Siang tadi saya berkesempatan menonton film yang berjudul Na Willa. Na Willa adalah nama seorang anak Surabaya tepatnya di gang Krembangan yang mempunyai ayah yang dipanggil Pak dan seorang ibu yang dipanggil Mak. Pak adalah seorang etnis Tionghua yang bekerja pada sebuah kapal pengiriman barang, sehingga Pak biasa bekerja dalam waktu yang lama baru pulang kembali ke Surabaya. Sedangkan Mak berasal dari suku NTT dengan kulit sawo matang dan rambut ikal. Mak adalah full ibu rumah tangga yang mengurus Na Willa dengan dibantu dengan seorang pembantu yaitu Mbok Tun.Mak digambarkan sebagai sosok ibu yang pandai mengurus anak dan rumah tangga juga seorang ibu yang bijak dalam mengasuh Na Willa. Kehadiran film Na Willa ini tentu banyak mengobati inner child para penonton yang hadir ke bioskop. Kisaran Film itu berlatar dan setting tahun 1965 dengan lagu - lagu Lilis Suryani yang merupakan lagu favorit Mak yakni yang berjudul Hesti yang ternyata terngiang - ngiang di telingga saya karena nampak di laman Tik Tok saya dan story WA teman saya sehingga membuat saya tersenyum karena teringat akan film yang tadi siang saya tonton.Na Willa adalah sosok anak yang menggemaskan dan pandai. Sebelum masuk TK, Na Willa sudah bisa membaca dengan diajar oleh Mak di rumah. Na Willa mempunyai sahabat kecil yaitu Farida, Dul dan Bud. Farida yang biasa dipanggil Ida adalah anak yang lucu dan menggemaskan juga ia masih cadel. Sedangkan Dul adalah sepupu Farida yang usianya lebih tua. Farida, Bud dan Na Willa sepantaran. Farida adalah seorang muslim dan Na Willa seorang katolik. Dalam film ini nampak keaneka ragaman suku, agama dan ras yang tercermin dari keluarga Na Willa sendiri dan suku jawa adalah sukunya Farida, Dul dan Bud. Selain suku dan agama yang berbeda struktur keluarga Na Willa dan Farida juga berbeda. Farida mempunyai keluarga yang besar dengan kakak - kakaknya dan keluarga Na Willa merupakan keluarga kecil dengan tiga anggota keluarga dan ditambah dengan satu pembantu.Sebenarnya tidak ada konflik yang sangat klimaks atau plot twis dalam film ini. Hanya saja nuansa Surabaya pada tahun itu nampak nyata. Gang - gang yang terlihat, pasar yang dikunjungi, pakaian - pakaian yang dikenakan pada masa itu nampak indah terekam kamera dan hidup seperti layaknya suasana tahun 1965.Selain menghidupkan nuansa tahun 1965, film Na Willa juga sarat pembelajaran ilmu parenting. Bagaimana Pak meskipun LDR dengan anaknya terus berusaha membangun komunikasi dengan sering membelikan buku bagi Na Willa. Bahkan ketika Pak tidak bisa pulang sesuai denga rencana maka Pak memaketkan buku - buku untuk dibaca oleh Na Willa. Saat Pak pulang ke rumah, Pak juga hadir dalam pengasuhan yakni dengan membuatkan ayunan dimana ayunan tersebut selalu digunakan oleh Willa dan tentu saja Willa akan teringat terus akan Pak nya.Terkait dengan pendidikan anak, juga perlu dicermati. Na Willa masuk sekolah dengan keputusan Pak dan Mak yang berdiskusi, meskipun keputusan itu terjalin lewat surat. Kebetulan Pak mengalami masalah dengan kapalnya sehingga mendarat lama di Jakarta dan Pak belum dapat segera kembali ke Surabaya. Mak menulis surat untuk Pak yang isinya cerita keseharian Na Willa yang kebetulan sangat bikin merinding bagi Mak. Mak berbohong kepada Na Willa saat Dul mengajak Na Willa ikut dengannya untuk melihat kereta di dekat rel kereta api. Mak melarangnya karena itu berbahaya dan Mak berbohong dengan mengatakan " Pak. Sebentar lagi pulang!" Hal itu ia lakukan karena terdesak dan melarang Na Willa pergi dengan Dul di sekitar rel kereta api untuk melihat kereta. Qodarulloh Dul terserempet kereta api dan kakinya terluka hingga diamputasi, dan Dul menggunakan kaki palsu yaitu kayu.Persahabatan di masa kecil yang indah anatara mereka. Nampak keakraban anatara Dul dan Na Willa dengan seekor anak ayam berwarna kuning milik Na Willa yang diberikan kepada Dul, sebagai oleh - oleh di rumah sakit saat Dul opname. Bagi Na Willa Dul adalah sahabat yang paling hebat dalam circle pertemanannya. Tentang anak ayam si kuning kecil sekali itu juga merupakan suatu pembelajaran pengasuhan. Yakni pemberian hadiah seekor anak ayam kuning sangat kecil itu dengan dibarengi sebuah komitmen tanggung jawab bagi sang anak untuk merawatnya. Bukan cuma untuk hadiah yang menyenangkan semata.Keharmonisan suami istri juga diajarkan kepada anak. Pak dan Mak nampak berdansa di ruang tengah sambil mendengarkan lagu dari radio yang sedang diputar. Kejadian ini tak luput dari pandangan Na Willa... nampak di benak Na Willa keharmonisan suami istri itu seperti apa yang dilihat Na Willa dan itu pembelajaran bagi anak seusia Na Willa dengan melihat.
Last but Not Least nilai 9 saya berikan untuk film Na Willa yang ternyata ditulis dan disutradarai oleh Ryan Andrindhy juga merupakan sutradara film fenomenal anak - anak Jumbo beberapa bulan yang lalau.
Jumat, 03 April 2026
Na Willa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Na Willa.
Siang tadi saya berkesempatan menonton film yang berjudul Na Willa. Na Willa adalah nama seorang anak Surabaya tepatnya di gang Krem...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar