Sabtu, 04 Juli 2026

My Beautiful Mind - Part 2

 

           Setelah saya merasa stabil saya melamar pekerjaan sesuai dengan pengalaman saya di dunia ZISWAF dan kemanusiaan PKPU Purwokerto, yang pada saat itu dipimpin oleh kakak senior saya di kampus UNSOED mas Priyambodo. Saya membantu bekerja di bagian fundraising ZISWAF selama dua tahun. Pada saat itu terjadi pergantian pimpinan cabang. Dari mas Priyambodo ke mas Koko (Khotim). Dan mas Priyambodo mendapat tugas untuk menjadi pimpinan cabang PKPU Sumatera Barat. Saat kepemimpinan Pak Koko saya ditawari untuk melanjutkan kuliah S2 dengan syarat melanjutkan studinya di UNSOED tidak di UNDIP yang dekat dengan kantor dimana saya bekerja. Oh ya, saat bekerja di PKPU Purwokerto saya berobat sendiri dengan biaya mandiri dengan salah satu dokter yang direkomendasikan oleh salah satu teman saya. Alhamdulillah kehidupan saya saat itu baik – baik saja. Saya bisa bekerja, saya bisa hidup normal, saya bisa berobat sendiri secara mandiri. Qodarulloh Alloh memberikan saya ujian penyakit yang lain. Ada nyeri yang berkepanjangan pada tulang belakang saya sehingga saya tidak sanggup bekerja di PKPU Purwokerto. Saya mengajukan resign dan beristirahat di rumah kakak dengan dibarengi berobat dan fisiotheraphy. Saat itu dokter menvonis saya syaraf kejepit. Aktivitasku saat itu hanya bermain dengan Hafsah ponakanku dan saat sore hari mengajar TPA (Taman Pendidikan Al qur’an ) di komplek perumahan kakak dengan diantar jemput menggunakan motor karena untuk jalan saja saya kesusahan.

        Pada suatu hari, Ayah hafshah (kakak ipar) mendapatkan promosi tugas pekerjaan di Mamuju Sulawesi Barat. Kakak ipar saya berkerja di BPS (Biro Pusat Statistik) yang mengharuskan karyawanya untuk berpindah – pindah tugas. Ini adalah promosi  Ayah Hafshah yang ketiga kalinya, setelah kedua promosi sebelumnya Ayah Hafsah tolak. Dengan pertimbangan bahwa ini ketiga kalinya maka Ayah Hafshah menerima tawaran itu. Karena jika tidak maka untuk selamanya Ayah Hafshah tidak akan mendapatkan promosi lagi. Akhirnya Ayah Hafsah berangkat terlebih dahulu ke Mamuju Sulawesi Barat, dan saya, Bunda dan Hafshah masih di Purwokerto lantaran tanggung akan sekolah Hafshah yang masih Tk dan kurang setengah tahun lagi Hafshah masuk SD. Dari Mamuju Sulawesi Barat Ayah Hafshah mengabarkan bahwa hanya ada lima dokter spesialis dan tidak ada dokter spesialis syaraf.  Maka akhirnya aku tidak dibawa ke Mamuju Sulawesi Barat melainkan aku dititipkan di tempat Bu lek Tinah di Magelang untuk melanjutkan pengobatan. Akhirnya saya dan kakak berpisah. Saya berobat di Magelang dan keluarga kecil kakak ke Mamuju Sulawesi Barat. Alhamdulillah tidak butuh waktu lama pengobatan saya berhasil. Kurang lebih selama  setengah bulan saya dinyatakan sembuh oleh seorang dokter spesialis syaraf senior di daerah Muntilan dan dengan vonis bukan syaraf kejepit melainkan scoliosis vertebrate. Jadi diagnose dokter di Purwokerto selama itu ternyata salah. Dokter menyarankan untuk operasi jika saya bersedia, namun karena skoliosisnya di tulang belakang maka keluarga saya tidak menyetujuinya dikarenakan hasil operasi tersebut fifty – fifty bisa sembuh atau kalua tiudak berhasil bisa lumpuh. Dokter tidak memaksa tapi saya hanya disarankan agar tidak terlalu kecapaian saat beraktifitas sehari – hari.

          Setelah saya merasa stabil, saya melamar pekerjaan kembali yang sesuai dengan pengalaman saya. Kebetulan di PKPU Magelang sedang membutuhkan staff pengganti yang sedang cuti melahirkan selama setengah tahun karena ada dua orang yang cuti. Setelah setengah tahun saya ditawari untuk menjadi staff di PKPU Yogyakarta namun keluarga saya tidak mengijinkan dikarenakan pertimbangan jangkauan yang luas areanya di Yogyakarta. Saya kembali melamar di Laz dkd di Magelang. Selain bekarja di LAZ DKD saya juga berkhidmah untuk turut serta mengurusi anak yatim di bawah organisasi Pelangi Nusantara. Karena kesibukan pekerjaan dan aktifitas organisasi saya ternyata tidak kuat dan saya kambuh. Saya dikirim di tempat peristirahatan untuk orang – orang yang terkena ganguan kejiwaan di sekitar RSJ tapi bukan di RSJ namun yang punya tempat peristirahatan itu salah satu dokter di RSJ. Setelah rehat setengah bulan ditambah rehat setengah bulan di rumah Bu lek Tinah di Magelang, kakak memutuskan untuk mengirim saya ke pesantren. Dengan harapan jika saya di pesantren saya mempunyai aktivitas yang positif yang bermanfaat buat saya sendiri syukur juga bagi orang lain dan saya jika sudah merasa capek bise istrirahat serta saya tidak membebani bu lek dengan dititipi saya. Kakak mencari pesantren yang bisa saya singgahi. Ternyata tidak mudah untuk mencari pesantren lantaran usia saya saat itu bukanlah usia yang muda untuk masuk pesantren. Umumnya orang masuk pesantren itu lulus SD atau usia SMA. Setelah ditolak oleh lima pesantren di Magelang, akhirnya kakak mendapat informasi adanya pesantren di kulonprogo dan saya akhirnya nyantri disana. Saya nyantri disana selama empat tahun. Yaitu di pondok pesantren Nurul Haromaian.

         Saya mendaftar santri biasa yang masuknya santri khubbar. Oleh Bu nyai Siti Mardhiyah saya ditugaskan untuk berkhidmah di sekolah, karena pesantren juga memiliki sekolah umum di pagi hari. Saya mengajar Madrasah Ibtidaiyah disana. Untuk kegiatan keseharian saya mengikuti kegiatan pondok layaknya santri umum yang seusia SMP-SMA,  saya juga mengikuti kegiatan binadhor dan kegiatan di majelis. Saya tidak minum obat dan tidak berobat jalan, al hasil saya kambuh dan muncul halusinasi. Halusinasi saya yang muncul seperti sedang diuji sejauh mana rasa cinta saya kepada dua orang yang pernah mengisi hati saya. Mana yang lebih banyak, kepada si A atau kepada si B. Namun dalam keyakinan saya si B turut andil dalam hadirnya halusinasi saya pada saat itu. Sepertinya dia menyadap  Hp saya.Hal itu berdasar karena saya menjalin komunikasi kembali dengan si A semasa di pondok. Mungkin si B penasaran. Al hasil ya memang saya lebih mencintai si A ketimbang Si B ditandai dengan adanya bros bunga warna hijau yang merupakan warna favorit si A. Saat kambuh saya dibawa ke RSJ di Magelang yang merupakan rekanan pondok. Saya istirahat di sana selama dua minggu Setelah itu saya kembali ke pondok namun bukan ke pondok biasa tapi ke pondok rehab. Dan saya salah satu santri pondok rehab tersebut. Di situ ada pengurus yang merawat pasien. Bagi pasien dengan kondisi stabil seperti saya masih diperbolehkan untuk beraktifitas dan mengikuti kegiatan pondok seperti biasa namun dalam pengawasan pengurus rehab. Saya kembali berobat dan rutin minum obat sehingga saya tidak kambuh.

             Pada tahun 2024 saya menikah, tepatnya tanggal 20 April. Dalam lubuk hati saya sebenarnya saya sudah ikhlas jika saya tidak menikah seumur hidup saya. Tapi Allah maha baik, Alloh mengirimkan jodoh untukku. Suka dan duka dalam pernikahan sudah saya alami kurang lebih selama dua tahuan. Saya mencoba untuk tidak mengkonsumsi obat. Ternyata niat itu hanya bisa saya tunaikan selama setahun tiga bulan. Qodarulloh saya kambuh lagi untuk keenam kalinya. Masih sama dengan misi – misi saya setiap kambuh yaitu misi freemason dengan berbagai tugas.

               Halusinasi saat itu yang pertama adalah tentang politik di negeri ini. Saya bertugas untuk menyeleksi kandidat – kiandidat politikus yang akan bersinar di negeri ini. Adapun untuk memenangkan yang bersinar adalah melalui challange. Challenge tadi dibuktikan dengan memasak dan makanan. Saya makan gudeg wijilan untuk Pak Anis Baswedan yang asli Jogja. Saya memasak udang galah asam manis yang didatangkan dari Jawa Timur kebetulan wali siswa saya mengoleh – olehi saya sewaktu beliau pulang kampung. Udang asam manis tadi untuk AHY. Saya rasa karena jumlah politikus yang berkompetisi tidak banyak maka saya merasa tidak banyak saingan.  Mau memasukkan si B nah si B tidak pernah keluar di kancah politik tanah air ya pasti suaranya untuk AHY.  Selain menyeleksi politikus saya juga diberi gambaran tentang Indonesia di tahun 2045. Toto, titi, tentrem kerto raharjo dengan bendera Indonesia berkibar- nkibar di negara – negara Eropa. Selain gambaran negara saya juga bertugas mengubah freemason dari freemason hitam menjadi freemason putih. Hal itu digambarkan dengan halusinasi saya dimana saya melakukan monolog dihadapan para agen freemason di seluruh dunia, tentu saya menggunakan Bahasa Inggris dengan server melalui hati masing – masing. Saya melakukan monolog pada malam hingga dini hari di rumah Bu lek Magelang selama satu jam lima belas menit. Monolog yang saya sampaikan sempat direkam oleh sepupu saya mbak Sari. Isi monolog tentang loneliness tapi tidak merasa kesepian meskipun sendiri. Juga dipadukan dengan lagu dan gerak tari. Wah kalua kalian melihatnya tentu menjadi tontonan yang sangat menarik. Itu juga sebagai kompas penentu arah kedepannya saya mau jadi apa? Apakah saya bisa menjadi seperti Cak Nun? Sehingga monolog itu sebagai lahan ujiannya apakah saya punya jiwa seni atau tidak dan juga sebagai budayawan, apakah saya mampu atau tidak? Selain menjadi seperti Cak Nun saya juga diberi pandangan untuk bisa menjadi seperti mbak Alissa Wahid. Yang berjuang melalui NU dan juga Gusdurian. Pada saat saya halusinasi ada dua agenda yang bersamaan yang sangat ingin saya hadiri. Yang pertama milad Cak Nun dan yang kedua adalah sarasehan yang dihadiri oleh mbak Alissa wahid sebagai salah satu pembicaranya. Harusnya saya memilih, tapi saya lupa ada kendala apa sehingga saya malah tidak ahadir pada kedua acara tersebut. Kedua acara itu ada pada hari dan jam yang sama namun beda tempat. Saya jadi merenung, apa iya sebuah amanah itu diperebutkan dengan sebuah challenge seperti itu? Rasannya aku seperti berlomba dengan orang lain. Ada orangn lain diluar sana yang sedang berlomba denganku untuk meraih challenge – challenge mereka sendiri.

           Dulu saya pernah tidak ikut challenge. Saat itu saya kambuh keempat kali.  Challenge nya adalah memasak mie godok jawa dengan telur puyuh. Bayanganku adalah memasak untuk Gibran, ditandai dengan telur puyuh berarti telurtnya sangat kecil alias sangat muda. Saya ingat di rumah Bu lek saat itu tidak ada motor dan challange saat itu datang sekitar jam 11.00 siang, bahan – bahan untuk memasak itu sudah tidak ada di pasar. Mungkin harus mencari telur puyuh di Super indo di kota Mgelang dan akhirnya saya mundur tidak ikut challenge. Tergambar olehku Prof Nazarudin Umar Menteri agama menyeru ayo ikut jangan Cuma jadi penonton! Itu tergambar pada halusinasiku yang ke-enam terakhir kmarin maka sepertinya saya terlihat bersemangat mengikuti challenge dan semua challenge saya ikuti. Ada lagi yang menurutku menarik yaitu peristiwa ulang tahun naga putih pada kalender Cina. Saya benar – benar berada di depan salah satu rumah makan sea food dimalam hari sekitar pukul 23.00 malam milik saudara teman saya di Jogja. Disana saya mau menikah dengan si B versi freemason. Dalam halusinasi saya ,ayah si B adalah ngarso dalem yang menikah dengan entah isteri ke berapa yaitu Ibunya Si B. Saya duduk di kursi di halaman rumah makan sea food tersebut dan melihat di langit yang cerah gugusan awan putih yang berbentuk naga di langit yang cerah. Jadi tepat bahwa malam itu adalah ulang tahun naga putih dalam kalender cina. Tetapi ngarso Dalem tidak datang karena sedang mengadakan pertemuan dengan Nyai Roro Kidul terkait dengan pembaharuan perjanjian dengan beliau. Dalam gambaranku, aku berperan seperti Nyai roro Kidul di dunia manusia. Ada yang menggelitik saya juga, bahwa ternyata di dunia nyata ada yang tahu bahwa kami sedang berkompetisi memasak. Pada saat belanja di pasar Giwangan ada ibu – ibu yang nyeletuk bilang begini “ Wah kemayu kabeh.” Karena pada saat ke pasar itu saya menggunakan make up lengkap tapi tipis mungkin kompetitorku juga demikian. Honestly saya hanya menebak – nebak siapa rival saya, tanpa tahu pasti dia siapa yang pasti dia agen yang lain. Ada hal yang menguatkanku juga bahwa ada orang lain yang melakukan aktivitas challenge – challenge seperti aku terlepas bahwa dia seorang penyintas skezofrenia seperti akua tau bukan. Buktinya ketika aku pulang dari pondok Nurul Haroimain ada satu tas diatas motor saya yang isinya hp jadul, lipstick, handbody, cairan pembersih kaca mata yang dimasukkan dalam satu tas kecil yang bertuliskan “ Forever Young.

         Ada yang jenaka yaitu bercandanya ngarso Dalem terkait nhubungan swami isteri yang selalu membuatku tersenyum  saat mengingatnya, namun saya tidak akan share disini. Itu saja kisahku. Ada banyak persepsi orang – orang terkait dengan saya, saya sadar bahwa I’m not ok but it’s ok. Jadi saya tidak masalah dengan kondisi saya sebagai penyintas skizofrenia. Saya hanya perlu tumbuh dengan apa yang saya bisa bahkan mungkin bagi orang lain pencapaian itu biasa saja namun saya akan menyikapi setiap pencapaian dengan kaca mata saya. Ya bahwa tumbuhku adalah sebagai seorang skizofrener yang memang bukan orang seperti biasa. Menjadi ordinary person juga tidak mengapa yang penting terus tumbuh dan berkarya. Bagi teman – teman yang mau berbagi cerita yang mirip – mirip dengan saya saya persilahkan dengan harapan kita bisa sharing terlebih jika kalian punya pengalaman juga tentang challenge – challenge yang aku alami, barang kali kamu juga mengalaminya. Yuk sharing…

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Beautiful Mind - Part 2

             Setelah saya merasa stabil saya melamar pekerjaan sesuai dengan pengalaman saya di dunia ZISWAF dan kemanusiaan PKPU Purwokerto...