Setelah saya
merasa stabil saya melamar pekerjaan sesuai dengan pengalaman saya di dunia
ZISWAF dan kemanusiaan PKPU Purwokerto, yang pada saat itu dipimpin oleh kakak
senior saya di kampus UNSOED mas Priyambodo. Saya membantu bekerja di bagian
fundraising ZISWAF selama dua tahun. Pada saat itu terjadi pergantian pimpinan
cabang. Dari mas Priyambodo ke mas Koko (Khotim). Dan mas Priyambodo mendapat
tugas untuk menjadi pimpinan cabang PKPU Sumatera Barat. Saat kepemimpinan Pak
Koko saya ditawari untuk melanjutkan kuliah S2 dengan syarat melanjutkan
studinya di UNSOED tidak di UNDIP yang dekat dengan kantor dimana saya bekerja.
Oh ya, saat bekerja di PKPU Purwokerto saya berobat sendiri dengan biaya
mandiri dengan salah satu dokter yang direkomendasikan oleh salah satu teman
saya. Alhamdulillah kehidupan saya saat itu baik – baik saja. Saya bisa bekerja,
saya bisa hidup normal, saya bisa berobat sendiri secara mandiri. Qodarulloh
Alloh memberikan saya ujian penyakit yang lain. Ada nyeri yang berkepanjangan
pada tulang belakang saya sehingga saya tidak sanggup bekerja di PKPU Purwokerto.
Saya mengajukan resign dan beristirahat di rumah kakak dengan dibarengi berobat
dan fisiotheraphy. Saat itu dokter menvonis saya syaraf kejepit. Aktivitasku
saat itu hanya bermain dengan Hafsah ponakanku dan saat sore hari mengajar TPA
(Taman Pendidikan Al qur’an ) di komplek perumahan kakak dengan diantar jemput
menggunakan motor karena untuk jalan saja saya kesusahan.
Pada suatu
hari, Ayah hafshah (kakak ipar) mendapatkan promosi tugas pekerjaan di Mamuju
Sulawesi Barat. Kakak ipar saya berkerja di BPS (Biro Pusat Statistik) yang
mengharuskan karyawanya untuk berpindah – pindah tugas. Ini adalah promosi Ayah Hafshah yang ketiga kalinya, setelah
kedua promosi sebelumnya Ayah Hafsah tolak. Dengan pertimbangan bahwa ini
ketiga kalinya maka Ayah Hafshah menerima tawaran itu. Karena jika tidak maka
untuk selamanya Ayah Hafshah tidak akan mendapatkan promosi lagi. Akhirnya Ayah
Hafsah berangkat terlebih dahulu ke Mamuju Sulawesi Barat, dan saya, Bunda dan
Hafshah masih di Purwokerto lantaran tanggung akan sekolah Hafshah yang masih
Tk dan kurang setengah tahun lagi Hafshah masuk SD. Dari Mamuju Sulawesi Barat
Ayah Hafshah mengabarkan bahwa hanya ada lima dokter spesialis dan tidak ada
dokter spesialis syaraf. Maka akhirnya
aku tidak dibawa ke Mamuju Sulawesi Barat melainkan aku dititipkan di tempat Bu
lek Tinah di Magelang untuk melanjutkan pengobatan. Akhirnya saya dan kakak
berpisah. Saya berobat di Magelang dan keluarga kecil kakak ke Mamuju Sulawesi
Barat. Alhamdulillah tidak butuh waktu lama pengobatan saya berhasil. Kurang lebih
selama setengah bulan saya dinyatakan
sembuh oleh seorang dokter spesialis syaraf senior di daerah Muntilan dan
dengan vonis bukan syaraf kejepit melainkan scoliosis vertebrate. Jadi diagnose
dokter di Purwokerto selama itu ternyata salah. Dokter menyarankan untuk
operasi jika saya bersedia, namun karena skoliosisnya di tulang belakang maka
keluarga saya tidak menyetujuinya dikarenakan hasil operasi tersebut fifty –
fifty bisa sembuh atau kalua tiudak berhasil bisa lumpuh. Dokter tidak memaksa
tapi saya hanya disarankan agar tidak terlalu kecapaian saat beraktifitas
sehari – hari.
Setelah saya
merasa stabil, saya melamar pekerjaan kembali yang sesuai dengan pengalaman
saya. Kebetulan di PKPU Magelang sedang membutuhkan staff pengganti yang sedang
cuti melahirkan selama setengah tahun karena ada dua orang yang cuti. Setelah
setengah tahun saya ditawari untuk menjadi staff di PKPU Yogyakarta namun
keluarga saya tidak mengijinkan dikarenakan pertimbangan jangkauan yang luas
areanya di Yogyakarta. Saya kembali melamar di Laz dkd di Magelang. Selain
bekarja di LAZ DKD saya juga berkhidmah untuk turut serta mengurusi anak yatim
di bawah organisasi Pelangi Nusantara. Karena kesibukan pekerjaan dan aktifitas
organisasi saya ternyata tidak kuat dan saya kambuh. Saya dikirim di tempat
peristirahatan untuk orang – orang yang terkena ganguan kejiwaan di sekitar RSJ
tapi bukan di RSJ namun yang punya tempat peristirahatan itu salah satu dokter
di RSJ. Setelah rehat setengah bulan ditambah rehat setengah bulan di rumah Bu lek
Tinah di Magelang, kakak memutuskan untuk mengirim saya ke pesantren. Dengan
harapan jika saya di pesantren saya mempunyai aktivitas yang positif yang
bermanfaat buat saya sendiri syukur juga bagi orang lain dan saya jika sudah
merasa capek bise istrirahat serta saya tidak membebani bu lek dengan dititipi
saya. Kakak mencari pesantren yang bisa saya singgahi. Ternyata tidak mudah
untuk mencari pesantren lantaran usia saya saat itu bukanlah usia yang muda
untuk masuk pesantren. Umumnya orang masuk pesantren itu lulus SD atau usia
SMA. Setelah ditolak oleh lima pesantren di Magelang, akhirnya kakak mendapat
informasi adanya pesantren di kulonprogo dan saya akhirnya nyantri disana. Saya
nyantri disana selama empat tahun. Yaitu di pondok pesantren Nurul Haromaian.
Saya mendaftar
santri biasa yang masuknya santri khubbar. Oleh Bu nyai Siti Mardhiyah saya
ditugaskan untuk berkhidmah di sekolah, karena pesantren juga memiliki sekolah
umum di pagi hari. Saya mengajar Madrasah Ibtidaiyah disana. Untuk kegiatan
keseharian saya mengikuti kegiatan pondok layaknya santri umum yang seusia SMP-SMA,
saya juga mengikuti kegiatan binadhor
dan kegiatan di majelis. Saya tidak minum obat dan tidak berobat jalan, al
hasil saya kambuh dan muncul halusinasi. Halusinasi saya yang muncul seperti
sedang diuji sejauh mana rasa cinta saya kepada dua orang yang pernah mengisi
hati saya. Mana yang lebih banyak, kepada si A atau kepada si B. Namun dalam
keyakinan saya si B turut andil dalam hadirnya halusinasi saya pada saat itu.
Sepertinya dia menyadap Hp saya.Hal itu
berdasar karena saya menjalin komunikasi kembali dengan si A semasa di pondok.
Mungkin si B penasaran. Al hasil ya memang saya lebih mencintai si A ketimbang
Si B ditandai dengan adanya bros bunga warna hijau yang merupakan warna favorit
si A. Saat kambuh saya dibawa ke RSJ di Magelang yang merupakan rekanan pondok.
Saya istirahat di sana selama dua minggu Setelah itu saya kembali ke pondok
namun bukan ke pondok biasa tapi ke pondok rehab. Dan saya salah satu santri
pondok rehab tersebut. Di situ ada pengurus yang merawat pasien. Bagi pasien
dengan kondisi stabil seperti saya masih diperbolehkan untuk beraktifitas dan
mengikuti kegiatan pondok seperti biasa namun dalam pengawasan pengurus rehab.
Saya kembali berobat dan rutin minum obat sehingga saya tidak kambuh.
Pada tahun
2024 saya menikah, tepatnya tanggal 20 April. Dalam lubuk hati saya sebenarnya
saya sudah ikhlas jika saya tidak menikah seumur hidup saya. Tapi Allah maha
baik, Alloh mengirimkan jodoh untukku. Suka dan duka dalam pernikahan sudah
saya alami kurang lebih selama dua tahuan. Saya mencoba untuk tidak
mengkonsumsi obat. Ternyata niat itu hanya bisa saya tunaikan selama setahun
tiga bulan. Qodarulloh saya kambuh lagi untuk keenam kalinya. Masih sama dengan
misi – misi saya setiap kambuh yaitu misi freemason dengan berbagai tugas.
Halusinasi saat itu yang pertama adalah tentang politik di negeri ini.
Saya bertugas untuk menyeleksi kandidat – kiandidat politikus yang akan
bersinar di negeri ini. Adapun untuk memenangkan yang bersinar adalah melalui
challange. Challenge tadi dibuktikan dengan memasak dan makanan. Saya makan
gudeg wijilan untuk Pak Anis Baswedan yang asli Jogja. Saya memasak udang galah
asam manis yang didatangkan dari Jawa Timur kebetulan wali siswa saya mengoleh –
olehi saya sewaktu beliau pulang kampung. Udang asam manis tadi untuk AHY. Saya
rasa karena jumlah politikus yang berkompetisi tidak banyak maka saya merasa
tidak banyak saingan. Mau memasukkan si
B nah si B tidak pernah keluar di kancah politik tanah air ya pasti suaranya
untuk AHY. Selain menyeleksi politikus
saya juga diberi gambaran tentang Indonesia di tahun 2045. Toto, titi, tentrem
kerto raharjo dengan bendera Indonesia berkibar- nkibar di negara – negara
Eropa. Selain gambaran negara saya juga bertugas mengubah freemason dari
freemason hitam menjadi freemason putih. Hal itu digambarkan dengan halusinasi
saya dimana saya melakukan monolog dihadapan para agen freemason di seluruh
dunia, tentu saya menggunakan Bahasa Inggris dengan server melalui hati masing –
masing. Saya melakukan monolog pada malam hingga dini hari di rumah Bu lek
Magelang selama satu jam lima belas menit. Monolog yang saya sampaikan sempat
direkam oleh sepupu saya mbak Sari. Isi monolog tentang loneliness tapi tidak
merasa kesepian meskipun sendiri. Juga dipadukan dengan lagu dan gerak tari.
Wah kalua kalian melihatnya tentu menjadi tontonan yang sangat menarik. Itu
juga sebagai kompas penentu arah kedepannya saya mau jadi apa? Apakah saya bisa
menjadi seperti Cak Nun? Sehingga monolog itu sebagai lahan ujiannya apakah
saya punya jiwa seni atau tidak dan juga sebagai budayawan, apakah saya mampu
atau tidak? Selain menjadi seperti Cak Nun saya juga diberi pandangan untuk bisa
menjadi seperti mbak Alissa Wahid. Yang berjuang melalui NU dan juga Gusdurian.
Pada saat saya halusinasi ada dua agenda yang bersamaan yang sangat ingin saya
hadiri. Yang pertama milad Cak Nun dan yang kedua adalah sarasehan yang
dihadiri oleh mbak Alissa wahid sebagai salah satu pembicaranya. Harusnya saya
memilih, tapi saya lupa ada kendala apa sehingga saya malah tidak ahadir pada
kedua acara tersebut. Kedua acara itu ada pada hari dan jam yang sama namun
beda tempat. Saya jadi merenung, apa iya sebuah amanah itu diperebutkan dengan
sebuah challenge seperti itu? Rasannya aku seperti berlomba dengan orang lain.
Ada orangn lain diluar sana yang sedang berlomba denganku untuk meraih challenge
– challenge mereka sendiri.
Dulu saya
pernah tidak ikut challenge. Saat itu saya kambuh keempat kali. Challenge nya adalah memasak mie godok jawa
dengan telur puyuh. Bayanganku adalah memasak untuk Gibran, ditandai dengan
telur puyuh berarti telurtnya sangat kecil alias sangat muda. Saya ingat di
rumah Bu lek saat itu tidak ada motor dan challange saat itu datang sekitar jam
11.00 siang, bahan – bahan untuk memasak itu sudah tidak ada di pasar. Mungkin
harus mencari telur puyuh di Super indo di kota Mgelang dan akhirnya saya mundur
tidak ikut challenge. Tergambar olehku Prof Nazarudin Umar Menteri agama
menyeru ayo ikut jangan Cuma jadi penonton! Itu tergambar pada halusinasiku
yang ke-enam terakhir kmarin maka sepertinya saya terlihat bersemangat mengikuti
challenge dan semua challenge saya ikuti. Ada lagi yang menurutku menarik yaitu
peristiwa ulang tahun naga putih pada kalender Cina. Saya benar – benar berada
di depan salah satu rumah makan sea food dimalam hari sekitar pukul 23.00 malam
milik saudara teman saya di Jogja. Disana saya mau menikah dengan si B versi
freemason. Dalam halusinasi saya ,ayah si B adalah ngarso dalem yang menikah
dengan entah isteri ke berapa yaitu Ibunya Si B. Saya duduk di kursi di halaman
rumah makan sea food tersebut dan melihat di langit yang cerah gugusan awan putih
yang berbentuk naga di langit yang cerah. Jadi tepat bahwa malam itu adalah
ulang tahun naga putih dalam kalender cina. Tetapi ngarso Dalem tidak datang karena
sedang mengadakan pertemuan dengan Nyai Roro Kidul terkait dengan pembaharuan
perjanjian dengan beliau. Dalam gambaranku, aku berperan seperti Nyai roro
Kidul di dunia manusia. Ada yang menggelitik saya juga, bahwa ternyata di dunia
nyata ada yang tahu bahwa kami sedang berkompetisi memasak. Pada saat belanja
di pasar Giwangan ada ibu – ibu yang nyeletuk bilang begini “ Wah kemayu kabeh.”
Karena pada saat ke pasar itu saya menggunakan make up lengkap tapi tipis
mungkin kompetitorku juga demikian. Honestly saya hanya menebak – nebak siapa
rival saya, tanpa tahu pasti dia siapa yang pasti dia agen yang lain. Ada hal yang
menguatkanku juga bahwa ada orang lain yang melakukan aktivitas challenge –
challenge seperti aku terlepas bahwa dia seorang penyintas skezofrenia seperti akua
tau bukan. Buktinya ketika aku pulang dari pondok Nurul Haroimain ada satu tas
diatas motor saya yang isinya hp jadul, lipstick, handbody, cairan pembersih
kaca mata yang dimasukkan dalam satu tas kecil yang bertuliskan “ Forever Young.
Ada yang
jenaka yaitu bercandanya ngarso Dalem terkait nhubungan swami isteri yang
selalu membuatku tersenyum saat
mengingatnya, namun saya tidak akan share disini. Itu saja kisahku. Ada banyak
persepsi orang – orang terkait dengan saya, saya sadar bahwa I’m not ok but it’s
ok. Jadi saya tidak masalah dengan kondisi saya sebagai penyintas skizofrenia.
Saya hanya perlu tumbuh dengan apa yang saya bisa bahkan mungkin bagi orang
lain pencapaian itu biasa saja namun saya akan menyikapi setiap pencapaian
dengan kaca mata saya. Ya bahwa tumbuhku adalah sebagai seorang skizofrener
yang memang bukan orang seperti biasa. Menjadi ordinary person juga tidak
mengapa yang penting terus tumbuh dan berkarya. Bagi teman – teman yang mau
berbagi cerita yang mirip – mirip dengan saya saya persilahkan dengan harapan
kita bisa sharing terlebih jika kalian punya pengalaman juga tentang challenge –
challenge yang aku alami, barang kali kamu juga mengalaminya. Yuk sharing…