi dzikir Alkhidmah ya kita keluar pondok menghadiri undangan tersebut. Biasanya naik bus atau truk jika jaraknya dekat. Jadi mondoknya tidak bosan, tidak di dalam pondok terus, tapi ada acara keluar, dan itu sangat menyenangkan bagi para santri karena mendapatkan makanan yang berbeda dari biasanya di pondak dan tentu saja bonus jalan -jalan.
Untuk materi ngaji kitab di madrasah diniyah Nurut Tauhid menggunakan kitab jawa pegon dari kelas Shiffir Hingga Alfiyah. Biasanya ngaji kitab di madrasah diniyah itu malam hari ba'da isya hinggaj jam 22.00 WIB. Kalau pagi jam 09.00 - 11.00 WIB itu biasanya ngaji kitab Riyadhus Sholihin, Tafsir Jalalen, Fathul Muin, dan untuk khusus santri putri saat Ramadhan adalah kitab ahlaq Bidayatul hidayahnya Imam Ghazali, biasanya diajar langsung oleh Bu nyai. selain ngaji kitab di pondok pesantren Nurul Haromain juga ada takhfidz Qur'an. Biasanya yang menghafal Qur'an dimulai saat usia SMK atau Madrasah Aliyah. Kalau santri putri diperbolehkan untuk mengambil kelas kitab dan takhfidz tapi bagi santri putra diminta memilih sama Abah Yai untuk mengambil salah satu saja, misalnya kitab saja atau takhfidz saja. Pertimbangannya dari urf (kebiasaan) saja ,kalau santri putri biasanya mampu, tapi kalu santri putra biasanya tidak sanggup kalau untuk mengambil dua kelas sekaligus.
Abah Yai sangat ideal dalam visinya. Kalau pesantren ya tentu saja ingin mencetak para kyai. Jadi kalau kita mendengarkan kajian biasanya Abah Yai menyampaikan kajian ba'da maghrib dan ba'da shubuh ,dengan diselipkan motivasi yakni kalian sedang kulakan ilmu makanya dicatat nanti sewaktu - waktu kulakanmu laku kamu sudah siap. Selain ngaj, santri yang besar - besar (khubbar) biasanya yang sudah lulus SMK atau MA dibebankan khidmah ( mengabdi). Macam- macam bentuk pengabdiannya. Ada yang pandai ya mengajar jadi ustadz, ada yang pintar dan punya uang ya dirorong untuk mondok lagi diluar negeri ada yang di Turkey ( untuk Tahfidz), ada yang di Yaman, dan ada pula di Abuya Syeikh Ahmad di Makkah. Kalau tidak punya kemampuan dalam kepintaran ya mengabdi sebisanya. Misal memasak untuk keluarga kyai, memasak untuk para santri, menjaga dan merawat putra / putri dan cucu Abah Yai, jadi driver Abah Yai dan Ibuk dll. semua dikerjakan oleh para santri yang berkhidmat. Jadi kyai ya tugasnya belajar, ngajar, memimpin wirid, melayani masyarakat dan mendoakan umat. Selain berpikir perkembangan pondok sebagain tugas pokoknya.
Itu saja sekilas tentang pondok salaf NU Nurul Haromain Kulonprogo. Last but not least alhamdulillah berkesempatan mondok entah dengan alasan apapun qodarulloh itu terjadi. Lain kali aku ceritakan ya tentang pengalamanku yang lain selama empat tahun di pondok. Semoga bermanfaat... Wallohu a'lam bii showab...
Kamis, 13 Juli 2023
Transfer Segmen Dakwah
"Kita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita." Pepatah itu kerap kita dengar. Memang pada kenyataannya dakwah akan tetap berjalan meskipun kita tidak berkecimpung di dalamnya. Bukan knapa-knapa, karena akan banyak generasi yang menggantikan kita ketika kita menyatakan stop dalam berdakwah. Namun, bagi aktifis dakwah yang mengerti atau paham akan kewajiban / tugas dakwah dalam hidupnya akan selalu riang gembira menyambut tugas dakwah yang ada di depannya. Dakwah terbaik adalah dakwah yang mampu memberikan dampak yang luas bagi umat atau masyarakat. Smakin luas target dakwah, maka dakwah itu semakin bagus.
Belum lama ini kita melihat bai'at ustadz Hanan Attaki yang berseliweran menjadi FYP di laman tiktok saya Ustadz Hanan Attaki, seperti yang kita ketahui beberapa kali dicekal atau dilarang berceramah oleh Banser. Salah satunya yang saya tahu di Madura Banser yang merupakan salah satu sayap organisasi terbesar di Indonesia yakni Nahdhatul Ulama (NU), menolak ceramah - ceramah yang menurut mereka dikatakan radikal. Pengertian radikal, menurut NU biasanya tertuju pada ustadz - ustadz yang notabene lulusan dari jazirah Arab kemudian pulang ke Indonesia dan berceramah baik melalui internet maupun tatap muka namun mereka tetap menggunakan simbol - simbol kearab-araban. Misalnya, celananya itsbal / cingkrang,wajahnya berjenggot dsb. Hingga pernah mantan ketua umum PBNU Kyai Said Agil Sirodj memberikan petuahnya khusus tentang hal ini. Kata beliau, silahkan belajar agama di Arab tapi pulang - pulang yang dibawa ilmunya bukan jenggotnya atau celana cingkrangnya/itsbalnya. Pandangan ini tentu diaminkan oleh para nahdhiyin (kaum NU). Terkait dengan ustadz Hanan Attaki yang perlu saya garis bawahi adalah terobosan beliau yang berani berbai'at dengan NU. Saat itu yang mewakili NU ada kyai Anwar Zahid dan salah satu aktifis muda terpelajar NU Nadhirsyah Husain. Ustadz Hanan Attaki menyampaikan tujuannya berbai'at dengan NU adalah untuk meluaskan segmentasi dakwahnya. Beliau dikenalkan dengan salah satu kyai NU dari istri beliau. Kemudian mengerucut untuk berbai'at dengan NU. Terobosan itu patut kita acungi jempol. Ustadz Hanan Attaki ingin berdakwah yang lebih luas segmennya. Bukan berganti segmen yang dari berdakwah untuk anak - anak muda milenial yang punya hobi bermain skeatboard saja, namun ustadz Hanan Attaki ingin dakwahnya punya jangkauan yang lebih luas yakni menyasar milenial NU atau minimal jika ingin masuk ke satu wilayah untuk memberikan ceramah dimana disitu mayoritas masyarakatnya nahdhiyin maka dipastikan ceramahnya tidak akan dibaikot. Menurut saya semoga ustadz Hanan Attaki tulus ingin tunduk dan tawadhu terhadap kyai- kyai NU dan menjalankan wejangan - wejangan yang disampaikan. Tidak hanya wejangan yang disampaikan oleh kyai Anwar Zaid saja namun tutur dari para kyai NU yang lain juga dilaksanakan sehingga beliau berbai'at itu bukan hanya sekedar simbol bergabungnya ustadz Hanan Attaki pada ajaran - ajaran NU namun juga dalam menjalankan Islamnya menurut tradisi orang NU. Dengan begitu saya menilai beliau tulus dalam berbai'at.
Selasa, 21 Juli 2020
Nyantri.
Sudah lama sepertinya saya tidak ngeblog. Well kali ini saya tinggal di pondok pesantren. Saya nyantri kira - kira sudah berjalan selama enam bulan. Menjadi santri sungguh tidak pernah terpikir olehku. Alhamdulillah saya bersyukur bisa menikmati status baru sebagai santri di pondok pesantren Nurul Haromain yang berada di Kulon Progo Yogyakarta.
Kegiatan dibpondok saat ini ngaji kitab, ngaji madrasah Diniyah dan khitmah (mengabdi). Untuk khitmah saya didawuhi (disuruh) oleh Bu Nyai untuk mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) Nurul Haromain. Untuk ngaji kitab saat ini mengambil kitab ikhya Ulumuddin, shohih Bukhori , tafsir Jalalain dan Fadhilah Amal. Biasanya ngaji kitab tersebut diatas ba'da Maghrib dan ba'da Shubuh. Untuk madrasah Diniyyah waktunya ba'da jamaah isya tepatnya pukul 20.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB. Adapun tingkatannya mulai dari shiffir, jurumiyyah,imriti dan alfiyyah.
Untuk ngaji kitab biasanya diisi oleh Abah yai Sirodjan Muniro dan dibantu oleh ustadz Choirul Anam. Abah yai adalah alumni pesantren Abuya Sayyid Ahmad Bin Muhammad Al Maliki Al Hasani dan ustadz Choirul alumni dari Yaman. Untuk ngaji madrasah Diniyah diisi oleh ustadz dan ustadzah yang berkhitmah.
Usia tidak menjadikan saya pantang menyerah untuk menuntut ilmu, termasuk menjadi santri tertua di Madrasah Diniyyah. Untuk madrasah Diniyyah saya pun memulai dari kelas Jurumiyyah .
Na Willa.
Siang tadi saya berkesempatan menonton film yang berjudul Na Willa. Na Willa adalah nama seorang anak Surabaya tepatnya di gang Krem...