Sabtu, 04 Juli 2026

My Beautiful Mind - Part 2

 

           Setelah saya merasa stabil saya melamar pekerjaan sesuai dengan pengalaman saya di dunia ZISWAF dan kemanusiaan PKPU Purwokerto, yang pada saat itu dipimpin oleh kakak senior saya di kampus UNSOED mas Priyambodo. Saya membantu bekerja di bagian fundraising ZISWAF selama dua tahun. Pada saat itu terjadi pergantian pimpinan cabang. Dari mas Priyambodo ke mas Koko (Khotim). Dan mas Priyambodo mendapat tugas untuk menjadi pimpinan cabang PKPU Sumatera Barat. Saat kepemimpinan Pak Koko saya ditawari untuk melanjutkan kuliah S2 dengan syarat melanjutkan studinya di UNSOED tidak di UNDIP yang dekat dengan kantor dimana saya bekerja. Oh ya, saat bekerja di PKPU Purwokerto saya berobat sendiri dengan biaya mandiri dengan salah satu dokter yang direkomendasikan oleh salah satu teman saya. Alhamdulillah kehidupan saya saat itu baik – baik saja. Saya bisa bekerja, saya bisa hidup normal, saya bisa berobat sendiri secara mandiri. Qodarulloh Alloh memberikan saya ujian penyakit yang lain. Ada nyeri yang berkepanjangan pada tulang belakang saya sehingga saya tidak sanggup bekerja di PKPU Purwokerto. Saya mengajukan resign dan beristirahat di rumah kakak dengan dibarengi berobat dan fisiotheraphy. Saat itu dokter menvonis saya syaraf kejepit. Aktivitasku saat itu hanya bermain dengan Hafsah ponakanku dan saat sore hari mengajar TPA (Taman Pendidikan Al qur’an ) di komplek perumahan kakak dengan diantar jemput menggunakan motor karena untuk jalan saja saya kesusahan.

        Pada suatu hari, Ayah hafshah (kakak ipar) mendapatkan promosi tugas pekerjaan di Mamuju Sulawesi Barat. Kakak ipar saya berkerja di BPS (Biro Pusat Statistik) yang mengharuskan karyawanya untuk berpindah – pindah tugas. Ini adalah promosi  Ayah Hafshah yang ketiga kalinya, setelah kedua promosi sebelumnya Ayah Hafsah tolak. Dengan pertimbangan bahwa ini ketiga kalinya maka Ayah Hafshah menerima tawaran itu. Karena jika tidak maka untuk selamanya Ayah Hafshah tidak akan mendapatkan promosi lagi. Akhirnya Ayah Hafsah berangkat terlebih dahulu ke Mamuju Sulawesi Barat, dan saya, Bunda dan Hafshah masih di Purwokerto lantaran tanggung akan sekolah Hafshah yang masih Tk dan kurang setengah tahun lagi Hafshah masuk SD. Dari Mamuju Sulawesi Barat Ayah Hafshah mengabarkan bahwa hanya ada lima dokter spesialis dan tidak ada dokter spesialis syaraf.  Maka akhirnya aku tidak dibawa ke Mamuju Sulawesi Barat melainkan aku dititipkan di tempat Bu lek Tinah di Magelang untuk melanjutkan pengobatan. Akhirnya saya dan kakak berpisah. Saya berobat di Magelang dan keluarga kecil kakak ke Mamuju Sulawesi Barat. Alhamdulillah tidak butuh waktu lama pengobatan saya berhasil. Kurang lebih selama  setengah bulan saya dinyatakan sembuh oleh seorang dokter spesialis syaraf senior di daerah Muntilan dan dengan vonis bukan syaraf kejepit melainkan scoliosis vertebrate. Jadi diagnose dokter di Purwokerto selama itu ternyata salah. Dokter menyarankan untuk operasi jika saya bersedia, namun karena skoliosisnya di tulang belakang maka keluarga saya tidak menyetujuinya dikarenakan hasil operasi tersebut fifty – fifty bisa sembuh atau kalua tiudak berhasil bisa lumpuh. Dokter tidak memaksa tapi saya hanya disarankan agar tidak terlalu kecapaian saat beraktifitas sehari – hari.

          Setelah saya merasa stabil, saya melamar pekerjaan kembali yang sesuai dengan pengalaman saya. Kebetulan di PKPU Magelang sedang membutuhkan staff pengganti yang sedang cuti melahirkan selama setengah tahun karena ada dua orang yang cuti. Setelah setengah tahun saya ditawari untuk menjadi staff di PKPU Yogyakarta namun keluarga saya tidak mengijinkan dikarenakan pertimbangan jangkauan yang luas areanya di Yogyakarta. Saya kembali melamar di Laz dkd di Magelang. Selain bekarja di LAZ DKD saya juga berkhidmah untuk turut serta mengurusi anak yatim di bawah organisasi Pelangi Nusantara. Karena kesibukan pekerjaan dan aktifitas organisasi saya ternyata tidak kuat dan saya kambuh. Saya dikirim di tempat peristirahatan untuk orang – orang yang terkena ganguan kejiwaan di sekitar RSJ tapi bukan di RSJ namun yang punya tempat peristirahatan itu salah satu dokter di RSJ. Setelah rehat setengah bulan ditambah rehat setengah bulan di rumah Bu lek Tinah di Magelang, kakak memutuskan untuk mengirim saya ke pesantren. Dengan harapan jika saya di pesantren saya mempunyai aktivitas yang positif yang bermanfaat buat saya sendiri syukur juga bagi orang lain dan saya jika sudah merasa capek bise istrirahat serta saya tidak membebani bu lek dengan dititipi saya. Kakak mencari pesantren yang bisa saya singgahi. Ternyata tidak mudah untuk mencari pesantren lantaran usia saya saat itu bukanlah usia yang muda untuk masuk pesantren. Umumnya orang masuk pesantren itu lulus SD atau usia SMA. Setelah ditolak oleh lima pesantren di Magelang, akhirnya kakak mendapat informasi adanya pesantren di kulonprogo dan saya akhirnya nyantri disana. Saya nyantri disana selama empat tahun. Yaitu di pondok pesantren Nurul Haromaian.

         Saya mendaftar santri biasa yang masuknya santri khubbar. Oleh Bu nyai Siti Mardhiyah saya ditugaskan untuk berkhidmah di sekolah, karena pesantren juga memiliki sekolah umum di pagi hari. Saya mengajar Madrasah Ibtidaiyah disana. Untuk kegiatan keseharian saya mengikuti kegiatan pondok layaknya santri umum yang seusia SMP-SMA,  saya juga mengikuti kegiatan binadhor dan kegiatan di majelis. Saya tidak minum obat dan tidak berobat jalan, al hasil saya kambuh dan muncul halusinasi. Halusinasi saya yang muncul seperti sedang diuji sejauh mana rasa cinta saya kepada dua orang yang pernah mengisi hati saya. Mana yang lebih banyak, kepada si A atau kepada si B. Namun dalam keyakinan saya si B turut andil dalam hadirnya halusinasi saya pada saat itu. Sepertinya dia menyadap  Hp saya.Hal itu berdasar karena saya menjalin komunikasi kembali dengan si A semasa di pondok. Mungkin si B penasaran. Al hasil ya memang saya lebih mencintai si A ketimbang Si B ditandai dengan adanya bros bunga warna hijau yang merupakan warna favorit si A. Saat kambuh saya dibawa ke RSJ di Magelang yang merupakan rekanan pondok. Saya istirahat di sana selama dua minggu Setelah itu saya kembali ke pondok namun bukan ke pondok biasa tapi ke pondok rehab. Dan saya salah satu santri pondok rehab tersebut. Di situ ada pengurus yang merawat pasien. Bagi pasien dengan kondisi stabil seperti saya masih diperbolehkan untuk beraktifitas dan mengikuti kegiatan pondok seperti biasa namun dalam pengawasan pengurus rehab. Saya kembali berobat dan rutin minum obat sehingga saya tidak kambuh.

             Pada tahun 2024 saya menikah, tepatnya tanggal 20 April. Dalam lubuk hati saya sebenarnya saya sudah ikhlas jika saya tidak menikah seumur hidup saya. Tapi Allah maha baik, Alloh mengirimkan jodoh untukku. Suka dan duka dalam pernikahan sudah saya alami kurang lebih selama dua tahuan. Saya mencoba untuk tidak mengkonsumsi obat. Ternyata niat itu hanya bisa saya tunaikan selama setahun tiga bulan. Qodarulloh saya kambuh lagi untuk keenam kalinya. Masih sama dengan misi – misi saya setiap kambuh yaitu misi freemason dengan berbagai tugas.

               Halusinasi saat itu yang pertama adalah tentang politik di negeri ini. Saya bertugas untuk menyeleksi kandidat – kiandidat politikus yang akan bersinar di negeri ini. Adapun untuk memenangkan yang bersinar adalah melalui challange. Challenge tadi dibuktikan dengan memasak dan makanan. Saya makan gudeg wijilan untuk Pak Anis Baswedan yang asli Jogja. Saya memasak udang galah asam manis yang didatangkan dari Jawa Timur kebetulan wali siswa saya mengoleh – olehi saya sewaktu beliau pulang kampung. Udang asam manis tadi untuk AHY. Saya rasa karena jumlah politikus yang berkompetisi tidak banyak maka saya merasa tidak banyak saingan.  Mau memasukkan si B nah si B tidak pernah keluar di kancah politik tanah air ya pasti suaranya untuk AHY.  Selain menyeleksi politikus saya juga diberi gambaran tentang Indonesia di tahun 2045. Toto, titi, tentrem kerto raharjo dengan bendera Indonesia berkibar- nkibar di negara – negara Eropa. Selain gambaran negara saya juga bertugas mengubah freemason dari freemason hitam menjadi freemason putih. Hal itu digambarkan dengan halusinasi saya dimana saya melakukan monolog dihadapan para agen freemason di seluruh dunia, tentu saya menggunakan Bahasa Inggris dengan server melalui hati masing – masing. Saya melakukan monolog pada malam hingga dini hari di rumah Bu lek Magelang selama satu jam lima belas menit. Monolog yang saya sampaikan sempat direkam oleh sepupu saya mbak Sari. Isi monolog tentang loneliness tapi tidak merasa kesepian meskipun sendiri. Juga dipadukan dengan lagu dan gerak tari. Wah kalua kalian melihatnya tentu menjadi tontonan yang sangat menarik. Itu juga sebagai kompas penentu arah kedepannya saya mau jadi apa? Apakah saya bisa menjadi seperti Cak Nun? Sehingga monolog itu sebagai lahan ujiannya apakah saya punya jiwa seni atau tidak dan juga sebagai budayawan, apakah saya mampu atau tidak? Selain menjadi seperti Cak Nun saya juga diberi pandangan untuk bisa menjadi seperti mbak Alissa Wahid. Yang berjuang melalui NU dan juga Gusdurian. Pada saat saya halusinasi ada dua agenda yang bersamaan yang sangat ingin saya hadiri. Yang pertama milad Cak Nun dan yang kedua adalah sarasehan yang dihadiri oleh mbak Alissa wahid sebagai salah satu pembicaranya. Harusnya saya memilih, tapi saya lupa ada kendala apa sehingga saya malah tidak ahadir pada kedua acara tersebut. Kedua acara itu ada pada hari dan jam yang sama namun beda tempat. Saya jadi merenung, apa iya sebuah amanah itu diperebutkan dengan sebuah challenge seperti itu? Rasannya aku seperti berlomba dengan orang lain. Ada orangn lain diluar sana yang sedang berlomba denganku untuk meraih challenge – challenge mereka sendiri.

           Dulu saya pernah tidak ikut challenge. Saat itu saya kambuh keempat kali.  Challenge nya adalah memasak mie godok jawa dengan telur puyuh. Bayanganku adalah memasak untuk Gibran, ditandai dengan telur puyuh berarti telurtnya sangat kecil alias sangat muda. Saya ingat di rumah Bu lek saat itu tidak ada motor dan challange saat itu datang sekitar jam 11.00 siang, bahan – bahan untuk memasak itu sudah tidak ada di pasar. Mungkin harus mencari telur puyuh di Super indo di kota Mgelang dan akhirnya saya mundur tidak ikut challenge. Tergambar olehku Prof Nazarudin Umar Menteri agama menyeru ayo ikut jangan Cuma jadi penonton! Itu tergambar pada halusinasiku yang ke-enam terakhir kmarin maka sepertinya saya terlihat bersemangat mengikuti challenge dan semua challenge saya ikuti. Ada lagi yang menurutku menarik yaitu peristiwa ulang tahun naga putih pada kalender Cina. Saya benar – benar berada di depan salah satu rumah makan sea food dimalam hari sekitar pukul 23.00 malam milik saudara teman saya di Jogja. Disana saya mau menikah dengan si B versi freemason. Dalam halusinasi saya ,ayah si B adalah ngarso dalem yang menikah dengan entah isteri ke berapa yaitu Ibunya Si B. Saya duduk di kursi di halaman rumah makan sea food tersebut dan melihat di langit yang cerah gugusan awan putih yang berbentuk naga di langit yang cerah. Jadi tepat bahwa malam itu adalah ulang tahun naga putih dalam kalender cina. Tetapi ngarso Dalem tidak datang karena sedang mengadakan pertemuan dengan Nyai Roro Kidul terkait dengan pembaharuan perjanjian dengan beliau. Dalam gambaranku, aku berperan seperti Nyai roro Kidul di dunia manusia. Ada yang menggelitik saya juga, bahwa ternyata di dunia nyata ada yang tahu bahwa kami sedang berkompetisi memasak. Pada saat belanja di pasar Giwangan ada ibu – ibu yang nyeletuk bilang begini “ Wah kemayu kabeh.” Karena pada saat ke pasar itu saya menggunakan make up lengkap tapi tipis mungkin kompetitorku juga demikian. Honestly saya hanya menebak – nebak siapa rival saya, tanpa tahu pasti dia siapa yang pasti dia agen yang lain. Ada hal yang menguatkanku juga bahwa ada orang lain yang melakukan aktivitas challenge – challenge seperti aku terlepas bahwa dia seorang penyintas skezofrenia seperti akua tau bukan. Buktinya ketika aku pulang dari pondok Nurul Haroimain ada satu tas diatas motor saya yang isinya hp jadul, lipstick, handbody, cairan pembersih kaca mata yang dimasukkan dalam satu tas kecil yang bertuliskan “ Forever Young.

         Ada yang jenaka yaitu bercandanya ngarso Dalem terkait nhubungan swami isteri yang selalu membuatku tersenyum  saat mengingatnya, namun saya tidak akan share disini. Itu saja kisahku. Ada banyak persepsi orang – orang terkait dengan saya, saya sadar bahwa I’m not ok but it’s ok. Jadi saya tidak masalah dengan kondisi saya sebagai penyintas skizofrenia. Saya hanya perlu tumbuh dengan apa yang saya bisa bahkan mungkin bagi orang lain pencapaian itu biasa saja namun saya akan menyikapi setiap pencapaian dengan kaca mata saya. Ya bahwa tumbuhku adalah sebagai seorang skizofrener yang memang bukan orang seperti biasa. Menjadi ordinary person juga tidak mengapa yang penting terus tumbuh dan berkarya. Bagi teman – teman yang mau berbagi cerita yang mirip – mirip dengan saya saya persilahkan dengan harapan kita bisa sharing terlebih jika kalian punya pengalaman juga tentang challenge – challenge yang aku alami, barang kali kamu juga mengalaminya. Yuk sharing…

 

My Beautiful Mind - Part 1

 

Cerita ini berawal pada tahun 2011. Saat saya masih bekerja di Jakarta sebagai salah satu manajer di sebuah Yayasan besar di Indonesia. Saya selalu berada dalam lingkup kecil karyawan yang tumbuh seperti keluarga. Paling banyak hanya dua belas karyawan saja di kantor kami. Suasana kekeluargaan yang kami bangun sangat terasa, kami seperti keluarga dimana satu karyawan dengan karyawan yang lain sangat dekat seperti layaknya sebuah keluarga.  Hingga pada masa itu kami merekrut satu karyawan untuk bagian program. Karyawan kami yang baru mempunyai latar belakang pernah bekerja pada salah satu perusahaan BUMN besar di negeri ini. Beliau juga termasuk lulusan terbaik di salah satu Universitas negeri ternama di negeri ini. Sebenarnya niat beliau baik, ingin mengajarkan kepada saya seperti apa praktik office politik di perkantoran. Cara beliau mnengajarkan adalah melalui study kasus. Misalnya untuk mengajari praktik adu domba maka dibuatlah karyawan dikubu – kubukan atau dikelompok – kelompokkan kemudian saling menyerang. Setelah itu diberikan contoh praktik menjilat atasan atau cari muka kepada atasan, kemudian praktik mengeklaim pekerjaan teman sebagai hasil pekerjaannya dan lain sebagainya.

            Namun proses pembelajaran office politik itu sangat banyak study kasusnya dan pekerjaan saya juga saat itu terbilang banyak sehingga fokus pikiran saya terbelah. Finally saya menderita depresi. Pada saat itu kakak saya (Bunda)  dipanggil oleh salah satu direktur saya dan diberitahukan bahwa kondisi saya aneh dan direkomendasikan untuk dibawa kepada salah satu psikolog yang skaligus ustadz di Jakarta. Psikolog ini juga merupakan salah satu guru besar di Universitas Indonesia dan sangat terkenal di negeri ini. Akhirnya bunda membawa saya untuk periksa kepada psikolog ini. Sampai ruangan beliau, sebelum saya duduk, saya dipersilahkan untuk mengambil buku – buku tulisan beliau terkait penyakit – penyakit psikologis yang ada. Ada empat buku yang saya ambil. Psikolog itu menyarankan kepada saya untuk mengambil buku yang banyak dan dibagikan kepada teman – teman saya secara gratis.  Sesi wawancara atau mungkin lebih tepatnya diagnosa dimulai. Saya menceritakan apa yang saya alami. Dan pada saat awal pertama kali saya mengalami kejadian itu saya tidak bisa tidur dalam kurun waktu satu minggu. Dengan mengangguk – angguk dan tersenyum psikolog itu membuka obrolan dan dikatakan oleh beliau bahwa saya menderita skizofrenoia dan juga ada unsur dibuat / disalahi oleh orang lain. Itu alasan kenapa saya direkomendasikan untuk berobat kepada psikolog yang juga seorang ustadz karena dengan keustadzannya ini beliau mampu melihat juga gejala yang dari non medis ( dibuat oleh orang ). Pada akhirnya psikolog ini menutup dengan pernyataan yang menenangkan . Apapun yang dialami sudah seizin Alloh SWT bahwa saya sakit adalah benar dan juga bahwa saya dibuat oleh orang atau ada gangguan non medis juga benar. Caranya untuk menyembuhkan adalah dengan minum obat jiwa serta dengan mendekatkan diri kepada Alloh caranya dengan membaca doa sebelum minum obat, ada doa khusus yang diberikan oleh psikolog itu. Selain itu saya juga dianjurkan untuk tilawah QS Al Baqarah setiap hari atau ketika sedang udzhur ( berhalangan  dengan memutar murottal QS Al Baqarah.

            Kenapa saya menyebutnya dengan beautiful mind? Ya karena skizofrenia itu salah satu gejalanya adalah tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana khayalan ( halusinasi). Ada bagian yang mampu saya ingat namun ada pula bagian cerita yang luput dari ingatan saya. Tapi menurut saya halusinasinya itu menarik dan seru untuk diceritakan. Selama ini, sejak tahun 2011 saya mengalami fase kambuh atau tidak stabil selama enam kali. Dari pertama kali saya tidak stabil ( mengalami gangguan) selalu ada kaitannya dengan freemason. Dalam pemahaman saya freemason adalah gerakan kebaikan untuk menyelamatkan orang lain. Jadi freemason dalam halusinasiku adalah gerakan kebaikan. Kalau kita browsing di internet yang muncul tentang freemasonry adalah gerakan elit global dengan berbagai ritualnya dan lain sebagainya. Ini berbeda dengan freemason dalam halusinasiku yakni Gerakan menolong sesama. Pada saat pertama saya mendapatkan bisikan – bisikan dalam halusinasiku aku direkrut menjadi salah satu agen freemason. Waktu itu ada pula pekumpulan selain freemason. Saat itu, freemason terkesan lebih keras dibandingkan perkumpulan itu. Level yang lebih halus atau mediumnya adalah USAID. Jadi stop ya mengasosiasikan freemason yang ada di internet sama dengan freemason dalam halusinasiku. Entahlah karena saya juga tidak paham. Begitu juga dengan USAID, kenapa ia muncul dibawah freemason dalam hal gerakannya. Gampangnya freemason itu gerakannya kuat / massive dan USAID itu lebih kooperatif. Pada saat itu, rasanya saya sedang direkrut sebagai salah satu agen freemason. Dalam halusinasiku teman – teman di kostku saat itu sudah menjadi Agen. Tapi saya tidak tahu, teman – teman kosku itu menjadi agennya siapa karena kami seperti berlomba untuk menyelesaikan tantangan / challenge. Itu kejadian pertama kali, sehingga saya sangat kebingungan menghadapi tantangan itu.

            Pada saat itu ada salah satu teman kost yang menyodorkan satu nama kader dari salah satu partai, dia bilang si A itu baik novi. Maka saya menandai bahwa mbak yang meyodorkan nama itu adalah sebagai agen dari partai A. untuk aksi challenge pertama, saya diberi kertas yang entah itu kertas apa. Setelah mendapatkan sebuah kertas teman – teman ku bubar sepertinya mengikuti perintah apa yang ada di dalam kertas itu.

            Di Jakarta saya tidak membawa kendaraan sendiri. Untuk urusan pekerjaan saya menggunakan mobil kantor atau diganti dengan naik taxi. Maka dalam halusinasiku aku mengalami perjalanan malam dengan menggunakan taxi, transjakarta atau angkot atau metro mini. Entahlah, saat itu yang kutuju adalah pasar Kramat Jati, disana saya Cuma minum teh panas dan belanja sayuran lalu saya pulang ke kost. Alhamdulillah selama saya pergi keluar saya selalu bisa pulang kembali ke kostan. Saya selalu ingat konsep cinta dalam hati dan pikiran saya. Bahwa tingkatan pertama yang harus aku cintai adalah Alloh SWT maka saya selalu membawa al qur’an dalam tas saya ,yang kedua yang aku cintai adalah Rosululloh SAW, maka saya selalu membawa buku siroh Nabawiyah dalam tas saya, dan yang ke tiga adalah Ibu. Karena Ibuku sudah wafat, aku selalu mengganggap ibu kostku adalah ibuku. Maka selama aku di kostan Enyak di Jakarta saya menganggap Enyak adalah pengganti ibuku. Enyak adalah pemilik kostan yang ku tempati / induk semang. Maka biasanya saya mengingat Alloh, dan ketika melihat buku siroh nabawiyah saya teringat Rosululloh dan ketika saya ingat Ibu saya maka saya teringat ibu kost dimana saya harus pulang kesana.

            Saat mengalami halusinasi pertama kali hampir setiap malam saya keluar kamar dan mengalami perjalanan malam.  Ada kejadian pada suatu malam saya mendatangi komplek Bakri. Nampak terlihat beberapa lampu menyala yang menurut saya saya terlihat mencurigakan melalui CCTV memasuki komplek tersebut. Saya berjalan menuju masjid Bakri. Saya duduk dipinggir gerbang, tidak dapat memasuki masjid karena pintu masjid dikunci di pintu gerbangnya. Setelah beberapa saat duduk, saya kembali melanjutkan perjalanan malam saya dengan menggunakan Trans Jakarta . Pada saat itu adalah Trans Jakarta terkahir berarti sekitar pukul sebelas malam. Di koridor busway saat saya akan membeli tiket, saya diberhentikan oleh seorang wanita berhijab lebar dengan menggunakan cadar yang menyelempangkan tangannya di depan saya. Saya sontak berhenti dan mengadakan percakapan dengannya. Dalam percakan itu tujuan ia datang ke komplek Bakri adalah untuk melobi terkait acara keagamaan untuk anak – anak dalam stasiun televisi yang tayang. Tentu saja stasiun televisi yang dipunyai oleh group Bakri. Kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju kramat jati. Aktivitas yang saya lakukan di daerah Kramat Jati, saya melakukan survey konsumen, saya mendatangi entah Indomaret atau Alfa mart atau semacamnya dan saya membeli salah satu majalah remaja pada masa itu. Setelah membeli majalah, saya duduk dipinggir jalan. Ada seorang perempuan menghampiriku dan dia menyentuh pundakku kemudian pingganggu, kemudia ia berkata :”oh ini mah masih baik.” Entah apa yang dimaksud oleh perempuan tersebut. Ia mengenalkan dirinya kepada saya bahwa ia adalah seorang public reletaion / PR . Kemudian perempuan itu mengajakku ke salah satu warung padang disekitar situ, yang masih buka. Saya diajak untuk menikmati teh panas disana. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, saya pamit pulang dan saya mencegat angkot yang lewat depan warung. Setelah sampai perempatan, entah itu perempatan apa saya juga tidak paham saya lantas turun. Kemudian ada sebuah metro mini yang lewat jurusan lebak bulus, yang saya tahu metromini itu melewati jalan menuju kostan saya.  Alhamdulillah saya dapat kembali dengan selamat ke kostan Enyak.

            Selama beberapa hari saya absen dari kantor. Kemudian kakak saya (saya memanggilnya Bunda di panggil ke kantor oleh salah satu direktur saya di kantor. Kakak saya adalah perwakilan keluarga yang hanya satu -satunya kakak dan saudara sekandung yang saya punya. Kakak saat itu tinggal di Purwokerto dan dalam kondisi sedang hamil. Setalah sampai Jakarta, kakak menghadap salah satu direktur di kantor saya, Direktur saya bercerita, bahawa saat bertemu dengan saya, saya terlihat aneh, Saya minta untuk mbertemu direktur itu dan marah-marah di laman facebook. Selain saya ingin bertemu direktur tersebut, saya juga ingin bertemu salah satu dewan wali amanat di kantor saya. Kami bertemu sambal makan bersama di salah satu resto di Pejaten Village. Saya meyodorkan struktur pengembangan kantor terkait struktur organisasi dan penempatan personil – personilnya. Ide dalam menyusun struktur organisasi tersebut ada saat saya sedang berhalusinasi kemudian saya catat. Pada saat saya selesai menyampaikan ide saya, dewan wali amanah yang saya minta untuk hadir pada saat itu tiba – tiba marah. Kemudian beliau minum es kelapa muda yang ada di meja. Padahal setahu kami, dewan wali amanah tersebut tidak minum minum- minuman manis, beliau hanya minum air putih saja. Beliau mengancam direktur yang ikut hadir dengan kalimat yang mengancam dengan nada keras. Dan kemudian beliau meninggalkan tempat tersebut dan hanya tertinggal saya dan direktur kantor saya.

            Setelah itu saya sholat dhuhur, dan bapak direktur kembali ke rumah. Kemudian saya menyusul, kembali ke kostasn Enyak. Pak Direktur berpesan, supaya obrolan terkait dengan strategy pengembangan di kantor kami supaya dilanjutkan di ruang meeting kantor. Sementara itu, Kakak saya mengajak saya supaya pulang ke  Purwokerto  dan pengobatan dilakukan jarak jauh dengan mengirimkan obat dari Jakarta ke Purwokerto. Kejadian di Purwokerto adalah awal mula saya memasak dibawah pengaruh halusinasi. Saat itu dengan cerita oyong besar dan oyong kecil. Saya menggoreng telur dengan  oyong. Setiap kali saya mengalami halusinasi saya selalu ada sesi memasak. Pada saat itu juga, saya mengurutkan  penggunaan setiap pakaian yang saya pakai, mengurutkan penggunaan sabun, alat mandi, sikat gigi dan lain – lain dalam satu kali urutan sehingga saya membutuhkan waktu yang lama sekali saat aktivitas di kamar mandi. Hingga akhirnya biasannya kakak mengetuk pintu kamar mandi karena saya kelamaan di kamar mandi. Itu pengalaman awal – awal saya saat mengalami halusinasi. Saya bisa mengingat kejadian  saat halusinasi namun saya juga kadang ada yang lupa kejadian apa yang terjadi.

        Saat di Purwokerto, saya mengalai pergantian dokter.Kakak dan kakak ipar saya mencari dokter jiwa di Purwokerto dan sekitarnya dengan harapan dapat mengurangi biaya pengobatan saya. Alhamdulillah kakak menemukan dokter spesialis kejiwaan yang berada di Banyumas. Awal mula periksa, saya periksa di rumah beliau di Banyumas. Setelah ngobrol, ternyata dokter tersebut membuka praktek di salah satu klinik di Purwokerto, akhirnya saya pindah berobat ke dokter tersebut di tempat buka prektik klinik di Purwokerto.

        Setelah saya stabil, saya kembali mulai menata hidup saya. Saya berhenti untuk memikirkan kerja kantoran. Saat itu saya memutuskan untuk kuliah S2. Yang linear dengan ijazah kesarjanaan saya. Saya mengambil magister management di UNDIP Semarang. Berbekal pesangon dari tempat bekerja saya dulu, saya melanjutkan studi saya namun ternyata pesangon tersebut tidak cukup untuk membiayai seluruh biaya kuliah S2 saya. Hingga pada semester dua saya memutuskan untuk bekerja kembali sekaligus melanjutkan S2. Setelah mencari pekerjaan di Semarang yang ternyata gaji di Semarang pada waktu itu tidak mencukupi biaya kuliah sekaligus biaya hidup maka dengan keputusan yang sangat berat saya bekerja kembali di Jakarta. Saya bekerja pada satu Yayasan di Jakarta pada hari senin sampai Jum’at dan pada waktu Jum’at sore saya saya dengan naik kereta menuju semarang untuk kuliah mengambil kelas executive yang berkuliah tiap hari Sabtu dan Ahad. Pada Ahad malam saya kembali ke Jakarta lagi dengan kereta.

          Ternyata ritme hidup yang demikian tidak sanggup saya lakukan, sehingga menyebabkan saya kambuh untuk ketiga kalinya. Dan kembalilah saya pulang ke rumah kakak di Purwokerto. Halusinasi saat itu adalah tentang dua orang pria yang pernah mengisi hati saya. Saya seperti sedang mencari mereka berdua. Dengan bantuan taxi, dua merek taxi ternama saat itu di Jakarta yang berwarna biru dengan tarif atas dan satu taxi berwarna putih dengan tarif bawah setia mengantarkan saya pada pencarian akan dua sosok laki – laki yang pernah mengisi hati saya. Hasilnya nihil. Hingga akhirnya saya dikirim oleh keluarga saya di salah satu padepokan peristirahatan bagi penyintas gangguan jiwa dan gangguan akibat narkoba di daerah Parung Bogor. Setelah rehat selama dua minggu saya dibawa pulang ke Magelang dititipkan di tempat saudara kemudian dijemput kakak dan tinggal Bersama kakak kembali di Purwokerto.

My Beautiful Mind - Part 2

             Setelah saya merasa stabil saya melamar pekerjaan sesuai dengan pengalaman saya di dunia ZISWAF dan kemanusiaan PKPU Purwokerto...