Kamis, 24 Juli 2014

Ramadhan di Purwokerto

Ramadhan kali ini tahun 1435H saya berkesempatan menikmati di Purwokerto. Dalam rutinitas pekerjaan saya sebagai waqaf konsultant di PKPU. PKPU juga dikenal sebagai salah satu lembaga kemanusiaan di Indonesia maupun di manca negara. Rutinitas Ramadhan seperti layaknya lembaga kemanusianan yang mengumpulkan dana zakat, infak, sedekah dan wakaf adalah sama. Yakni sibuk pada bulan Ramadhan. Sama seperti saat saya dulu bekerja di Dompet dhuafa dulu. Hanya saja loadenya jauh lebih rendah dibandingkan dengan waktu saya bekerja di Dompet dhuafa dulu. Di PKPU Purwokerto sibuk tentu lebih sibuk dari hari-hari biasa namun jauh dengan kesibukan Dompet dhuafa dulu. Tentu saja lantaran dulu saya bekerja di Dompet dhuafa Jakarta dan ini PKPU di kota kecil Purwokerto. Mungkin jika saya bekerja di PKPU Pusat Jakarta ya sama dengan saat saya di dompet dhuafa Jakarta dulu kesibukannya.

Aktivitas di PKPU saat ini sosialisasi wakaf yang akhirnya diubah menjadi penyebaran marketing tool Ramadhan kepada donatur lama. Diluar itu jika ada agenda kegiatan Ramadhan lain diluar jobdiscription saya misalnya buka bersama dengan anak yatim, santunan dan bingkisan dhuafa atau kegiatan sosial yang lain. Mengenai program di PKPU lebih ke charity, berbeda dengan di dompet dhuafa. Di Dompet dhuafa mengenal dengan program simple stupid, misalnya program sunatan massal yang bisa dikerjakan oleh anak-anak OSIS SMU maka di dompet dhuafa tidak akan dikerjakan program tersebut. Di PKPU mengeksekusi program melalui tahapan dengan melibatkan dewan syariah yang sangat ketat sehingga terlihat lebih strict jika dibandingkan Dompet dhuafa dalam eksekusi program. Bukan hanya itu dalam eksekusi mengiklan juga dewan syariah turut campur dalam memutuskan sehingga kita tak pernah melihat iklan PKPU berkeliaran di Televisi, berbeda dengan Dompet Dhuafa dan lembaga sosial lainnya. Meskipun bulan Ramadhan kali ini, dalam pengamatan saya jarang lembaga zakat yang mengiklan di Televisi hanya Rumah zakat itupun setelah setengah Ramadhan dan BAZNAS itupun supported pembicara saja di Metro tv.

Namun kesederhanaan program di PKPU yang saya rasakan slama ini sebagai pekerja sosial sangat merasakan ruh sosial pekerjaan. Hal yang lain yang saya rasakan sewaktu saya di dompet dhuafa. Dulu kering yang saya rasakan. Bisa jadi karena lembaganya sudah terlalu besar dan saya berada pada salah satu posisi fundraising yang jarang bersinggungan dengan program. Jika sudah merasa kering amat sangat maka saya main ke teman-teman program misalnya ke Lembaga pengembangan insani dimana anak-anak dhuafa bersekolah gratis disana, melihat mereka bermain bola, tersenyum dan tertawa lepas itu yang menjadi obat saya saat kering dalam bekerja. Namun kini saya tinggal ikut saja jika ada program misalnya pembagian kacamata gratis bagi siswa-siswa yang tidak mampu, pembagian sembako gratis bagi dhuafa, santunan anak yatim dan lain sebagainya, yang mungkin jika dilihat seperti dulu waktu di Dompet dhuafa bukanlah program spektakuler mungkin bahkan masuk dalam program simple stupid namun terasa sekali ruh sosialnya dan saya tidak merasa kekeringan dalam bekerja.

Itu tadi pengalaman bekerja yang berbeda di masing-masing lembaga yang saya pernah bekerja dompet dhuafa dan saat ini di lembaga tempat saya bekerja PKPU. Lain halnya dengan kondisi masyarakat Purwokerto yang berbeda dengan masyarakat lain yang pernah saya tempati, Magelang, Jakarta, Semarang. Di sini banyak tempat makan tetap buka dan tetap rame. Itu berarti banyak masyarakat yang tidak berpuasa saat bulan Ramadhan. Sungguh pemandangan yang enggak banget buat saya. Namun seperti itulah Purwokerto jauh dari agamis. Kebanyakan masyarakatnya abangan. Dalam KTP nya Islam namun tidak sepenuhnya melaksanakan ajaran Islam seperti puasa wajib Ramadhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Mencari Ilmu.

Sarat diterimanya badah : 1.Ikhlas. 2.Sesuai syariat. dalam qur'an surat Az - zumar ayat 9, Qs Al mujaddalah ayat 11, Qs Thoha ayat 14...