Sabtu, 04 Juli 2026

My Beautiful Mind - Part 1

 

Cerita ini berawal pada tahun 2011. Saat saya masih bekerja di Jakarta sebagai salah satu manajer di sebuah Yayasan besar di Indonesia. Saya selalu berada dalam lingkup kecil karyawan yang tumbuh seperti keluarga. Paling banyak hanya dua belas karyawan saja di kantor kami. Suasana kekeluargaan yang kami bangun sangat terasa, kami seperti keluarga dimana satu karyawan dengan karyawan yang lain sangat dekat seperti layaknya sebuah keluarga.  Hingga pada masa itu kami merekrut satu karyawan untuk bagian program. Karyawan kami yang baru mempunyai latar belakang pernah bekerja pada salah satu perusahaan BUMN besar di negeri ini. Beliau juga termasuk lulusan terbaik di salah satu Universitas negeri ternama di negeri ini. Sebenarnya niat beliau baik, ingin mengajarkan kepada saya seperti apa praktik office politik di perkantoran. Cara beliau mnengajarkan adalah melalui study kasus. Misalnya untuk mengajari praktik adu domba maka dibuatlah karyawan dikubu – kubukan atau dikelompok – kelompokkan kemudian saling menyerang. Setelah itu diberikan contoh praktik menjilat atasan atau cari muka kepada atasan, kemudian praktik mengeklaim pekerjaan teman sebagai hasil pekerjaannya dan lain sebagainya.

            Namun proses pembelajaran office politik itu sangat banyak study kasusnya dan pekerjaan saya juga saat itu terbilang banyak sehingga fokus pikiran saya terbelah. Finally saya menderita depresi. Pada saat itu kakak saya (Bunda)  dipanggil oleh salah satu direktur saya dan diberitahukan bahwa kondisi saya aneh dan direkomendasikan untuk dibawa kepada salah satu psikolog yang skaligus ustadz di Jakarta. Psikolog ini juga merupakan salah satu guru besar di Universitas Indonesia dan sangat terkenal di negeri ini. Akhirnya bunda membawa saya untuk periksa kepada psikolog ini. Sampai ruangan beliau, sebelum saya duduk, saya dipersilahkan untuk mengambil buku – buku tulisan beliau terkait penyakit – penyakit psikologis yang ada. Ada empat buku yang saya ambil. Psikolog itu menyarankan kepada saya untuk mengambil buku yang banyak dan dibagikan kepada teman – teman saya secara gratis.  Sesi wawancara atau mungkin lebih tepatnya diagnosa dimulai. Saya menceritakan apa yang saya alami. Dan pada saat awal pertama kali saya mengalami kejadian itu saya tidak bisa tidur dalam kurun waktu satu minggu. Dengan mengangguk – angguk dan tersenyum psikolog itu membuka obrolan dan dikatakan oleh beliau bahwa saya menderita skizofrenoia dan juga ada unsur dibuat / disalahi oleh orang lain. Itu alasan kenapa saya direkomendasikan untuk berobat kepada psikolog yang juga seorang ustadz karena dengan keustadzannya ini beliau mampu melihat juga gejala yang dari non medis ( dibuat oleh orang ). Pada akhirnya psikolog ini menutup dengan pernyataan yang menenangkan . Apapun yang dialami sudah seizin Alloh SWT bahwa saya sakit adalah benar dan juga bahwa saya dibuat oleh orang atau ada gangguan non medis juga benar. Caranya untuk menyembuhkan adalah dengan minum obat jiwa serta dengan mendekatkan diri kepada Alloh caranya dengan membaca doa sebelum minum obat, ada doa khusus yang diberikan oleh psikolog itu. Selain itu saya juga dianjurkan untuk tilawah QS Al Baqarah setiap hari atau ketika sedang udzhur ( berhalangan  dengan memutar murottal QS Al Baqarah.

            Kenapa saya menyebutnya dengan beautiful mind? Ya karena skizofrenia itu salah satu gejalanya adalah tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana khayalan ( halusinasi). Ada bagian yang mampu saya ingat namun ada pula bagian cerita yang luput dari ingatan saya. Tapi menurut saya halusinasinya itu menarik dan seru untuk diceritakan. Selama ini, sejak tahun 2011 saya mengalami fase kambuh atau tidak stabil selama enam kali. Dari pertama kali saya tidak stabil ( mengalami gangguan) selalu ada kaitannya dengan freemason. Dalam pemahaman saya freemason adalah gerakan kebaikan untuk menyelamatkan orang lain. Jadi freemason dalam halusinasiku adalah gerakan kebaikan. Kalau kita browsing di internet yang muncul tentang freemasonry adalah gerakan elit global dengan berbagai ritualnya dan lain sebagainya. Ini berbeda dengan freemason dalam halusinasiku yakni Gerakan menolong sesama. Pada saat pertama saya mendapatkan bisikan – bisikan dalam halusinasiku aku direkrut menjadi salah satu agen freemason. Waktu itu ada pula pekumpulan selain freemason. Saat itu, freemason terkesan lebih keras dibandingkan perkumpulan itu. Level yang lebih halus atau mediumnya adalah USAID. Jadi stop ya mengasosiasikan freemason yang ada di internet sama dengan freemason dalam halusinasiku. Entahlah karena saya juga tidak paham. Begitu juga dengan USAID, kenapa ia muncul dibawah freemason dalam hal gerakannya. Gampangnya freemason itu gerakannya kuat / massive dan USAID itu lebih kooperatif. Pada saat itu, rasanya saya sedang direkrut sebagai salah satu agen freemason. Dalam halusinasiku teman – teman di kostku saat itu sudah menjadi Agen. Tapi saya tidak tahu, teman – teman kosku itu menjadi agennya siapa karena kami seperti berlomba untuk menyelesaikan tantangan / challenge. Itu kejadian pertama kali, sehingga saya sangat kebingungan menghadapi tantangan itu.

            Pada saat itu ada salah satu teman kost yang menyodorkan satu nama kader dari salah satu partai, dia bilang si A itu baik novi. Maka saya menandai bahwa mbak yang meyodorkan nama itu adalah sebagai agen dari partai A. untuk aksi challenge pertama, saya diberi kertas yang entah itu kertas apa. Setelah mendapatkan sebuah kertas teman – teman ku bubar sepertinya mengikuti perintah apa yang ada di dalam kertas itu.

            Di Jakarta saya tidak membawa kendaraan sendiri. Untuk urusan pekerjaan saya menggunakan mobil kantor atau diganti dengan naik taxi. Maka dalam halusinasiku aku mengalami perjalanan malam dengan menggunakan taxi, transjakarta atau angkot atau metro mini. Entahlah, saat itu yang kutuju adalah pasar Kramat Jati, disana saya Cuma minum teh panas dan belanja sayuran lalu saya pulang ke kost. Alhamdulillah selama saya pergi keluar saya selalu bisa pulang kembali ke kostan. Saya selalu ingat konsep cinta dalam hati dan pikiran saya. Bahwa tingkatan pertama yang harus aku cintai adalah Alloh SWT maka saya selalu membawa al qur’an dalam tas saya ,yang kedua yang aku cintai adalah Rosululloh SAW, maka saya selalu membawa buku siroh Nabawiyah dalam tas saya, dan yang ke tiga adalah Ibu. Karena Ibuku sudah wafat, aku selalu mengganggap ibu kostku adalah ibuku. Maka selama aku di kostan Enyak di Jakarta saya menganggap Enyak adalah pengganti ibuku. Enyak adalah pemilik kostan yang ku tempati / induk semang. Maka biasanya saya mengingat Alloh, dan ketika melihat buku siroh nabawiyah saya teringat Rosululloh dan ketika saya ingat Ibu saya maka saya teringat ibu kost dimana saya harus pulang kesana.

            Saat mengalami halusinasi pertama kali hampir setiap malam saya keluar kamar dan mengalami perjalanan malam.  Ada kejadian pada suatu malam saya mendatangi komplek Bakri. Nampak terlihat beberapa lampu menyala yang menurut saya saya terlihat mencurigakan melalui CCTV memasuki komplek tersebut. Saya berjalan menuju masjid Bakri. Saya duduk dipinggir gerbang, tidak dapat memasuki masjid karena pintu masjid dikunci di pintu gerbangnya. Setelah beberapa saat duduk, saya kembali melanjutkan perjalanan malam saya dengan menggunakan Trans Jakarta . Pada saat itu adalah Trans Jakarta terkahir berarti sekitar pukul sebelas malam. Di koridor busway saat saya akan membeli tiket, saya diberhentikan oleh seorang wanita berhijab lebar dengan menggunakan cadar yang menyelempangkan tangannya di depan saya. Saya sontak berhenti dan mengadakan percakapan dengannya. Dalam percakan itu tujuan ia datang ke komplek Bakri adalah untuk melobi terkait acara keagamaan untuk anak – anak dalam stasiun televisi yang tayang. Tentu saja stasiun televisi yang dipunyai oleh group Bakri. Kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju kramat jati. Aktivitas yang saya lakukan di daerah Kramat Jati, saya melakukan survey konsumen, saya mendatangi entah Indomaret atau Alfa mart atau semacamnya dan saya membeli salah satu majalah remaja pada masa itu. Setelah membeli majalah, saya duduk dipinggir jalan. Ada seorang perempuan menghampiriku dan dia menyentuh pundakku kemudian pingganggu, kemudia ia berkata :”oh ini mah masih baik.” Entah apa yang dimaksud oleh perempuan tersebut. Ia mengenalkan dirinya kepada saya bahwa ia adalah seorang public reletaion / PR . Kemudian perempuan itu mengajakku ke salah satu warung padang disekitar situ, yang masih buka. Saya diajak untuk menikmati teh panas disana. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, saya pamit pulang dan saya mencegat angkot yang lewat depan warung. Setelah sampai perempatan, entah itu perempatan apa saya juga tidak paham saya lantas turun. Kemudian ada sebuah metro mini yang lewat jurusan lebak bulus, yang saya tahu metromini itu melewati jalan menuju kostan saya.  Alhamdulillah saya dapat kembali dengan selamat ke kostan Enyak.

            Selama beberapa hari saya absen dari kantor. Kemudian kakak saya (saya memanggilnya Bunda di panggil ke kantor oleh salah satu direktur saya di kantor. Kakak saya adalah perwakilan keluarga yang hanya satu -satunya kakak dan saudara sekandung yang saya punya. Kakak saat itu tinggal di Purwokerto dan dalam kondisi sedang hamil. Setalah sampai Jakarta, kakak menghadap salah satu direktur di kantor saya, Direktur saya bercerita, bahawa saat bertemu dengan saya, saya terlihat aneh, Saya minta untuk mbertemu direktur itu dan marah-marah di laman facebook. Selain saya ingin bertemu direktur tersebut, saya juga ingin bertemu salah satu dewan wali amanat di kantor saya. Kami bertemu sambal makan bersama di salah satu resto di Pejaten Village. Saya meyodorkan struktur pengembangan kantor terkait struktur organisasi dan penempatan personil – personilnya. Ide dalam menyusun struktur organisasi tersebut ada saat saya sedang berhalusinasi kemudian saya catat. Pada saat saya selesai menyampaikan ide saya, dewan wali amanah yang saya minta untuk hadir pada saat itu tiba – tiba marah. Kemudian beliau minum es kelapa muda yang ada di meja. Padahal setahu kami, dewan wali amanah tersebut tidak minum minum- minuman manis, beliau hanya minum air putih saja. Beliau mengancam direktur yang ikut hadir dengan kalimat yang mengancam dengan nada keras. Dan kemudian beliau meninggalkan tempat tersebut dan hanya tertinggal saya dan direktur kantor saya.

            Setelah itu saya sholat dhuhur, dan bapak direktur kembali ke rumah. Kemudian saya menyusul, kembali ke kostasn Enyak. Pak Direktur berpesan, supaya obrolan terkait dengan strategy pengembangan di kantor kami supaya dilanjutkan di ruang meeting kantor. Sementara itu, Kakak saya mengajak saya supaya pulang ke  Purwokerto  dan pengobatan dilakukan jarak jauh dengan mengirimkan obat dari Jakarta ke Purwokerto. Kejadian di Purwokerto adalah awal mula saya memasak dibawah pengaruh halusinasi. Saat itu dengan cerita oyong besar dan oyong kecil. Saya menggoreng telur dengan  oyong. Setiap kali saya mengalami halusinasi saya selalu ada sesi memasak. Pada saat itu juga, saya mengurutkan  penggunaan setiap pakaian yang saya pakai, mengurutkan penggunaan sabun, alat mandi, sikat gigi dan lain – lain dalam satu kali urutan sehingga saya membutuhkan waktu yang lama sekali saat aktivitas di kamar mandi. Hingga akhirnya biasannya kakak mengetuk pintu kamar mandi karena saya kelamaan di kamar mandi. Itu pengalaman awal – awal saya saat mengalami halusinasi. Saya bisa mengingat kejadian  saat halusinasi namun saya juga kadang ada yang lupa kejadian apa yang terjadi.

        Saat di Purwokerto, saya mengalai pergantian dokter.Kakak dan kakak ipar saya mencari dokter jiwa di Purwokerto dan sekitarnya dengan harapan dapat mengurangi biaya pengobatan saya. Alhamdulillah kakak menemukan dokter spesialis kejiwaan yang berada di Banyumas. Awal mula periksa, saya periksa di rumah beliau di Banyumas. Setelah ngobrol, ternyata dokter tersebut membuka praktek di salah satu klinik di Purwokerto, akhirnya saya pindah berobat ke dokter tersebut di tempat buka prektik klinik di Purwokerto.

        Setelah saya stabil, saya kembali mulai menata hidup saya. Saya berhenti untuk memikirkan kerja kantoran. Saat itu saya memutuskan untuk kuliah S2. Yang linear dengan ijazah kesarjanaan saya. Saya mengambil magister management di UNDIP Semarang. Berbekal pesangon dari tempat bekerja saya dulu, saya melanjutkan studi saya namun ternyata pesangon tersebut tidak cukup untuk membiayai seluruh biaya kuliah S2 saya. Hingga pada semester dua saya memutuskan untuk bekerja kembali sekaligus melanjutkan S2. Setelah mencari pekerjaan di Semarang yang ternyata gaji di Semarang pada waktu itu tidak mencukupi biaya kuliah sekaligus biaya hidup maka dengan keputusan yang sangat berat saya bekerja kembali di Jakarta. Saya bekerja pada satu Yayasan di Jakarta pada hari senin sampai Jum’at dan pada waktu Jum’at sore saya saya dengan naik kereta menuju semarang untuk kuliah mengambil kelas executive yang berkuliah tiap hari Sabtu dan Ahad. Pada Ahad malam saya kembali ke Jakarta lagi dengan kereta.

          Ternyata ritme hidup yang demikian tidak sanggup saya lakukan, sehingga menyebabkan saya kambuh untuk ketiga kalinya. Dan kembalilah saya pulang ke rumah kakak di Purwokerto. Halusinasi saat itu adalah tentang dua orang pria yang pernah mengisi hati saya. Saya seperti sedang mencari mereka berdua. Dengan bantuan taxi, dua merek taxi ternama saat itu di Jakarta yang berwarna biru dengan tarif atas dan satu taxi berwarna putih dengan tarif bawah setia mengantarkan saya pada pencarian akan dua sosok laki – laki yang pernah mengisi hati saya. Hasilnya nihil. Hingga akhirnya saya dikirim oleh keluarga saya di salah satu padepokan peristirahatan bagi penyintas gangguan jiwa dan gangguan akibat narkoba di daerah Parung Bogor. Setelah rehat selama dua minggu saya dibawa pulang ke Magelang dititipkan di tempat saudara kemudian dijemput kakak dan tinggal Bersama kakak kembali di Purwokerto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Beautiful Mind - Part 2

             Setelah saya merasa stabil saya melamar pekerjaan sesuai dengan pengalaman saya di dunia ZISWAF dan kemanusiaan PKPU Purwokerto...