Cerita ini berawal pada tahun 2011.
Saat saya masih bekerja di Jakarta sebagai salah satu manajer di sebuah Yayasan
besar di Indonesia. Saya selalu berada dalam lingkup kecil karyawan yang tumbuh
seperti keluarga. Paling banyak hanya dua belas karyawan saja di kantor kami. Suasana
kekeluargaan yang kami bangun sangat terasa, kami seperti keluarga dimana satu
karyawan dengan karyawan yang lain sangat dekat seperti layaknya sebuah
keluarga. Hingga pada masa itu kami
merekrut satu karyawan untuk bagian program. Karyawan kami yang baru mempunyai
latar belakang pernah bekerja pada salah satu perusahaan BUMN besar di negeri
ini. Beliau juga termasuk lulusan terbaik di salah satu Universitas negeri
ternama di negeri ini. Sebenarnya niat beliau baik, ingin mengajarkan kepada
saya seperti apa praktik office politik di perkantoran. Cara beliau
mnengajarkan adalah melalui study kasus. Misalnya untuk mengajari praktik adu
domba maka dibuatlah karyawan dikubu – kubukan atau dikelompok – kelompokkan
kemudian saling menyerang. Setelah itu diberikan contoh praktik menjilat atasan
atau cari muka kepada atasan, kemudian praktik mengeklaim pekerjaan teman
sebagai hasil pekerjaannya dan lain sebagainya.
Namun proses pembelajaran office
politik itu sangat banyak study kasusnya dan pekerjaan saya juga saat itu
terbilang banyak sehingga fokus pikiran saya terbelah. Finally saya menderita
depresi. Pada saat itu kakak saya (Bunda)
dipanggil oleh salah satu direktur saya dan diberitahukan bahwa kondisi
saya aneh dan direkomendasikan untuk dibawa kepada salah satu psikolog yang
skaligus ustadz di Jakarta. Psikolog ini juga merupakan salah satu guru besar
di Universitas Indonesia dan sangat terkenal di negeri ini. Akhirnya bunda
membawa saya untuk periksa kepada psikolog ini. Sampai ruangan beliau, sebelum
saya duduk, saya dipersilahkan untuk mengambil buku – buku tulisan beliau
terkait penyakit – penyakit psikologis yang ada. Ada empat buku yang saya ambil.
Psikolog itu menyarankan kepada saya untuk mengambil buku yang banyak dan
dibagikan kepada teman – teman saya secara gratis. Sesi wawancara atau mungkin lebih tepatnya
diagnosa dimulai. Saya menceritakan apa yang saya alami. Dan pada saat awal
pertama kali saya mengalami kejadian itu saya tidak bisa tidur dalam kurun
waktu satu minggu. Dengan mengangguk – angguk dan tersenyum psikolog itu
membuka obrolan dan dikatakan oleh beliau bahwa saya menderita skizofrenoia dan
juga ada unsur dibuat / disalahi oleh orang lain. Itu alasan kenapa saya
direkomendasikan untuk berobat kepada psikolog yang juga seorang ustadz karena
dengan keustadzannya ini beliau mampu melihat juga gejala yang dari non medis (
dibuat oleh orang ). Pada akhirnya psikolog ini menutup dengan pernyataan yang
menenangkan . Apapun yang dialami sudah seizin Alloh SWT bahwa saya sakit
adalah benar dan juga bahwa saya dibuat oleh orang atau ada gangguan non medis
juga benar. Caranya untuk menyembuhkan adalah dengan minum obat jiwa serta
dengan mendekatkan diri kepada Alloh caranya dengan membaca doa sebelum minum
obat, ada doa khusus yang diberikan oleh psikolog itu. Selain itu saya juga
dianjurkan untuk tilawah QS Al Baqarah setiap hari atau ketika sedang udzhur (
berhalangan dengan memutar murottal QS
Al Baqarah.
Kenapa saya
menyebutnya dengan beautiful mind? Ya karena skizofrenia itu salah satu
gejalanya adalah tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana khayalan (
halusinasi). Ada bagian yang mampu saya ingat namun ada pula bagian cerita yang
luput dari ingatan saya. Tapi menurut saya halusinasinya itu menarik dan seru
untuk diceritakan. Selama ini, sejak tahun 2011 saya mengalami fase kambuh atau
tidak stabil selama enam kali. Dari pertama kali saya tidak stabil ( mengalami
gangguan) selalu ada kaitannya dengan freemason. Dalam pemahaman saya freemason
adalah gerakan kebaikan untuk menyelamatkan orang lain. Jadi freemason dalam
halusinasiku adalah gerakan kebaikan. Kalau kita browsing di internet yang
muncul tentang freemasonry adalah gerakan elit global dengan berbagai ritualnya
dan lain sebagainya. Ini berbeda dengan freemason dalam halusinasiku yakni
Gerakan menolong sesama. Pada saat pertama saya mendapatkan bisikan – bisikan
dalam halusinasiku aku direkrut menjadi salah satu agen freemason. Waktu itu
ada pula pekumpulan selain freemason. Saat itu, freemason terkesan lebih keras
dibandingkan perkumpulan itu. Level yang lebih halus atau mediumnya adalah
USAID. Jadi stop ya mengasosiasikan freemason yang ada di internet sama dengan
freemason dalam halusinasiku. Entahlah karena saya juga tidak paham. Begitu
juga dengan USAID, kenapa ia muncul dibawah freemason dalam hal gerakannya.
Gampangnya freemason itu gerakannya kuat / massive dan USAID itu lebih
kooperatif. Pada saat itu, rasanya saya sedang direkrut sebagai salah satu agen
freemason. Dalam halusinasiku teman – teman di kostku saat itu sudah menjadi
Agen. Tapi saya tidak tahu, teman – teman kosku itu menjadi agennya siapa karena
kami seperti berlomba untuk menyelesaikan tantangan / challenge. Itu kejadian
pertama kali, sehingga saya sangat kebingungan menghadapi tantangan itu.
Pada saat
itu ada salah satu teman kost yang menyodorkan satu nama kader dari salah satu
partai, dia bilang si A itu baik novi. Maka saya menandai bahwa mbak yang meyodorkan
nama itu adalah sebagai agen dari partai A. untuk aksi challenge pertama, saya
diberi kertas yang entah itu kertas apa. Setelah mendapatkan sebuah kertas
teman – teman ku bubar sepertinya mengikuti perintah apa yang ada di dalam
kertas itu.
Di Jakarta
saya tidak membawa kendaraan sendiri. Untuk urusan pekerjaan saya menggunakan
mobil kantor atau diganti dengan naik taxi. Maka dalam halusinasiku aku
mengalami perjalanan malam dengan menggunakan taxi, transjakarta atau angkot
atau metro mini. Entahlah, saat itu yang kutuju adalah pasar Kramat Jati,
disana saya Cuma minum teh panas dan belanja sayuran lalu saya pulang ke kost.
Alhamdulillah selama saya pergi keluar saya selalu bisa pulang kembali ke
kostan. Saya selalu ingat konsep cinta dalam hati dan pikiran saya. Bahwa
tingkatan pertama yang harus aku cintai adalah Alloh SWT maka saya selalu
membawa al qur’an dalam tas saya ,yang kedua yang aku cintai adalah Rosululloh
SAW, maka saya selalu membawa buku siroh Nabawiyah dalam tas saya, dan yang ke tiga
adalah Ibu. Karena Ibuku sudah wafat, aku selalu mengganggap ibu kostku adalah
ibuku. Maka selama aku di kostan Enyak di Jakarta saya menganggap Enyak adalah
pengganti ibuku. Enyak adalah pemilik kostan yang ku tempati / induk semang.
Maka biasanya saya mengingat Alloh, dan ketika melihat buku siroh nabawiyah
saya teringat Rosululloh dan ketika saya ingat Ibu saya maka saya teringat ibu
kost dimana saya harus pulang kesana.
Saat
mengalami halusinasi pertama kali hampir setiap malam saya keluar kamar dan mengalami
perjalanan malam. Ada kejadian pada
suatu malam saya mendatangi komplek Bakri. Nampak terlihat beberapa lampu
menyala yang menurut saya saya terlihat mencurigakan melalui CCTV memasuki
komplek tersebut. Saya berjalan menuju masjid Bakri. Saya duduk dipinggir
gerbang, tidak dapat memasuki masjid karena pintu masjid dikunci di pintu
gerbangnya. Setelah beberapa saat duduk, saya kembali melanjutkan perjalanan
malam saya dengan menggunakan Trans Jakarta . Pada saat itu adalah Trans
Jakarta terkahir berarti sekitar pukul sebelas malam. Di koridor busway saat
saya akan membeli tiket, saya diberhentikan oleh seorang wanita berhijab lebar
dengan menggunakan cadar yang menyelempangkan tangannya di depan saya. Saya
sontak berhenti dan mengadakan percakapan dengannya. Dalam percakan itu tujuan
ia datang ke komplek Bakri adalah untuk melobi terkait acara keagamaan untuk
anak – anak dalam stasiun televisi yang tayang. Tentu saja stasiun televisi
yang dipunyai oleh group Bakri. Kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju
kramat jati. Aktivitas yang saya lakukan di daerah Kramat Jati, saya melakukan
survey konsumen, saya mendatangi entah Indomaret atau Alfa mart atau semacamnya
dan saya membeli salah satu majalah remaja pada masa itu. Setelah membeli
majalah, saya duduk dipinggir jalan. Ada seorang perempuan menghampiriku dan
dia menyentuh pundakku kemudian pingganggu, kemudia ia berkata :”oh ini mah
masih baik.” Entah apa yang dimaksud oleh perempuan tersebut. Ia mengenalkan
dirinya kepada saya bahwa ia adalah seorang public reletaion / PR . Kemudian
perempuan itu mengajakku ke salah satu warung padang disekitar situ, yang masih
buka. Saya diajak untuk menikmati teh panas disana. Waktu menunjukkan pukul dua
dini hari, saya pamit pulang dan saya mencegat angkot yang lewat depan warung.
Setelah sampai perempatan, entah itu perempatan apa saya juga tidak paham saya
lantas turun. Kemudian ada sebuah metro mini yang lewat jurusan lebak bulus,
yang saya tahu metromini itu melewati jalan menuju kostan saya. Alhamdulillah saya dapat kembali dengan
selamat ke kostan Enyak.
Selama
beberapa hari saya absen dari kantor. Kemudian kakak saya (saya memanggilnya
Bunda di panggil ke kantor oleh salah satu direktur saya di kantor. Kakak saya
adalah perwakilan keluarga yang hanya satu -satunya kakak dan saudara sekandung
yang saya punya. Kakak saat itu tinggal di Purwokerto dan dalam kondisi sedang
hamil. Setalah sampai Jakarta, kakak menghadap salah satu direktur di kantor
saya, Direktur saya bercerita, bahawa saat bertemu dengan saya, saya terlihat
aneh, Saya minta untuk mbertemu direktur itu dan marah-marah di laman facebook.
Selain saya ingin bertemu direktur tersebut, saya juga ingin bertemu salah satu
dewan wali amanat di kantor saya. Kami bertemu sambal makan bersama di salah
satu resto di Pejaten Village. Saya meyodorkan struktur pengembangan kantor
terkait struktur organisasi dan penempatan personil – personilnya. Ide dalam
menyusun struktur organisasi tersebut ada saat saya sedang berhalusinasi
kemudian saya catat. Pada saat saya selesai menyampaikan ide saya, dewan wali
amanah yang saya minta untuk hadir pada saat itu tiba – tiba marah. Kemudian
beliau minum es kelapa muda yang ada di meja. Padahal setahu kami, dewan wali
amanah tersebut tidak minum minum- minuman manis, beliau hanya minum air putih
saja. Beliau mengancam direktur yang ikut hadir dengan kalimat yang mengancam
dengan nada keras. Dan kemudian beliau meninggalkan tempat tersebut dan hanya
tertinggal saya dan direktur kantor saya.
Setelah itu
saya sholat dhuhur, dan bapak direktur kembali ke rumah. Kemudian saya menyusul,
kembali ke kostasn Enyak. Pak Direktur berpesan, supaya obrolan terkait dengan
strategy pengembangan di kantor kami supaya dilanjutkan di ruang meeting
kantor. Sementara itu, Kakak saya mengajak saya supaya pulang ke Purwokerto
dan pengobatan dilakukan jarak jauh dengan mengirimkan obat dari Jakarta
ke Purwokerto. Kejadian di Purwokerto adalah awal mula saya memasak dibawah
pengaruh halusinasi. Saat itu dengan cerita oyong besar dan oyong kecil. Saya
menggoreng telur dengan oyong. Setiap
kali saya mengalami halusinasi saya selalu ada sesi memasak. Pada saat itu
juga, saya mengurutkan penggunaan setiap
pakaian yang saya pakai, mengurutkan penggunaan sabun, alat mandi, sikat gigi
dan lain – lain dalam satu kali urutan sehingga saya membutuhkan waktu yang
lama sekali saat aktivitas di kamar mandi. Hingga akhirnya biasannya kakak
mengetuk pintu kamar mandi karena saya kelamaan di kamar mandi. Itu pengalaman
awal – awal saya saat mengalami halusinasi. Saya bisa mengingat kejadian saat halusinasi namun saya juga kadang ada
yang lupa kejadian apa yang terjadi.
Saat di
Purwokerto, saya mengalai pergantian dokter.Kakak dan kakak ipar saya mencari
dokter jiwa di Purwokerto dan sekitarnya dengan harapan dapat mengurangi biaya pengobatan
saya. Alhamdulillah kakak menemukan dokter spesialis kejiwaan yang berada di
Banyumas. Awal mula periksa, saya periksa di rumah beliau di Banyumas. Setelah
ngobrol, ternyata dokter tersebut membuka praktek di salah satu klinik di
Purwokerto, akhirnya saya pindah berobat ke dokter tersebut di tempat buka
prektik klinik di Purwokerto.
Setelah saya
stabil, saya kembali mulai menata hidup saya. Saya berhenti untuk memikirkan
kerja kantoran. Saat itu saya memutuskan untuk kuliah S2. Yang linear dengan
ijazah kesarjanaan saya. Saya mengambil magister management di UNDIP Semarang.
Berbekal pesangon dari tempat bekerja saya dulu, saya melanjutkan studi saya
namun ternyata pesangon tersebut tidak cukup untuk membiayai seluruh biaya
kuliah S2 saya. Hingga pada semester dua saya memutuskan untuk bekerja kembali
sekaligus melanjutkan S2. Setelah mencari pekerjaan di Semarang yang ternyata
gaji di Semarang pada waktu itu tidak mencukupi biaya kuliah sekaligus biaya
hidup maka dengan keputusan yang sangat berat saya bekerja kembali di Jakarta.
Saya bekerja pada satu Yayasan di Jakarta pada hari senin sampai Jum’at dan
pada waktu Jum’at sore saya saya dengan naik kereta menuju semarang untuk
kuliah mengambil kelas executive yang berkuliah tiap hari Sabtu dan Ahad. Pada
Ahad malam saya kembali ke Jakarta lagi dengan kereta.
Ternyata
ritme hidup yang demikian tidak sanggup saya lakukan, sehingga menyebabkan saya
kambuh untuk ketiga kalinya. Dan kembalilah saya pulang ke rumah kakak di
Purwokerto. Halusinasi saat itu adalah tentang dua orang pria yang pernah
mengisi hati saya. Saya seperti sedang mencari mereka berdua. Dengan bantuan
taxi, dua merek taxi ternama saat itu di Jakarta yang berwarna biru dengan
tarif atas dan satu taxi berwarna putih dengan tarif bawah setia mengantarkan
saya pada pencarian akan dua sosok laki – laki yang pernah mengisi hati saya.
Hasilnya nihil. Hingga akhirnya saya dikirim oleh keluarga saya di salah satu
padepokan peristirahatan bagi penyintas gangguan jiwa dan gangguan akibat
narkoba di daerah Parung Bogor. Setelah rehat selama dua minggu saya dibawa
pulang ke Magelang dititipkan di tempat saudara kemudian dijemput kakak dan
tinggal Bersama kakak kembali di Purwokerto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar